Ngabuburit menantang maut di Sukabumi

Warga dan pedagang berkumpul setiap sore selama bulan Ramadan sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Keterangan gambar, Warga dan pedagang berkumpul setiap sore selama bulan Ramadan sambil menunggu waktu berbuka puasa.
    • Penulis, Ani Mulyani
    • Peranan, BBC Indonesia, dari Sukabumi

Lintasan rel kereta api Segog di kampung Lembursawah, Cibadak, Sukabumi digunakan warga untuk ngabuburit atau berkumpul menghabiskan waktu menjelang buka puasa.

Keramaian warga dimanfaatkan para pedagang makanan takjil -pembuka puasa- untuk mengais rejeki.

Baik warga maupun para pedagang, praktis menantang maut karena sewaktu-waktu kereta dapat melintas di rel.

Aktivitas ngabuburit warga dilakukan di perlintasan rel kereta api sepanjang 1 kilometer di kampung Lembursawah, Cibadak, Sukabumi.
Keterangan gambar, Aktivitas ngabuburit warga dilakukan di perlintasan rel kereta api sepanjang 1 kilometer di kampung Lembursawah, Cibadak, Sukabumi.
Warga dan pedagang mengaku tidak takut ancaman bahaya kereta yang melintas karena ada bunyi sirene.
Keterangan gambar, Warga dan pedagang mengaku tidak takut ancaman bahaya kereta yang melintas karena ada bunyi sirene.

Namun bahaya tersebut tidak dihiraukan warga dan pedagang. Sekitar pukul 16.00, tanpa komando, kerumunan warga dan pedagang akan memadati rel kereta.

Berbagai makanan takjil seperti es cendol bolo-bolo, keripik, bakso, gorengan bahkan petasan dijual di jalur rel kereta ini.

Novan, pedagang es cendol bolo-bolo mengatakan pada hari-hari biasa ia berjualan di pabrik. Keuntungan besar bisa diraupnya ketika Ramadan tiba.

Berbagai penganan dijual di rel kereta, seperti es cendol bolo-bolo.
Keterangan gambar, Berbagai penganan dijual di rel kereta, seperti es cendol bolo-bolo.
Takjil seperti keripik, bakso, dan gorengan dapat ditemukan dengan mudah di rel kereta tersebut.
Keterangan gambar, Takjil seperti keripik, bakso, dan gorengan dapat ditemukan dengan mudah di rel kereta tersebut.
Kaum remaja, balita, hingga orang tua turut menikmati tradisi ngabuburit di rel kereta api.
Keterangan gambar, Kaum remaja, balita, hingga orang tua turut menikmati tradisi ngabuburit di rel kereta api.

Dia mengaku tidak takut berjualan di rel karena sirene akan datangnya kereta sudah dibunyikan sejak awal ketika kereta masih jauh, jadi ia masih punya waktu memindahkan dagangannya.

Hal senada diungkapkan Wasino, penjual keripik singkong yang sudah berjualan di rel kereta itu selama lima tahun.

“Berjualan di rel lebih enak, leluasa, karena kalau di pinggir rel, sempit,” katanya.

Warga beralasan tradisi ngabuburit sudah biasa dilakukan di rel kereta api jauh sebelum kereta jurusan Bogor-Sukabumi diaktifkan kembali pada 2013 lalu.
Keterangan gambar, Warga beralasan tradisi ngabuburit sudah biasa dilakukan di rel kereta api jauh sebelum kereta jurusan Bogor-Sukabumi diaktifkan kembali pada 2013 lalu.

Deni Arisandi, penjaga perlintasan kereta api dari PT Kereta Api Indonesia mengaku kesulitan untuk menghalau warga dan para pedagang takjil. Namun Deni mengatakan tetap waspada dan membunyikan sirene sesuai prosedur.

Warga beralasan tradisi ngabuburit sudah ada sebelum rute kereta api Pangrango jurusan Bogor-Sukabumi diaktifkan kembali pada 2013.