Penggunaan vaksin malaria di Afrika selangkah lagi

Seorang anak menerima vaksin malaria selama uji coba klinis

Sumber gambar, PATH

Keterangan gambar, Seorang anak menerima vaksin malaria selama uji coba klinis

Vaksin malaria pertama di dunia telah melewati hambatan terakhir sebelum disetujui untuk digunakan di Afrika.

Lembaga obat-obatan Eropa (EMA) memberikan penilaian positif setelah meninjau keamanan dan keefektifan vaksin Mosquirix, yang diproduksi perusahaan GlaxoSmithKline.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan mempertimbangkan tahun ini apakah obat itu bisa direkomendasikan ke anak-anak, yang pada masa uji coba menimbulkan hasil beragam.

Mosquirix, yang juga dikenal sebagai vaksin RTS,S, adalah yang pertama melawan infeksi malaria pada manusia.

Perusahaan GSK tidak mengumumkan harga vaksin itu, namun berjanji tidak akan mengambil untung darinya.

Vaksin itu dirancang khusus untuk melawan infeksi malaria pada anak-anak di Afrika dan bukan untuk digunakan wisatawan.

Perlindungan khususnya terlihat pada anak-anak berusia lima tahun yang menerima tiga dosis vaksin itu.

Sayangnya, suntikan itu ditemukan kurang manjur melindungi anak-anak bayi dari malaria. Hasil uji coba juga menunjukkan anak-anak harus menerima empat dosis penuh suntikan itu untuk melihat hasil maksimal.

Hal ini mendatangkan kebingunan bagi WHO, yang pada Oktober mendatang akan memutuskan apakah vaksin itu bisa digunakan.

Seorang pakar dari Inggris tetap menyarankan penggunaan kelambu untuk melindungi anak-anak dari malaria.

Sumber gambar, SPL

Keterangan gambar, Seorang pakar dari Inggris tetap menyarankan penggunaan kelambu untuk melindungi anak-anak dari malaria.

Pada 2001, kerja sama dilakukan antara GSK dan lembaga PATH Malaria Vaccine Initiative, dengan hibah dari Bill and Melinda Gates Foundation, bertujuan mempercepat perkembangan vaksin malaria.

Profesor Adrian Hill dari Jenner Institute, Oxford, mengatakan dia senang melihat keputusan EMA namun menambahkan vaksin itu bukan “peluru ajaib”.

Dia mengatakan, “Kelambu bekerja lebih efektif dibandingkan vaksin ini. Namun ini adalah perkembangan yang sangat baik. Saya melihatnya sebagai landasan bagi vaksin malaria yang lebih efektif di waktu mendatang.”

Malaria membunuh sekitar 584.000 orang di seluruh dunia, kebanyakan dari mereka anak-anak balita di Afrika sub-Sahara.