Bila White Shoes and The Couples Company konser di Cikini

Konser di Cikini, begitulah nama konser tunggal grup musik White Shoes and The couples Company, awal Agustus lalu.

Sumber gambar, Dok RURU Corps and WSATCC M Asranur

Keterangan gambar, Konser di Cikini, begitulah nama konser tunggal grup musik White Shoes and The couples Company, awal Agustus lalu.
    • Penulis, Heyder Affan
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Apa yang terjadi ketika sebuah grup musik White Shoes and The Couples Company untuk pertama kalinya menggelar konser tunggal di tempat awal mula kelahirannya?

Hampir 13 tahun tampil di ajang pentas musik nasional dan internasional, White Shoes and The Couples Company, WSATCC, akhirnya menggelar konser tunggal di "rumahnya sendiri" yaitu di Cikini, persisnya di komplek Taman Ismail Marzuki, TIM, Jakarta Pusat, awal Agustus lalu.

Maklum, enam orang personil grup musik ini dulunya adalah mahasiswa Institut Kesenian Jakarta, IKJ, yang kampusnya terletak di dalam komplek TIM.

Dari kampus itu pula, Aprilia Apsari (vokalis), Yusmario Farabi (gitaris akustik), Saleh Husein (gitaris elektrik), John Navid (penabuh drum), Ricky Surya Virgana (bass, cello), serta Apri Mela (piano, viola) mendirikan grup musiknya pada tahun 2002.

Suasana akrab sangat terasa diantara personil White Shoes dengan sekitar 800 penonton yang memadati ruangan tersebut.

Sumber gambar, RURU Corps WSATCC M Asranur

Keterangan gambar, Suasana akrab sangat terasa diantara personil White Shoes dengan sekitar 800 penonton yang memadati ruangan tersebut.

"Kita punya semacam cerita, dari dulu sampai sekarang ada di Cikini. Proses pembuatan lagu pertama dari daerah Cikini. Ternyata tempat itu memang punya cerita sendiri buat kita," kata Yusmario Farabi, gitaris kepada BBC Indonesia, usai konser.

Bisa ditebak, konser tunggal itu akhirnya diberi nama "Konser di Cikini".

"Mengapa kita pakai judul 'Konser di Cikini', karena kita lahir di sini, kita bikin lagu pertama di Cikini, kita tidur di Cikini, dan punya anak di Cikini," kata gitaris Saleh Husein di hadapan penonton.

Celetukan dari kursi penonton

Jadi, apa yang terjadi di dalam gedung Graha Bhakti Budaya, TIM, ketika mereka tampil di rumahnya sendiri?

Suasana akrab sangat terasa diantara personel White Shoes dengan sekitar 800 penonton yang memadati ruangan tersebut.

Dalam rentang sekitar 120 menit, mereka menyanyikan 26 lagu, diantaranya beberapa lagu yang dikenal akrab di telinga penggemarnya, seperti Aksi Kucing, Kisah dari Selatan Jakarta, serta Senandung Maaf.

Enam orang personil WSTACC dulunya adalah mahasiswa Institut Kesenian Jakarta, IKJ, yang kampusnya terletak di dalam komplek TIM.

Sumber gambar, Dok RURU Corps WSATCC Yose Riadi

Keterangan gambar, Enam orang personil WSTACC dulunya adalah mahasiswa Institut Kesenian Jakarta, IKJ, yang kampusnya terletak di dalam komplek TIM.

Di sela-sela itu, Aprilia melantunkan Stephanie Says-nya The Velvet Underground dengan diiringi permainan biola Apri.

John Navid juga diberi kesempatan memainkan kemahiran memainkan drumnya serta penampilan duet Saleh dan Ricky dengan permainan gitar-harpanya.

"Saleh!" "Ricky!" "Boleh juga elo 'Leh!" Begitu celetukan dari kursi penonton, memanggil salah-seorang personilnya. Teriakan setengah ngeledek juga acap terdengar dari kursi penonton. Dan mereka kemudian menjawab spontan: "Hooi..."

Rupanya, sebagian penonton adalah orang-orang dulu mengikuti sejak awal perjalanan mereka, alias teman-teman dekat mereka, selain penggemar fanatiknya.

"Ketika lampu menyala, saya dapat melihat wajah teman-teman saya. Misalnya, yang bikin panggungnya, ngurusin lampu, produksi artistik, itu teman-teman. Muka-muka itu nongol di kepala. Itu yang bikin saya terharu," ungkap Farabi.

Puncaknya, ketika sebagian penonton maju ke depan panggung ketika Aprilia dan kawan-kawan meninggalkan panggung usai membawakan 26 lagu selama sekitar 120 menit, tanda acara telah berakhir.

"More! More! (Lagi, lagi!)" Para penggemar seperti merengek dan tidak mau beranjak pulang. Mereka pun akhirnya tampil kembali di panggung dengan dua lagu pamungkas: Nothing to fear dan Ye Good Ol' days.

Menyerap irama retro

Semenjak merilis album pertamanya sepuluh tahun silam, White Shoes and The Couples Company (selanjutnya disingkat WSATCC) makin dikenal karena konsep musik yang mereka tawarkan.

Semenjak merilis album pertamanya sepuluh tahun silam, White Shoes and The couples Company (selanjutnya disingkat WSATCC) makin dikenal karena konsep musik yang mereka tawarkan.

Sumber gambar, Dok RURU Corps WSATCC Yose Riadi

Keterangan gambar, Semenjak merilis album pertamanya sepuluh tahun silam, White Shoes and The couples Company (selanjutnya disingkat WSATCC) makin dikenal karena konsep musik yang mereka tawarkan.

