Harga beras melonjak, masyarakat gundah

beras
Keterangan gambar, Suasana pasar induk beras Cipinang Jakarta, Kamis (19/03).
    • Penulis, Rizki Washarti
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Harga beras melonjak tajam pada bulan Februari di Indonesia. Meski harga beras kini perlahan mulai menurun, namun harga beras belum stabil sehingga mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Suasana di sebuah warung makan di Jakarta Pusat pada Kamis (19/03) siang sangat ramai.

Arul Wijaya, pemilik warung makan tersebut, kesulitan melayani para pengunjung yang sebagian besar merupakan pekerja.

Namun meski warung makannya ramai pembeli, Arul mengatakan pemasukannya sebulan terakhir ini menurun karena harga beras melambung tinggi.

"Sudah resiko. Bagaimana lagi? Kita harus jaga mutu juga sih, gak mungkin ganti ke beras yang lebih murah karena kualitasnya beda," tutur Arul.

Lain halnya dengan Siti Maryam. Ditemui di Pasar Rumput, Jakarta, ibu rumah tangga ini menjelaskan dia mencari jalan keluar agar pengeluaran rumah tangganya tidak membengkak akibat kenaikan harga beras.

"Biasa beli banyak, 20 kilogram. Sekarang belinya 2 liter, karena saya butuh uangnya untuk nutupin kebutuhan lainnya juga," kata Siti Maryam.

Data yang buruk

Kenaikan harga beras ini menurut Wijayanto Samirin, penasehat ekonomi wakil presiden Jusuf Kalla, disebabkan oleh salah kalkulasi pemerintah saat masa paceklik.

Warteg
Keterangan gambar, Sebagian besar masyarakat Indonesia mengonsumsi nasi.

Hal ini menyebabkan kesalahan distribusi beras.

"Kita tidak ada masalah dengan produksi, tapi lebih kepada masalah distribusi. Ada beberapa daerah yang over supply (terlalu banyak persediaan), ada daerah di mana supply-nya tidak cukup. Yang menjadi concern (kekhawatiran utama) sebenarnya adalah masalah ketersediaan data.

Jadi kualitas data yang kita miliki tentang jumlah produksi, beras itu ada di mana, kapan, itu tidak terlalu bagus. Padahal sebenarnya, kalau kita memiliki data yang bagus, di sini akan panen berapa, di sini butuh berapa, masalah distribusi bisa diantisipasi dengan lebih baik," kata Wijayanto.

Untuk mengantisipasi agar masalah ini tidak terulang kembali, Wijayanto menjelaskan perbaikan pada data dan operasi pasar adalah solusinya.

Operasi pasar

Di pasar induk beras Cipinang Jakarta, Ayong, seorang penjual beras menuturkan kenaikan beras berapa pekan terakhir merupakan yang tertajam sejak tahun 1998. Dia sudah 30 tahun berjualan beras.

Ayong yang memiliki omzet sekitar 25 juta Rupiah per hari merasa beberapa hari terakhir sudah ada perbaikan harga beras karena operasi pasar pemerintah.

Meski demikian, Ayong menjelaskan harga beras belum sepenuhnya stabil.

Adanya beras dari operasi pasar pemerintah juga diakui oleh Sri, seorang penjual beras di Pasar Rumput Jakarta.

Ia menambahkan disalurkannya beras miskin atau raskin juga turut membantu menurunkan harga beras. Namun Sri memiliki pesan buat pemerintah.

"Raskin kalau bisa dikasih yang bagusan. Biar bisa dimakan sama rakyat,'' ucap Sri.

Bagaimana pun masyarakat berharap, harga beras cepat turun dan stabil karena beras merupakan kebutuhan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia.

Anda juga dapat mendengarkan informasi ini dalam program Dunia Bisnis BBC yang disiarkan melalui radio-radio mitra BBC Indonesia, Senin, 23 Maret 2015, mulai pukul 05.00 dan pukul 06.00 WIB.