Cerita perempuan Indonesia yang dulu pustakawan sekarang 'game developer'

Riris Marpaung

Sumber gambar, Riris Marpaung

Keterangan gambar, Riris mengaku tidak pernah bercita-cita untuk menjadi game developer, tapi kemudian ia jatuh cinta pada game.
    • Penulis, Pijar Anugerah
    • Peranan, BBC News Indonesia
  • Waktu membaca: 8 menit

Riris Marpaung sudah dua dekade bekerja sebagai pustakawan ketika ia memutuskan untuk banting setir menjadi pengembang gim (game developer) di usia 40 tahun.

Sejak membuat keputusan itu pada 2013, Riris telah mendirikan studio gim dan menghasilkan sejumlah gim komputer yang laris manis di pasar mancanegara.

Beberapa game-nya pernah menjadi viral dan mendapat pengakuan internasional.

Semua itu ia lakukan tanpa keterampilan coding atau programming.

"Itu bukan sesuatu yang saya cari. Saya sudah nyaman sebagai kepala perpustakaan di kampus, sesuatu yang memang background saya. Tapi ada tantangan nih," kata perempuan yang sekarang berusia 49 tahun itu.

Cerita Riris adalah kisah tentang seorang CEO perempuan yang sukses di industri yang masih berkembang di Indonesia.

Hanya dua dolar di tahun pertama

Lulus dari jurusan ilmu perpustakaan Universitas Indonesia pada 1998, Riris menjalani sebagian besar masa dewasanya di perpustakaan.

Pada awal 2010-an, Riris bekerja sebagai kepala perpustakaan di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Banten, dan mendapat penghargaan Pustakawan Berprestasi Terbaik Nasional.

Di kampus tersebut, ia bertemu dengan Dodick Sudirman, seorang dosen IT yang bercita-cita membuat studio gim.

Mereka sering bekerja sama dalam menyelenggarakan acara-acara di kampus, termasuk acara game developers gathering yang merupakan ajang berkumpul para pengembang gim di Indonesia.

Pertemuan dengan Dodick menjadi awal Riris terjun ke dunia gim. Pada 2013, Dodick mengajak Riris untuk mendirikan studio gim yang disebut Gambreng Games.

Riris mengaku heran dengan ajakan tersebut. Selain bermain game-game Play Station seperti Tomb Raider dan Mortal Kombat di masa kuliah, perempuan kelahiran Tangerang itu tidak tahu apa-apa tentang gim.

"Dodick waktu itu bilang 'Gue percaya, karena yang gue butuhin adalah orang yang memimpin, membuat rencana, manajemen'. Ya sudah, akhirnya saya coba deh," kata Riris ketika ditemui di studionya di Serpong, Tangerang Selatan.

Riris Marpaung

Sumber gambar, Riris Marpaung

Keterangan gambar, Riris (kedua dari kanan) ketika Gambreng Games mendapatkan penghargaan untuk game mobile Prototype.

Riris dan Dodick kemudian urunan untuk menyewa kantor dan membeli fasilitas kerja. Masih bekerja di UMN, mereka mengajak beberapa mahasiswa untuk menjadi karyawan.

Sebagai orang awam, Riris segera mengambil 'kursus kilat' tentang desain gim dengan belajar dari buku-buku dan video-video tutorial di YouTube. "Selebihnya ya trial and error," ujarnya kepada BBC News Indonesia.

Proyek pertama Gambreng Studios adalah membuat game mobile, yang populer seiring adopsi smartphone mulai meluas di Indonesia pada awal 2010-an.

Salah satu game pertama mereka adalah Prototype, tentang seorang ahli kimia yang berusaha mengambil formula rahasia setelah dipecat oleh perusahaannya.

Game tersebut mendapat penghargaan sebagai gim terbaik di smartphone/tablet untuk kategori amatir di Game Developer Awards pada Indonesia Game Show 2013.

Namun, ia tidak begitu sukses di pasaran.

"Setahun pertama saya usaha di gim, penghasilannya hanya dua dolar," kenang Riris.

Membuat game sukses

Pengalaman pahit itu tidak lantas membuatnya menyerah. Riris dan rekan menjaga studionya tetap buka dengan menawarkan pembuatan gim ke perusahaan dan organisasi untuk keperluan tertentu, misalnya promosi - istilahnya game for service.

Dari situ, mereka mulai mendapatkan penghasilan. Namun, Riris dan rekan merasa masih belum puas.

