
Perjalanan Usman Hamid sebagai aktivis HAM bermula dari lingkungan kampus
Nama aktivis HAM Usman Hamid menjadi pembicaraan hangat pertengahan bulan Juni setelah menolak tawaran untuk mengisi kursi pengurus partai politik pemenang pemilu 2009, Partai Demokrat.
Usman Hamid, 34 tahun, mengatakan tawaran itu disampaikan langsung oleh Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum.
Kursi yang ditawarkan sejalan dengan posisinya sebagai seorang aktivis HAM karena Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan, Kontras, ini disodori pos ketua yang membidangi departemen hak asasi manusia di partai yang dimotori Presiden Yudhoyono.
Menurut penuturan Usman, Anas bahkan secara khusus menemui dia di kantornya suatu malam, untuk menjelaskan alasan pihaknya memintanya bergabung ke partainya.
Melalui diskusi yang panjang, Anas juga menjawab segala pertanyaan yang diajukan oleh Usman dan kawan-kawan.
Di sinilah kemudian Usman menghadapi dilema.
Di satu sisi, dia menganggap sosok Anas dan jawaban-jawabannya dalam diskusi sudah memenuhi kriterianya, sementara di sisi lain ada kenyataan lain yang membuatnya ragu-ragu.
"Saya simpulkan bahwa parpol itu sesuatu yang positif, tetapi dalam situasi sekarang, ketika parpol masih didominasi faktor figur, personal, dan bukan program atau ideologi, muncul keraguan-keraguan itu," jelas Usman Hamid kepada BBC Indonesia, saat ditemui di kediamannya di kawasab Cibubur, Kabupaten Bogor.
Nasihat korban kekerasan
Pergulatan yang tidak gampang itu akhirnya harus dilalui oleh Usman.
Dalam rentang waktu yang sempit, lulusan Fakultas Hukum Universitas Trisakti tahun 1999 ini, lantas meminta masukan dari orang-orang yang dia sebut penting untuk dimintai pendapat.

Usman Hamid beraksi dengan kalangan aktivis HAM
"Selain keluarga, saya harus konsultasi dengan teman-teman LSM, mantan pejabat dan sejumlah politisi yang sepaham, serta tentu saja kepada keluarga korban kekerasan yang dihilangkan," ungkap Usman Hamid, yang lahir di Jakarta, 6 Mei 1976 ini.
Dari masukan yang dia terima, tidak semua menyarankan agar dia menolak tawaran itu. Alasannya partai politik dapat menjadi alat strategis untuk memperjuangkan apa yang dilakukan Usman dan kawan-kawannya selama ini.
Pandangan semacam ini juga disadari oleh Usman sejak awal.
"Pertimbangan rasional saya juga menjelaskan bahwa parpol merupakan ruang penting untuk diisi. Dan keadilan, seperti yang diperjuangkan korban kekerasan, juga bisa bisa diperjuangkan dalam ruang parpol," paparnya.
Setelah menerima berbagai usulan, Usman akhirnya harus menentukan sikap.
Kata hati
Dia dia kemudian meletakkan masukan keluarganya dan korban para aktivis kekerasan yang menjadi perhatian utama Kontras selama ini, sebagai prioritas utama.
"Sekarang saya harus konsentrasi kepada keluarga, karena saya sedang menyiapkan kelahiran anak pertama saya," ungkap Usman yang menikah dengan Veronica.
Alasan penting lain yang membuat Usman akhirnya menolak permintaan Partai Demokrat adalah masukan dari keluarga para aktivis yang diculik atau dihilangkan di tahun 1997-1998.
"Mereka ingin agar saya tetap berada di Kontras," ungkap Usman seraya menyebut semua nama-nama korban yang diculik dan sampai sejauh ini belum jelas nasibnya.
"Para keluarga aktivis yang dihilangkan itu juga mengingatkan kembali kenapa saya dan mereka dulu ada di Kontras," tambahnya
Dari penjelasan inilah, dia mengartikan para keluarga korban kekerasan itu memintanya untuk tetap membantu dan memperjuangkan keadilan bagi mereka dan tidak masuk ke dalam sistem kekuasaan.
"Itulah kata hati saya," tegas Usman.
Dan, tawaran menggiurkan duduk sebagai pengurus pusat partai politik elite itu pun akhirnya ditolaknya secara halus. Usman Hamid memilih tetap memperjuangkan nasib para korban kekerasan yang terabaikan.
Diawali penembakan Trisakti
Dalam wawancara dengan BBC Indonesia, Usman Hamid juga menjawab pertanyaan tentang latar belakang dia akhirnya terjun sebagai aktivis hak asasi manusia.
Lelaki yang saat kuliah aktif bermain band ini mengaku tidak pernah merencanakan bergelut di dunia tersebut.
Peristiwa penembakan mahasiswa Universitas Trisakti di bulan Mei 1998, yang membuat perubahan drastis dalam jalan hidupnya.
Waktu itu saya tidak bisa menerima teman-teman yang tewas
Usman Hamid
"Waktu itu saya tidak bisa menerima teman-teman yang tewas. Banyak darah di kampus, lalu saya bertemu orang-orang tua (dari mahasiswa yang tertembak)," kata Usman dengan suara tersendat.
Dengan mata berkaca-kaca, Usman kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Ada orang tua yang kehilangan anak satu-satunya. Anak yang jadi tumpuan keluarga itu tewas. Saya 'nggak mungkin menerima kondisi seperti ini'," katanya pelan.
Tekad seperti itu membawa Usman bertemu dengan orang-orang yang menggeluti masalah hak asasi manusia. Di sinilah dia kemudian bertemu mendiang Munir, yang saat itu baru saja mendirikan lembaga Kontras, yang secara khusus menangani kasus penculikan.
"Saya coba lakukan yang saya bisa lakukan, sampai bertemu Munir, yang ternyata punya kepedulian yang sama," ungkapnya.
Meditasi dan teror
Seperti yang dialami almarhum Munir saat memimpin Kontras, Usman yang menggantikan posisi mendiang juga pernah dihadapkan situasi yang sulit, seperti teror atau intimidasi.

Usman Hamid menuturkan visinya kepada wartawan BBC Heyder Affan
Ini kerap terjadi terutama saat menggalang kampanye mendukung pengungkapan kasus pembunuhan Munir.
Dihadapkan antara lain situasi seperti itu, Usman mengaku terkadang mengalami situasi yang digambarkannya seperti "kehabisan energi dan tenaga, dan mengalami jalan buntu."
Tekanan mental dan psikologis seperti itu membuatnya acap mengalami sakit kepala akut ("hampir setiap minggu," ungkapnya), yang membuatnya harus banyak berobat ke rumah sakit.
Problem fisik seperti ini sedikit terkurangi setelah seorang aktivis HAM asal Birma memberikan 'pengobatan alternatif' kepadanya.
"Dia seorang aktivis senior yang tinggal di Kanada, yang merupakan aktivis yang banyak menggeluti aktivitas mendampingi para tapol di Birma," kisahnya.
Tetapi seperti apa dampak dari meditasi itu?
"Meditasi itu ternyata banyak membantu saya untuk menemukan ketenteraman batin, menemukan keseimbangan dalam melihat realitas yang seringkali jauh dari yang kita inginkan," papar Usman dengan mimik serius.
Hubungi kami
* Kolom harus diisi
Kini, setelah terjun lebih dari 10 tahun pada aktivitas perlindungan dan penegakan hak asasi manusia, Usman Hamid mengaku menemukan apa yang dia sebut sebagai "ketentraman batin di tengah penantian harapan-harapan yang selama ini dia perjuangkan."


