Hormon cinta pengaruhi seks tikus

Sumber gambar, National Academy Of Sciences
Sekelompok sel saraf yang merespons hormon oxytocin merupakan kunci untuk mengendalikan perilaku seksual pada tikus, demikian temuan para peneliti di Amerika Serikat.
Nathaniel Heintz, salah satu peneliti dari Universitas Rockefeller di New York, AS, mengaku telah bereksperimen dengan ‘memadamkan’ sel saraf tikus betina sehingga tidak lagi responsif terhadap hormon oxytocin atau yang kerap dijuluki <link type="page"><caption> ‘hormon cinta’</caption><url href="www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/03/140313_iptek_anoreksia" platform="highweb"/></link>.
Alhasil, tulis Heintz dalam jurnal ilmiah Cell, tikus betina itu tidak lagi tertarik kepada tikus jantan.
Padahal, saat eksperimen dilakukan, tikus betina tersebut sedang mengalami masa oestrous atau periode ketika hewan lebih aktif secara seksual.
Ketidaktertarikan tikus betina kepada tikus jantan juga terjadi manakala hormon oxytocin ditahan agar tidak mengalir ke sekelompok saraf di bagian depan otak.
Hal itu ditempuh menggunakan semacam zat yang bisa ‘membekukan’ kemampuan sel untuk memancarkan sinyal ke neuron.
“Hasilnya cukup menarik karena sebagian kecil saraf punya efek yang spesifik. Hormon internal diatur dalam berbagai konteks berbeda. Dalam konteks ini, hormon itu bekerja melalui bagian depan otak untuk membantu mengatur perilaku seksual dan sosial tikus betina,” kata Heintz kepada BBC.
Lalu, apakah hal yang sama berlaku pula pada manusia?
Heintz mengatakan pola pada tikus boleh jadi ada juga di spesies-spesies lain, termasuk manusia.
“Jadi, dengan memahami pola yang kita temukan pada tikus, kami dapat mengerti mengapa oxytocin punya imbas yang sama pada manusia,” kata Heintz.
Gareth Leng, profesor eksperimen fisiologi dari Universitas Edinburgh, yang tidak terlibat dengan studi itu, mengatakan penelitian mengenai oxytocin dan kaitannya dengan sel-sel saraf menunjukkan bagaimana oxytocin punya peran dalam interaksi sosial.









