PBB: Pengungsi butuh pengobatan kanker

Pengungsi

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Kasus kanker yang paling sering dijumpai adalah kanker payudara dan kanker kolorektal.

Ada "permintaan yang tinggi" untuk pengobatan kanker dari para pengungsi, ungkap para ahli.

Namun permintaan ini sering sulit untuk dipenuhi.

Penyakit infeksi dan kekurangan gizi selama ini menjadi fokus pekerja kesehatan untuk para pengungsi.

Di jurnal Lancet Oncology, Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-bangsa untuk pengungsi mengatakan kanker merupakan masalah besar yang banyak negara kerap kesulitan untuk menanganinya.

Skema pendanaan yang inovatif dan bahkan pemeriksaan di kamp-kamp pengungsi dapat membantu, katanya.

Sebuah tim yang dipimpin oleh Dr Paul Spiegel mempelajari aplikasi pendanaan yang dibuat oleh Komite Perawatan Exceptional UNHCR (ECC).

Dr Spiegel mengatakan: "Negara-negara di Timur Tengah telah menerima jutaan pengungsi, <link type="page"><caption> pertama dari Irak dan kemudian dari Suriah.</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/04/140406_pengungsi_suriah.shtml" platform="highweb"/></link>

Gelombang pengungsi besar ini membuat sistem kesehatan lebih rumit di berbagai tingkat. Meskipun adan bantuan dari organisasi internasional dan donor untuk mengembangkan layanan kesehatan dan membayar untuk tambahan obat pribadi, bantuan ini belum memadai." jelas Spiegel.

ECC menilai 1.989 aplikasi dari pengungsi di Yordania untuk pengobatan antara 2010 dan 2012.

Sekitar seperempat (511) adalah untuk kanker, dengan kanker payudara dan kanker kolorektal merupakan jenis yang paling umum ditemui.

Sekitar setengah dari kasus-kasus ini sudah disetujui dan didanai.

Aplikasi pendanaan ditolak jika pasien memiliki prognosis yang buruk atau pengobatannya terlalu mahal.

Dana tertinggi yang disetujui dalam kasus-kasus individu adalah US$4.626 pada tahun 2011 (Rp53 juta) dan US$3,501 (Rp40 juta) pada tahun 2012 yang merupakan tahun-tahun dimana analisa dibuat.