"Kami berpikir nggak mau bikin game ke orang, kami ingin bikin game yang dimainkan orang," kata Riris.

Pada 2015, Riris dan rekan mulai merencanakan untuk membuat gim untuk Personal Computer (PC). Mereka menggandeng TOGE Productions, salah satu studio pengembang dan penerbit gim perintis di Indonesia.

Game tersebut diberi judul My Lovely Daughter, tentang seorang ayah yang putrinya mengalami koma dan harus membesarkan manusia buatan yang disebut homunculus demi menyelamatkan jiwa sang anak.

Ini adalah gim simulator bertema horor yang mengeksplorasi tema-tema dewasa; khususnya, bagaimana orang tua menekan anak-anak untuk menjadi sosok yang mereka inginkan - terlepas dari keinginan si anak itu sendiri.

Baca juga:

Di tengah proses pembuatan gim itu ada banyak duka, kata Riris. "Waktu itu uang sudah mau habis, sementara game belum launching. Saya harus berusaha bagaimana anak-anak [karyawan] saya bisa saya gaji, saya tetap bisa makan," ujarnya.

Untuk mencari duit cepat, perusahaannya, yang pada 2016 berganti nama menjadi GameChanger Studio, membuat game kecil-kecilan berjudul NSFW (Not a Simulator for Working).

Game tersebut dijual di lapak gim Steam dengan harga US$5 (sekitar Rp76.000). Meskipun memiliki gaya gambar piksel dan gameplay yang sederhana, NSFW mengusung konsep yang menarik dan berani.

NSFW

Sumber gambar, GameChanger Studio/YouTube

Keterangan gambar, Di game NSFW (Not a Simulator for Working), Anda berusaha untuk tidak bekerja dan jangan sampai ketahuan kolega Anda.

Dalam gim tersebut, pemain berperan sebagai karyawan yang bekerja di perusahaan yang dibenci dan berusaha untuk tidak bekerja kapan saja bisa dan jangan sampai ketahuan - salah satunya, dengan menonton film dewasa.

Game yang oleh salah satu pengulasnya disebut "so stupid its brilliant" ini sempat menjadi viral dan dimainkan oleh beberapa pemengaruh gim ternama seperti Markiplier, CinnnamontoastKen, dan Matt Shea.

"NSFW itu cerita betapa perjuangan game developer kecil Indonesia yang timnya kecil, funding-nya (pendanaan) dari duit sendiri ... Sehingga akhirnya kita bisa survive," kata Riris.

MLD akhirnya diluncurkan pada 2018 dan mendapat sambutan hangat dari para penggemar game indie. Sejak itu, game tersebut telah diunduh ribuan pemain dan mendapat ulasan "mostly positive" dari para pelanggan Steam.

Kesederhanaan gameplay MLD dikompensasi dengan konten emosi. Seperti dikatakan salah satu pengulas, gim tersebut "hanya butuh beberapa jam untuk tamat, namun akan menghantui Anda untuk waktu yang sangat lama".

Riris mengatakan penghasilan dari MLD dalam sebulan setara dengan satu mobil Alphard.

"Hitung-hitung saja sendiri berapa," katanya sambil tersenyum.

Kesuksesan MLD mendorong Riris dan kawan-kawan untuk membuat sekuelnya, My Lovely Wife (MLW), yang dirilis pada Juni 2022. Seri gim ini akan menjadi trilogi, dan saat ini GameChanger Studio sedang membuat yang ketiga, My Lovely Empress.

Seiring pembuatan trilogi My Lovely Riris semakin terlibat dalam proses pengembangan game, tidak hanya di manajemen. Di gim ketiga ini, ia mulai berperan aktif dalam desain game - peran yang mirip dengan sutradara dalam film.

Semua seri My Lovelybertema gelap dan ceritanya berpusat pada karakter perempuan - meskipun karakter utamanya dengan laki-laki. MLW, misalnya memuat pesan tentang hubungan toksik - bagaimana perempuan bisa terperangkap dengan pasangan yang kasar dan manipulatif.

Namun, menurut Riris, hal itu tidak ada kaitannya dengan feminisme tapi lebih merupakan bentuk representasi.

"Itu lebih pada penyesuaian dengan desain game, cerita, dan pesannya," ujarnya.

Berganti karier di usia 40 tahun

Riris mengatakan untuk bisa sukses di industri gim, tidak hanya perlu kemampuan teknis tetapi juga kemampuan analisis pasar dan komunikasi bisnis.

