Arsip Gabriel Garcia Marquez dibeli Universitas Texas

Gabriel Garcia Marquez dan istri, Mercedes Barcha.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Gabriel Garcia Marquez bersama istrinya, Mercedes Barcha.

Universitas Texas di Amerika Serikat membeli semua arsip pribadi dari mendiang penulis Kolombia peraih Nobel, Gabriel Garcia Marquez.

Arsip tersebut, termasuk manuskrip 10 bukunya- dianggap bisa membuka lebih banyak tentang proses kreatif Marquez, yang mendapat julukan sebagai pelopor sastra beraliran realisme magis.

Menteri Kebudayaan Kolombia, Mariana Garces, mengatakan hal tersebut sebagai kehilangan besar bagi Kolombia namun keluarga Marquez mengatakan pemerintah tidak pernah mendekati mereka untuk mendapatkan arsip-arsip tersebut.

<link type="page"><caption> Garcia Marquez, yang meninggal pada usia 87 tahun pada April 2014,</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/04/140417_seni_marquez" platform="highweb"/></link> lahir di Kolombia namun menghabiskan sebagian besar hidupnya di Meksiko.

Dalam pernyataannya, Kementrian Kebudayaan menyebutkan, "Pemerintah menyayangkan naskah-naskah itu tidak di rumahnya di Kolombia namun menghargai keputusan keluarga."

Arsip yang dibeli itu mencakup periode 50 tahun, termasuk surat antara Marquez dengan penulis-penulis lainnya, seperti Graham Greene, Gunter Grass, dan Carlos Fuentes.

Gabriel Garcia Marquez

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Gabriel Garcia Marquez meraih Nobel Kesustraan pada tahun 1982.

Juga bahan-bahan tentang karya politiknya serta hubungan eratnya dengan pemimpin Kuba, Fidel Castro.

Dari 10 manuskrip, salah satunya adalah naskah asli One Hundred Years of Solitude, yang mungkin merupakan novelnya yang paling poluler dan sudah diterjemahkan ke dala berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Semua arsip dan manuskrip akan disimpan di Perpustakaan Universitas Texas, Harry Ransom Center.

"Kami amat senang karena keluarga mempercayakan koleksinya bersama kami dan Ransom Center berada dalam poissi yang baik untuk mendukung komunitas riset global dalam akses atas koleksi ini," kata Direktur Harry Ransom Centre, Steve Enniss kepada BBC.

Dia juga menyambut semua pihak dari seluruh dunia untuk mendapatkan akses atas arsip tersebut.