Gemalto kaitkan peretasan kartu SIM dengan NSA dan GCHQ

Sumber gambar, PA
Produsen kartu SIM Belanda yang terkait peretasan badan pemerintah Amerika Serikat dan Inggris mengatakan keyakinan bahwa mata-mata internet kedua negara yang melancarkan serangan ke sistem komputernya.
Dalam pernyataan lewat email, Gemalto mengatakan sudah melakukan 'penyelidikan menyeluruh' atas dugaan peretasan komputer itu.
Bagaimanapun Gemalto membantah bahwa miliaran kunci enkripsi telepon genggamnya mungkin juga ikut tercuri.
Tapi Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat, NSA, dan Pusat Komunikasi Informasi Inggris, GCHQ, tidak memberikan tanggapan langsung atas tuduhan Gemalto.
Pekan lalu, situs The Intercept -yang menerbitkan bocoran <link type="page"><caption> informasi dari mantan kontraktor NSA, Edward Snowden</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/01/140124_snowden_pengadilan" platform="highweb"/></link>- mengatakan agen mata-mata 'kemungkinan memonitor secara rahasia' transmisi data dan suara setelah meretas komputer Gemalto.

Sumber gambar, EPA
Skala kemungkinan pengawasan atas transmisi data dan suara itu bisa amat besar mengingat Gemalto beroperasi di 85 negara.
"Penyelidikan atas metode instrusi yang digambarkan dalam dokumen dan serangan cangggih yang dideteksi Gemalto pada tahun 2010 dan 2011 dan memberi kami landasan yang masuk akal untuk percaya bahwa operasi oleh NSA dan GCHQ kemungkinan telah terjadi," tulis Gemalto.
Saat itu, tambah Gemalto, mereka tidak mampu mengidentifikasi para pelaku namun kini berpendapat mereka bisa jadi terkait dengan operasai NSA dan GCHQ.
"Intrusi hanya mempengaruhi bagian luar dari jaringan kami, jaringan kantor kami, yang melakukan kontak dengan dunia luar."
Ditegaskan bahwa tidak ada pelanggaran yang ditemukan di bagian sistem yang digunakan untuk mengelola produk-produk lain, termasuk pengamanan enkripsi yang digunakan untuk kartu bank, kartu identifikasi, dan paspor elektronik.










