Terpaksa 'bersembunyi di parit'

- Penulis, Rohmatin Bonasir
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Kabar lewat telepon bahwa ada razia terhadap pendatang gelap dan suara banyak mobil secara tiba-tiba sontak membuat Esther dan seluruh anggota keluarga berlari ke arah sebuah parit di kawasan Klang, Malaysia.
Selama hampir satu malam suntuh, Esther, asal negara bagian Chin di Myanmar, bersembunyi di parit di tengah kegelapan.
“Kami mendengar suara banyak orang dan kendaraan. Kami hanya bisa menunggu. Sekitar pukul 02.00 hujan mulai turun jadi operasi berakhir,” kata Esther.
Malam itu ia tidak berani pulang ke rumah kontrakan maka ia dan sanak saudaranya menginap di rumah teman yang baru saja mengontrak rumah.
Tidak hanya Esther, putrinya yang masih kecil, paman dan anggota keluarga lainnya menumpang di sana.
Keluarga-keluarga lain juga turut menumpang pada malam menjelang tahun baru.
“Kami pikir petugas mungkin tidak tahu rumah ini ditempati imigran karena baru saja dikontrak. Jadi malam itu kami kumpul di rumah ini, ada 50 orang,” kata ibu seorang anak ini.
Ketika pagi tiba, Esther kembali ke rumah. Pintu kunci dipotong, pintu terbuka, semua lampu menyala.
“Mereka tidak mengambil uang dan tidak mengambil apapun dari rumah, tapi mereka membiarkan pintu terbuka dan lampu menyala.
Kartu pegangan
Pagi itu juga ia mendapati keponakannya yang berusia 16 tahun sudah tidak ada di rumah yang letaknya tidak jauh dari rumah kontrakan Esther.
“Pada saat itu kakak dan kakak ipar saya bekerja di toko dan tempat itu baru tutup jam 12 malam jadi mereka belum di rumah ketika ada operasi. Keponakan saya ditangkap dan ditahan selama enam bulan,” tuturnya.
Setekah enam tahun berada di Malaysia, kini Esther dan keluarga memegang kartu pengungsi yang dikeluarkan Badan Pengungsi PBB, UNHCR.
Kartu itulah yang menjadi pegangan dan bukti identitas bila ada pemeriksaan sewaktu-waktu.
Tetapi ia berharap tidak harus menggunakan kartu itu selamanya.
“Kami memohon direlokasikan ke Amerika Serikat dan kami sudah dipanggil wawancara tahap demi tahap tetapi prosesnya panjang sekali,” kata Esther yang menjadi asisten guru sekolah komunitas imigran di Klang, sekitar satu jam naik kendaraan dari ibukota Kuala Lumpur.
Ia mungkin harus lebih bersabar sebab, menurut data UNHCR, di Malaysia terdapat 90.185 pengungsi seperti Esther yang menunggu penempatan di negara ketiga.
Jumlah itu belum termasuk 11.650 pencari suaka yang terdaftar dan lebih dari sekitar 1,5 juta tenaga asing ilegal di Malaysia.









