Ngabuburit menantang maut di Sukabumi

- Penulis, Ani Mulyani
- Peranan, BBC Indonesia, dari Sukabumi
Lintasan rel kereta api Segog di kampung Lembursawah, Cibadak, Sukabumi digunakan warga untuk ngabuburit atau berkumpul menghabiskan waktu menjelang buka puasa.
Keramaian warga dimanfaatkan para pedagang makanan takjil -pembuka puasa- untuk mengais rejeki.
Baik warga maupun para pedagang, praktis menantang maut karena sewaktu-waktu kereta dapat melintas di rel.


Namun bahaya tersebut tidak dihiraukan warga dan pedagang. Sekitar pukul 16.00, tanpa komando, kerumunan warga dan pedagang akan memadati rel kereta.
Berbagai makanan takjil seperti es cendol bolo-bolo, keripik, bakso, gorengan bahkan petasan dijual di jalur rel kereta ini.
Novan, pedagang es cendol bolo-bolo mengatakan pada hari-hari biasa ia berjualan di pabrik. Keuntungan besar bisa diraupnya ketika Ramadan tiba.



Dia mengaku tidak takut berjualan di rel karena sirene akan datangnya kereta sudah dibunyikan sejak awal ketika kereta masih jauh, jadi ia masih punya waktu memindahkan dagangannya.
Hal senada diungkapkan Wasino, penjual keripik singkong yang sudah berjualan di rel kereta itu selama lima tahun.
“Berjualan di rel lebih enak, leluasa, karena kalau di pinggir rel, sempit,” katanya.

Deni Arisandi, penjaga perlintasan kereta api dari PT Kereta Api Indonesia mengaku kesulitan untuk menghalau warga dan para pedagang takjil. Namun Deni mengatakan tetap waspada dan membunyikan sirene sesuai prosedur.
Warga beralasan tradisi ngabuburit sudah ada sebelum rute kereta api Pangrango jurusan Bogor-Sukabumi diaktifkan kembali pada 2013.









