RI diharapkan jangan jadi 'penonton' di APEC

APEC
Keterangan gambar, Sejumlah kesepakatan dicapai dalam KTT APEC yang berlangsung di Bali.

KTT APEC 2013 di Bali berakhir dengan sejumlah kesepakatan sekaligus pengumuman bahwa Cina akan menjadi tuan rumah KTT APEC tahun depan.

Agenda resmi pertemuan 21 pemimpin negara anggota Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik ini adalah membentuk konsensus perdagangan bebas.

Sebagai forum para pemimpin dunia untuk membicarakan berbagai isu, KTT APEC mencakup negara-negara dengan total penduduk tiga miliar orang dan lebih dari separuh ekonomi dunia mulai dari Brunei hingga Cina, Jepang, dan AS.

“Kerja sama yang erat ini akan menghasilkan situasi yang saling menguntungkan, terutama ketika ekonomi dunia masih dalam pemulihan,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato penutupan KTT APEC di Bali, Selasa 8 Oktober.

Namun Direktur Institute of Development and Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, mengatakan meski perdagangan bebas menunjukkan banyak manfaat, Indonesia harus memastikan tidak hanya sekedar menjadi penonton.

Memanfaatkan peluang

“Yang pasti <link type="page"><caption> volume perdagangan internasional</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/10/131008_foxconn.shtml" platform="highweb"/></link> meningkat tajam setelah ada perdagangan bebas di beberapa kawasan seperti Asia Pasifik,” kata Enny.

“Artinya berbagai macam kesepakatan dan lobi perdagangan maupun ekonomi di kawasan memang membuka kesempatan luas untuk negara-negara yang tergabung di dalamnya baik perdagangan, investasi maupun infrastruktur dan sebagainya. Apakah Indonesia hanya akan menjadi penonton atau mendapat manfaat? Itu tergantung dari kesiapan Indonesia sendiri.”

Menurut Enny, jika negara-negara lain mendapat manfaat dari perdagangan bebas maka perdagangan Indonesia justru selalu dalam posisi 'dirugikan'.

“Itu terbukti kita beberapa tahun terakhir selalu menderita defisit dari perdagangan bebas kita. Intinya masalah bukan perdagangan bebasnya tapi bagaimana Indonesia mempersiapkan diri sekaligus bisa mendapatkan peluang dari perdagangan bebas ini,” tambahnya.

Enny mengibaratkan kesiapan memasuki era perdagangan bebas seperti menghadapi pertandingan olahraga yaitu dengan melakukan kompetensi-kompetensi yang bersaing secara ketat agar menghasilkan jagoan-jagoan kelas dunia.

“Untuk perdagangan kita tahu struktur pasar dalam negeri kita banyak yang terkooptasi dan persaingan usaha tidak sehat seperti terjadinya kartel misalnya. Pemain yang ada di kartel adalah juara-juara amatiran, jadi kalau dibuka berarti sudah pertarungan bebas dan kita berhadapan dengan kompetisi global seperti dengan Cina, AS atau negara-negara lain. Jadi daya saing kita kelihatan,” kata Enny.

Produk olahan

Menurut Enny, lemahnya daya saing membuat Indonesia mendapat penetrasi dari produk impo dan bukan cuma di komoditas industri tapi juga di komoditas pertanian.

Ia juga menyayangkan Indonesia -sebagai negara yang mengimpor bahan baku dalam jumlah besar- tidak mengekspor produk olahan industri tadi.

“Malaysia juga impor bahan baku dalam jumlah besar tapi ekspornya jauh lebih besar lagi. Sementara kita impor bahan baku besar tapi ekspor kita hampir tidak ada yang berasal dari komoditas industri. Itu yang harus menjadi catatan pemerintah."

Ia menambahkan dalam menghadapi pasar bebas, Indonesia jangan hanya berpikir bahwa peluang terbuka namun juga bagaimana mempersiapkan dan mengambil kesempatan peluang tersebut.

“Jadi kalau ada peluang tapi kita nggak bisa memanfaatkan peluang atau justru menjadi korban, justru tak akan membawa manfaat buat ekonomi kita. Kita justru akan menyuburkan produksi-produksi barang dari luar negeri yang kita konsumsi setiap hari,” kata Enny.

Cina akan menjadi tuan rumah APEC tahun depan dan sejumlah pertemuan pendahuluan sebelum KTT.