NASA masih butuh banyak astronot

Sumber gambar, AFP
Sebuah laporan menyebut Badan Angkasa Luar Amerika Serikat, NASA, dianggap tidak memiliki cukup banyak astronot meskipun program pesawat ulang alik sudah berakhir.
Konklusi ini disampaikan Komite Riset Nasional, sebuah organisasi nir laba yang meneliti kebijakan pemerintah AS di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Lembaga ini menyatakan NASA seharusnya tetap memiliki astronot dalam jumlah yang memadai.
Para astronot ini nantinya bisa berguna untuk menjadi staf di Stasiun Angkasa Luar Internasional, ISS, dan dibutuhkan saat penjelajahan angkasa baru dimulai.
Setelah berakhirnya program pesawat ulang alik Juli lalu, para astronot Amerika Serikat harus menggunakan wahana angkasa Rusia, Soyuz, untuk mencapai ISS.
Tidak fleksibel
"Komite menyimpulkan minimnya jumlah astronot yang dimiliki NASA saat ini berpotensi merugikan investasi Amerika yang memiliki sumber daya manusia yang mampu mengendalikan sebuah pesawat angkasa luar," demikian laporan komite.
"Rencana NASA terkait jumlah astronot saat ini tidak memiliki fleksibilitas untuk mengakomodasi tugas-tugas komersial, eksplorasi, dan misi-misi baru," tambah komite.
Komite Riset ini terdiri atas 13 orang pakar termasuk lima orang mantan astronot.
Saat ini, rencana untuk merapat ke ISS ditunda setelah gagalnya peluncuran kargo bulan lalu.
Jika NASA tidak bisa mengirimkan awak baru pada November nanti, maka ISS untuk sementara waktu dipastikan akan kosong.
Tahun ini tercatat NASA hanya memiliki 60 orang astronot setelah banyak astronot pensiun atau berhenti.
Pada dekade yang lalu, NASA pernah memiliki 'pasukan' astronot hingga mencapai 149 orang.