"Ada enggak orang yang mau beli game ini, berapa jumlahnya? Terus kalau saya modalnya segini, untungnya berapa? Itu kemampuan Anda menganalisis pasar, membaca data," ujarnya.

Riris Marpaung quotes

"Belum lagi urusan dengan orang luar, sama publisher. Kita juga harus punya skill komunikasi bisnis yang baik ketika berhadapan dengan orang-orang yang mau ber-partner."

Selain itu, sambung Riris, hal yang tak kalah penting ialah komitmen untuk berkarier di industri gim.

"Jangan takut, harus punya keberanian yang nggak tanggung-tanggung. Tapi tentu saja keberanian itu sudah diikuti dengan analisis pasar, riset, hubungan yang bagus dengan pelaku bisnis global," kata Riris.

Namun demikian, langkah Riris terjun ke dunia gim pada usia yang tidak muda juga tidak mudah.

Riris Marpaung

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Awalnya tidak tahu apa-apa soal game, Riris kini terlibat aktif dalam mendesain game-game yang dibuat studionya.

Ia mengaku tantangan terbesarnya ketika memulai pada 2013 ialah kebingungan. Waktu itu, belum banyak studio game developer seperti sekarang. Kebanyakan perusahaan-perusahaan perintis (start-up) bergerak di bidang perdagangan alias e-commerce.

"Saya nggak tahu apa yang harus saya lakukan, dan saya enggak tahu siapa yang seharusnya saya tanya, siapa yang seharusnya saya hubungi. Kursus game enggak ada, bantuan dari pemerintah enggak ada, talenta-talenta pekerja enggak ada.

"Sementara diri sendiri bodohnya luar biasa, terus juga mau ke teman-teman developer belum sekompak sekarang. Jadi di awal modalnya internet saja," Riris menceritakan.

Baca juga:

Sementara itu, tantangan juga datang dari kehidupan pribadinya. Karena harus menjalani dua pekerjaan - pagi pustakawan, sore game developer - pada awal kariernya di industri gim, Riris mengatakan rumah tangganya sempat terganggu.

"Itu memang salah saya, kenapa saya kerja melulu, nggak memperhatikan suami saya," ujarnya.

Stigma seputar gim - bahwa game bikin ketagihan, mengajarkan kekerasan, dan sebagainya - juga membuat orang tua dan suami Riris sempat meragukan pilihan karier yang dibuatnya.

Namun, seiring waktu, orang-orang di sekitar Riris akhirnya mengerti pilihannya. Tidak memiliki anak sendiri, ia dan suaminya sekarang memperlakukan para karyawan di GameChanger Studio sebagai anak-anak mereka.

Riris Marpaung

Sumber gambar, Riris Marpaung

Keterangan gambar, Riris menganggap para karyawannya seperti anak-anaknya sendiri.

Riris mengatakan, ia akhirnya memutuskan untuk mendedikasikan dirinya di industri gim karena jatuh cinta dengan pekerjaan game developer.

"Game itu adalah sebuah dunia fantasi yang kamu enggak bisa dapetin di dunia nyata.

"Menurut saya, bidang ini super duper menarik, super duper kompleks, super duper unlimited option, super duper unlimited experiment, super duper unlimited opportunities," ungkapnya.

Menjadi CEO perempuan di industri yang didominasi laki-laki

Riris adalah satu dari sedikit CEO perempuan di industri game yang masih didominasi oleh laki-laki.

"CEO perempuan studio game di Indonesia cukup banyak," kara Riris. "Tapi memang CEO laki-laki masih lebih banyak."

Namun demikian, menurut Riris, perempuan di industri gim tidak perlu merasa minder atau menjadi minoritas.

Ia mengakui bahwa kemampuan fisik perempuan tidak selalu bisa menandingi laki-laki, tetapi dalam hal berpikir dan merencanakan tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

"CEO perempuan juga punya kemampuan, pengetahuan, keterampilan yang sama... mau dia punya kemampuan teknis, ataupun tidak seperti saya, itu tidak penting," kata Riris.

Dalam beberapa tahun terakhir, industri game di luar negeri kerap dikritik atas praktik diskriminasi dan kasus-kasus seksisme. Namun, Riris mengaku belum menemukan kasus seperti itu di Indonesia.

