India tolak kesepakatan perdagangan WTO

Demo WTO
Keterangan gambar, Aksi unjuk rasa menolak peraturan subsidi makanan dalam rancangan pakta WTO

Harapan akan lahirnya pakta perdagangan pada konferensi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pudar, setelah India mengatakan tidak akan mengalah pada aturan mengenai subsidi makanan.

Menteri Perdagangan India, Anand Sharma, tidak memberikan banyak peluang untuk sebuah terobosan.

Jika tercapai, pakta itu bisa memberikan kontribusi hampir US$1 miliar (Rp 11 triliun) pada <link type="page"><caption> perekonomian dunia</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/multimedia/2013/12/131203_galeri_wto.shtml" platform="highweb"/></link>.

India mengatakan rancangan pakta WTO itu bisa membahayakan subsidi biji-bijian domestik untuk memberi makan kaum miskin di India.

"Pertanian adalah mata pencaharian jutaan petani miskin. Kepentingan mereka harus diutamakan," kata Sharma. "Bagi India, ketahanan pangan adalah harga mati."

Wakil perdagangan AS, Michael Froman, meminta anggota <link type="page"><caption> WTO</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2013/12/131203_wto_bali.shtml" platform="highweb"/></link> untuk menjembatani perbedaan demi tercapainya pakta.

"Janganlah kita menutupi keadaan yang sesungguhnya," kata Froman.

"Meninggalkan Bali pekan ini tanpa kesepakatan akan melemahkan WTO sebagai forum negosiasi multilateral," tambahnya.

Analis mengatakan sigkatnya waktu pertemuan di Bali dan posisi para anggota WTO dalam isu-isu kunci, membuat peluang terciptanya kesepakatan nyaris tidak mungkin.