Beragam potret muram generasi muda Rohingya

Sejak teraniaya di tanah kelahiran di negara bagian Rakhine atau dulu dikenal Arakan, Myanmar, ratusan ribu orang Rohingya melarikan diri ke negara-negara tetangga, seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand. Berikut potret beberapa generasi muda Rohingya sebagaimana dituturkan oleh mereka sendiri kepada wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir.

Shahed Deen, sarjana kimia

Shahed Deen

Sumber gambar, BBC World Service

Keterangan gambar, Shahed Deen bisa berbahasa Inggris karena pernah bekerja untuk LSM-LSM internasional.

“Usia saya 31 tahun tapi orang menyangka umur saya kurang dari itu, ini mungkin karena badan saya kecil.”

“Saya tamatan Universitas Sitwe, jurusan kimia. Di Sitwe (ibu kota negara bagian Rakhine) saya bekerja untuk tiga LSM internasional, pertama ACF, kedua MSF dan Malteser International.”

“Karena saya memberikan informasi tentang apa yang terjadi maka keselamatan jiwa saya terancam dan saya dikejar aparat keamanan yang hendak menangkap saya pada tahun 2012. Maka saya melarikan diri ke Bangladesh.”

“Saya bukan warga negara Bangladesh, saya warga Myanmar dari suku Rohingya Muslim. Untuk mendapatkan paspor Bangladesh dan visa, terpaksa saya menyogok pejabat di sana, kira-kira US$5.000.”

“Lalu saya membeli tiket untuk ke Indonesia melewati Singapura dengan tujuan utama Australia. Bersama banyak orang termasuk perempuan dan anak-anak, kami berangkat dengan kapal. Kapal kami sebenarnya sudah masuk ke perairan Australia tapi rusak sehingga mendarat di Rote dan saya ditahan di Kupang. Sekarang saya terdaftar sebagai pengungsi di UNHCR (Badan Urusan Pengungsi PBB). “

Husna binti MD Hussain, 23, guru bahasa Malaysia

Husna

Sumber gambar, BBC World Service

Keterangan gambar, Husna adalah generasi kedua Rohingya di Malaysia.

“Saya dilahirkan di sini (Malaysia) tapi saya orang Rohingya, sebab ibu bapak saya ialah orang Rohingya. Rohingya ditindas di negara sendiri, tak boleh tinggal dan tak boleh berbuat apa-apa.”

“Kalau tinggal di sini senang, boleh tinggal. Saya masuk sekolah sebab ada tetangga yang membantu. Kalau tak ada yang membantu, orang Rohingya tak boleh sekolah. Saya tamatan SPM (setingkat SMA)

“Kalau bisa, saya ingin menyambung ke universitas untuk belajar keperawatan, namun sampai sekarang tidak dapat pinjaman uang.”

“Sekarang saya mengajar bahasa Malaysia untuk anak-anak Rohingya. Ini sekolah informal sebab mereka tidak boleh bersekolah di lembaga pendidikan pemerintah. Mereka nanti sulit mencari kerja.”

Mohammad Zubair, 20, buruh bangunan

M Zubair

Sumber gambar, BBC World Service

Keterangan gambar, Mohammad Zubair kini tinggal di rumah aman setelah jatuh dari gedung.

“Saya berasal dari Maungdaw, Myanmar. Di sana saya tidak bersekolah. Setelah rusuh, saya lari ke Malaysia dan menjadi buruh bangunan. Malangnya saya jatuh dari gedung dan mengalami patah tulang.”

“Biaya pengobatan dibantu oleh Masyarakat Rohingya di Malaysia (RSM). Saya belum memegang kartu pengungsi, jadi tidak ada keringanan biaya pengobatan.”