Perusahaan rintisan Asia mulai rambah New York

Ketika orang-orang yang berpengaruh dalam industri busana global sedang berkumpul dan bercengkrama, Josie Tam menjalankan misinya untuk menarik pelanggan.
Ini adalah pekan busana Hong Kong, di mana hampir 20.000 pembeli dan penjual dari 65 negara sedang berada di sini untuk bertukar pendapat mengenai apa yang sedang menjadi tren, apa yang sedang laris dan apa yang tidak.
Bagi Josie Tam, 32 tahun, ini adalah kesempatan sempurna untuk menawarkan aplikasi perangkat lunak yang ia kembangkan bersama perusahaan start-up-nya atau perusahaan rintisan inovatif.
Situs web dan aplikasinya ia beri nama Techpacker dan tujuannya untuk menyederhanakan perancang busana untuk berkomunikasi dengan pabrik yang berada di lokasi yang jauh untuk bekerja sama memproduksi baju hasil rancangan.
“Apakah Anda perancang busana?” Josie Tam bertanya kepada seorang perempuan muda yang melintas di depan gerainya. “Anda bekerja sama dengan pabrik di mana? Lokal atau di luar negeri?”

Sumber gambar, Techpacker
Josie Tam -yang nama Mandarin-nya Tan Huiyi ini- sangat ingin menarik sebanyak mungkin orang untuk memakai aplikasinya.
Demikian yakinnya ia dengan Techpacker (yang juga nama perusahaannya), tahun lalu ia berhenti dari pekerjaannya di bidang informasi teknologi untuk memulai perusahaan rintisan dengan seseorang yang tak ia kenal.
Mitra bisnisnya bernama Saral Kochar, 31 tahun, juga asal Hong Kong.
Mereka bertemu pada acara kumpul-kumpul para pengusaha di bidang teknologi. Dalam acara itu, Kochar bercerita kepada Josie Tam tentang gagasannya mengenai Techpaker.
Berkat pengalamannya bekerja sebagai manajer sumber daya di industri pakaian, Kochar memahami kebutuhan yang belum terpenuhi di bidang itu.
Sedangan pekerjaan Josie Tam sebelumnya lebih banyak berurusan dengan teknologi informasi terkait industri busana, dengan segera ia bisa mengetahui produknya akan berhasil.

Josie Tam berkata, “Saya berpikir, “hei, itu ide bagus!”
Sesudah pembicaraan lebih jauh, dan menyadari bahwa kemampuan mereka saling melengkapi, mereka berdua memutuskan untuk memasuki bisnis ini bersama.
Kochar memiliki pengalaman berurusan dengan industri busana, sementara Josie Tam membawa keterampilan untuk mewujudkannya.
Josie Tam mengakui, awalnya ia “khawatir” tapi sesudah mengecek jejak karier Kochar ia yakin untuk memutuskan berhenti kerja pada pertengahan tahun lalu.
Techpaker sekarang punya 500 orang pelanggan, dan sekalipun aplikasi itu sekarang gratis, versi berbayarnya akan diluncurkan tahun ini.
Didukung oleh hibah sebesar HK$333.000 (sekitar Rp580 juta) dari pemerintah Hong Kong, perusahaan ini akan segera menarik investor.
Meskipun sekarang hanya punya tujuh orang staf, Josie Tam punya rencana pertumbuhan global untuk bisinsnya, di mana ia mulai membuka kantor di New York selain kantor pusat di Hong Kong.
'Memperhatikan saya'

Sumber gambar, Josie Tam
Josie Tam membawa dirinya dengan sangat efektif sehingga tak terasa bahwa tingginya hanya 120cm.
“Saya lahir dengan sejenis 'dwarfism', atau tubuh pendek.
“Sampai sekarang, ibu saya khawatir terhadap saya, apakah saya akan baik-baik saja," kata Tam.
Lahir di kota Guangzhou di Cina selatan, ketika Josie Tam masih bayi, keluarganya pindah ke Hong Kong yang ketika itu masih merupakan koloni Inggris.
Tumbuh di kawasan kumuh yang sekarang menjadi tempat para imigran, Josie berkata hanya dapat mengingat sekali di sekolah ketika ia dirisak akibat tubuhnya yang pendek.
Namun, ia malahan berjaya di sekolah, dan didukung oleh ibunya yang ambisius, seorang “Ibu Macan”, ia selalu sukses di setiap pelajarannya.
Ia akhirnya berhasil meraih gelar di bidang ilmu komputer, dan master di manajemen teknologi informasi.
“Orang tua saya tidak berpendidikan tinggi,” kata Josie. “Mereka besar di Cina. Kala itu, mereka sangat miskin. Mereka hanya sekolah sampai tingkat SD.”
“Maka sesudah datang ke Hong Kong, ibu saya sangat menekankan pada pendidikan, karena hanya itulah jalan menuju kehidupan yang lebih baik.”
Ia menambahkan, “Di Hong Kong, sedikit sekali saya mengalami diskriminasi. Saya sangat beruntung bahwa guru-guru dan banyak orang lain selalu memperhatikan saya.”
'Selalu mencoba'

Aplikasi Techpacker dibuat untuk mempermudah para perancang busana untuk mengirimkan rincian cetak biru rancangan mereka, memuat segala spesifikasi dan ukuran yang rinci kepada pabrik.
Aplikasi itu bertujuan untuk menghilangkan miskomunikasi yang biasanya terjadi pada perangkat lunak lain yang kini digunakan, serta mempersingkat waktu produksi yang dibutuhkan perusahaan pakaian untuk memproduksi sebuah rancangan.
Josi mengatakan, “Ini sebuah kesempatan untuk mengerjakannya dengan cara berbeda, mungkin ini akan mengubah industri busana.”
“Aplikasi ini menyediakan platform bagi perancang dan pabrik untuk bekerja sama.”

Sumber gambar, AP
“Ini memungkinkan para perancang untuk berkomunikasi dengan jelas kepada pihak pabrik, mengenai apa yang mereka inginkan. Maka pihak pabrik bisa memenuhi permintaan para perancang.”
Tujuan utama Josie Tam adalah mengembangkan Techpaker ke industri manufaktur lain, yang ia sangat yakini peluangnya.
“Jika ada sesuatu yang saya peduli, atau saya targetkan, saya akan mencoba segala macam cara untuk mencapainya,” katanya.
“Karena saya sungguh percaya bahwa tak ada yang tak mungkin. Semua cuma masalah waktu dan keinginan belajar.”
“Dulu saya pernah membaca sebuah artikel di majalah Fortune. Di situ dikatakan bahwa orang jenius itu sesungguhnya menggunakan 80% waktunya untuk berlatih, atau terus menerus melakukan hal yang sama.”
“Itulah yang sangat saya percayai – selagi kita terus mencoba, kita akan sukses suatu hari nanti.”