Riris Marpaung quotes

"Nggak ada di industri game kita merasa dikucilkan, dikesampingkan, enggak kok. Kita mendapatkan respek yang baik, support yang baik, hubungan yang baik di antara sesama leader maupun teman-teman di industri game," ungkapnya.

Meski begitu, ia memaklumi bila tidak banyak perempuan tertarik untuk bekerja di industri gim karena jam kerja yang panjang dan iklim usaha yang keras.

Riris punya pesan kepada para perempuan yang ingin sukses di industri ini: "Love yourself first - sediakan waktu untuk diri sendiri."

Riris Marpaung

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Riris mengatakan perempuan bisa bertahan di industri game yang keras "asalkan sungguh-sungguh, komitmen, jangan mudah menyerah".

Riris aktif di komunitas Women in Game Indonesia dan sebagai anggota Dewan Penasihat di Asosiasi Game Indonesia (AGI), ia ingin menyoroti perempuan-perempuan yang berkecimpung di industri game dari berbagai profesi - dari CEO, programmer, pengarah gaya, sampai pengisi suara.

Seberapa besar permintaan untuk game developer di Indonesia?

Menurut analis pasar Statista, masyarakat Indonesia menghabiskan hampir US$2 miliar setahun (Rp30 triliun) untuk bermain gim. Namun, banyak duit tersebut lari ke game-game buatan mancanegara, terutama China.

Presiden Asosiasi Game Indonesia, Cipto Adiguno, mengatakan banyak game developer Indonesia malah menemukan kesuksesan dengan jualan gim Personal Computer (PC) dan konsol untuk pasar internasional — misalnya DreadOut karya studio gim yang berbasis di Bandung Digital Happiness, Coffee Talk dari Toge Productions di Tangerang, dan A Space for The Unbound dari Mojiken di Surabaya.

Salah satu alasan mereka tidak menarget pasar lokal ialah kebanyakan orang Indonesia bermain gim di ponsel pintar alias smartphone - lebih dari 80%, menurut survei yang diterbitkan Kominfo pada 2022. Sedangkan persaingan di pasar game mobile sangat ketat.

"Secara umum, dua per tiga dari seluruh duit di mobile game lari ke 100 game paling laku. Sisanya, ribuan, berantem buat sepertiganya," kata Cipto.

data kominfo

Sumber gambar, Kominfo

Keterangan gambar, Hasil survei yang diterbitkan Kominfo pada 2022 menunjukkan lebih dari 80% pemain game di Indonesia bermain di smartphone.

Satu laporan analisis pasar menemukan pasar gim video global bernilai US $195,65 miliar pada 2021 dan diperkirakan meningkat 12,9% setiap tahun dari 2022 hingga 2030.

Seiring pertumbuhan itu, beberapa universitas di Indonesia mulai menawarkan jurusan-jurusan yang berkaitan dengan gim. Di Binus ada program S1 Game Application and Technology sementara di ITB dan ITS ada S2 Teknologi Game.

Meski demikian, penyerapan talenta ke industri gim di Indonesia masih belum begitu besar, menurut Cipto.

Baca juga:

Cipto mengibaratkan persoalan ini seperti menjawab pertanyaan mana yang duluan, telur atau ayam.

"Kita butuh talenta bagus untuk bikin gim yang bagus. Tapi kita juga butuh gim yang bagus untuk sukses, karena kalau enggak sukses kita enggak bisa menyerap banyak talenta," ujarnya.

Cipto

Sumber gambar, Cipto Adiguno

Keterangan gambar, Presiden Asosiasi Game Indonesia (AGI) Cipto Adiguno mengatakan industri game di Indonesia masih kesulitan mencari talenta.

Cipto menjelaskan, saat ini sudah ada beberapa game lokal yang sukses, namun kesuksesan itu belum cukup untuk mendorong universitas atau institusi pendidikan untuk menghasilkan talenta yang luar biasa bagus.

"Misalnya investasi untuk menarik pengajar atau sertifikasi di luar negeri yang benar-benar global standards itu masih belum sepadan," ungkapnya.

Untuk bisa keluar dari situasi ini, menurut Cipto, Indonesia bisa meniru strategi Polandia. Negara di Eropa tengah itu punya studio gim bernama C.D. Projekt Red yang menjadi terkenal berkat seri video game The Witcher. Kesuksesan game tersebut membuat industri gim dalam negeri di Polandia tumbuh.

"Pemerintah mendukung industri swasta lokal biar bisa sukses. Ketika sukses, tumbuh industrinya," kata Cipto.