Para pengamat musik menganggap, mereka memadukan pengalaman keseharian dengan berbagai pengaruh dan pengetahuan dari film serta musik populer Indonesia di masa lalu.

"Band sekarang yang memadukan serpihan-seprihan musik masa lalu dalam visi masa kini," kata mendiang Denny Sakrie, pengamat musik, suatu saat, seperti dikutip dalam buku program konser tunggal ini.

WSTACC dianggap mampu "menciptakan karakter musik yang unik, sensitif dan magnetis yang membuat musiknya memiliki identitas lokal yang kuat.

Sumber gambar, Dok RURU Corps WSATCC M Asranur

Keterangan gambar, WSTACC dianggap mampu "menciptakan karakter musik yang unik, sensitif dan magnetis yang membuat musiknya memiliki identitas lokal yang kuat.

Dalam berbagai kesempatan, kelompok musik ini mengaku menyerap pengaruh irama retro disko, aransemen musik klasik, serta mengambil dari karya-karya komposer ternama Indonesia, seperti Ismail Marzuki, Faris RM, Guruh Sukarno Putra atau Jack Lesmana.

Mereka merilis album pertamanya pada 2005 yang disebut mampu menuai kesuksesan dalam penjualan ataupun apresiasi atas konsep musik yang ditawarkan.

"Album ini... mendapat pujian dari berbagai media lokal dan internasional, hingga dirilis di berbagai negara, dari Amerika Serikat hingga Taiwan," tulis Indra Amang, manajer WSTACC.

WSATCC mengaku menyerap pengaruh irama retro disko, aransemen musik klasik, serta mengambil dari karya-karya komposer ternama Indonesia,

Sumber gambar, Dok RURU Corps WSATCC M Asranur

Keterangan gambar, WSATCC mengaku menyerap pengaruh irama retro disko, aransemen musik klasik, serta mengambil dari karya-karya komposer ternama Indonesia,

Penyelenggara konser ini, yaitu RURU Corps, melalui salah-seorang manajernya, Maya, menyebut WSATCC mampu "menciptakan karakter musik yang unik, sensitif dan magnetis yang membuat musiknya memiliki identitas lokal yang kuat.

RURU Corps, sebuah biro komunikasi visual, didirikan oleh tiga organisasi seni rupa yaitu Ruang Rupa, Forum lenteng dan Serrum.

Konser yang berbeda

Konser tunggal WSATCC kali ini memiliki kekhasan yang tidak terdapat dalam konser-konser mereka sebelumnya.

Diantaranya adalah tata artistik panggung, kehadiran tim orkesta pendukung konser, hingga pameran kartu pos berupa ilustrasi yang inspirasinya diambil dari karya-karya White Shoes.

Tepuk tangan pun bergemuruh dari kursi penonton, ketika Navid memainkan tuts mesin ketik kuno itu seperti yang pertama kali diperkenalkan oleh komposer Leroy Anderson pada tahun 1950.

Sumber gambar, Dok RURU Corps and WSATCC M Asranur

Keterangan gambar, Tepuk tangan pun bergemuruh dari kursi penonton, ketika Navid memainkan tuts mesin ketik kuno itu seperti yang pertama kali diperkenalkan oleh komposer Leroy Anderson pada tahun 1950.

Soal dekorasi panggung, misalnya, konser kali ini menampilkan suasana kota metropolitan dengan kehadiran gambar tugu Selamat datang, gedung-gedung tinggi hingga ikon seperti studio sebuah stasiun radio, tempat cukur rambut serta kafe.

"Selama ini kita simple (sederhana). Pada 2007, kita nembak projection saja. Yang di Bandung, kita pakai tirai saja sama tulisan White Shoes... Kalau ini ide kita bersama," ungkap gitarisnya, Yusmario Farabi.

Kehadiran pencipta beberapa lagu WSATCC, Narpati Awangga di panggung, dan ikut melantunkan sebuah lagu, juga menjadi hiburan bagi penonton.

Di sela-sela pertunjukan, tampil pula penyiar radio Ricky Malau yang seolah-olah menerima permintaan lagu dari pendengar.

Selain menggelar konser, WSATCC dan RURU Corps juga menggelar pameran kartu pos.
Keterangan gambar, Selain menggelar konser, WSATCC dan RURU Corps juga menggelar pameran kartu pos.

"Karena kita selalu pengin kayak gitu ya. Bikin apa lagi ya. Ya, ini memang acara kita. Kita yang mendesain," tambah Yusmario yang akrab dipanggil Rio ini.

Dan akhirnya, yang membedakan dengan pertunjukan White Shoes sebelumnya, konser ini dikejutkan ketika penabuh dram John Navid memainkan mesik kuno dengan diiringi latar musik orkestra.

Tepuk tangan pun bergemuruh dari kursi penonton, ketika Navid memainkan tuts mesin ketik kuno itu seperti yang pertama kali diperkenalkan oleh komposer Leroy Anderson pada tahun 1950.

Di luar panggung, persisnya di teras dalam gedung Graha Bhakti Budaya, TIM, kolaborasi WSATCC dan RURU Corp menggelar pameran kartu pos berupa ilustrasi yang inspirasinya diambil dari karya-karya White Shoes.

"Personilnya 'kan ada yang dari jurusan seni rupa (IKJ), makanya WSATCC jadi beda. Makanya, kita ngembangin programnya jadi enak. Ini bakal seru banget, kalo ada pameran kartu pos," ungkap Maya, salah-seorang manajer RURU Corps.

Sebagian personil WSATCC yang pernah kuliah di jurusan seni rupa IKJ membuat pameran kartu pos ini dapat terselenggara.
Keterangan gambar, Sebagian personil WSATCC yang pernah kuliah di jurusan seni rupa IKJ membuat pameran kartu pos ini dapat terselenggara.