Novel tentang Korea Utara menang Pulitzer

Penghargaan Pulitzer untuk fiksi diraih oleh penulis Adam Johnson untuk novelnya yang berlatar belakang di Korea Utara, The Orphan Master's Son.
Tahun lalu, para juri gagal memilih pemenang kategori fiksi untuk pertama kalinya dalam 35 tahun.
Johnson, yang mengajar penulisan kreatif di Universitas Stanford, melakukan riset untuk bukunya langsung di Korea Utara.
"Saya ingin memberikan gambaran mengenai bagaimana rasanya menjadi orang biasa di Korea Utara," kata Johnson.
"Hukum di sana melarang warga berinteraksi dengan orang asing, jadi satu-satunya cara saya untuk bisa mengenal orang-orang ini adalah melalui imajinasi," tambahnya.
Juri Pulitzer memuji buku Johnson sebagai novel yang ditulis dengan begitu indah hingga membawa pembaca dalam petualangan menjelajah Korea Utara yang totaliter dan ke ruang paling pribadi dalam hati manusia.
Ketidakadilan rasial
Buku-buku lain yang juga dipertimbangkan untuk mendapat penghargaan itu adalah What We Talk About When We Talk About Anne Frank oleh Nathan Englander dan The Snow Child oleh Eowyn Ivey.
Stag's Leap karya Sharon Old meraih penghargaan puisi.
Biografi tentang aristokrat Prancis Alex Dumas karya Tom Reiss, The Black Count: Glory, Revolution, Betrayal, dan Real Count of Monte Cristo memenangi Penghargaan Pulitzer untuk biografi.
Penghargaan untuk non-fiksi umum diberikan kepada Gilbert King untuk Devil in the Grove: Thurgood Marshall, the Groveland Boys and the Dawn of New America, yang membahas ketidakadilan rasial di Florida pada 1949.
The New York Times meraih empat penghargaan termasuk dua untuk pelaporan mengenai Apple dan Wal-Mart di luar negeri, serta satu penghargaan atas investigasi pada kekayaan tersembunyi keluarga pemimpin Cina.
Caroline Shaw, pemain biola dan vokalis berusia 30 tahun, mendapatkan hadiah Penghargaan Pulitzer sebesar US$10.000 untuk musik.









