Klinik 'penyembuh homoseksual' dituntut

gay, homoseksual

Sumber gambar, AFP

Sejak dibuka dua tahun lalu, klinik Fragrant Language of the Heart di Chongqing, Cina, mengklaim bisa "menyembuhkan" homoseksualitas dengan menggunakan perawatan hipnoterapi dan kejut listrik.

Seorang pria berusia 30 tahun kemudian mencoba proses penyembuhan di klinik tersebut, pada Agustus 2013, setelah dipaksa keluarganya.

Namun, setelah menjalani sesi pertama, dia mengaku mengalami trauma emosional dan menolak kembali lagi ke klinik.

Kini, pengadilan di Beijing mengambil langkah - yang cenderung jarang dilakukan - dengan menerima gugatan pasien atas klinik tersebut.

Sang pasien menuntut Fragrant Language of the Heart karena penipuan iklan. Baidu, mesin pencari populer di Cina juga ikut dituntut, demikian dilaporkan wartawan BBC Celia Hatton di Beijing.

Geng Le, pendiri situs pejuang hak homoseksual Light Blue di Cina mengatakan banyak orang yang terperdaya dengan iklan seperti ini dan dia terkejut dan gembira karena pengadilan menerima kasus ini.

Biaya mahal

"Banyak orang tertipu karena keluarga memaksa mereka untuk ikut terapi, yang akhirnya tidak mengubah apapun setelah mengeluarkan uang banyak," jelas Geng.

"Ini adalah kasus pertama ketika seseorang menggunakan langkah hukum sebagai senjata untuk mempertahankan dirinya."

Homoseksualitas sudah dikeluarkan dari daftar penyakit mental di Cina pada 2001, tetapi masih banyak orang yang homofobia.

Setidaknya 13 buku teks psikologi yang terbit antara 2008 hingga 2011 masih mencantumkan homoseksualitas sebagai penyakit mental.

Bahkan sejumlah rumah sakit juga memberikan obat-obatan psikiatri untuk remaja gay, jelas Geng.

Situs klinik Chongqing menegaskan bahwa homoseksualitas adalah "gangguan mental" yang mungkin berasal dari "trauma masa kecil".

Biaya pengobatan mencapai US$5.000 (sekitar lebih dari Rp50 juta). Pasien diminta untuk menonton pornografi atau hanya membayangkan hubungan seksual sesama jenis sebelum pasien diberi kejutan listrik sehingga "menyebabkan ketakutan bawah sadar".