Harga Pertamax naik: Pertalite diburu, imbas daya beli masyarakat makin tertekan - ‘Semua harga naik berbarengan, sudah susah jadi makin susah'

Sumber gambar, ANTARA FOTO
Ekonom dari Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto menilai kenaikan harga Pertamax semakin memberatkan masyarakat, di tengah daya beli yang telah tertekan akibat kenaikan harga bahan pokok hingga pajak pertambahan nilai (PPn) yang terjadi berbarengan.
Kenaikan harga Pertamax berlaku mulai Jumat (01/04) dari Rp9.000-Rp9.400 per liter menjadi Rp12.500 hingga Rp13.000 per liter.
Di media sosial, sejumlah warganet mengeluhkan kenaikan tersebut. Beberapa di antaranya berencana beralih menggunakan Pertalite mengingat harganya disubsidi, sehingga tetap pada Rp7.650 per liter.
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati X pesan, 1
Sementara itu, sejumlah pengguna media sosial lainnya mengaku mulai kesulitan mencari Pertalite di sejumlah SPBU sejak harga Pertamax diberitakan naik.
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati X pesan, 2
INDEF mengatakan meski harga Pertalite stagnan karena disubsidi oleh pemerintah, namun implikasi dari kenaikan harga Pertamax akan tetap terasa.
Eko memprediksi kenaikan harga Pertamax akan menyebabkan sebagian masyarakat beralih menggunakan Pertalite yang selisih harganya berkisar Rp3.500-Rp3.600 per liter.
Eko mengatakan "tidak semua masyarakat mampu menanggung selisih harga tersebut" di tengah kenaikan harga bahan pokok, juga kenaikan PPn yang berimbas pada harga token listrik hingga pulsa.
"Akhirnya perburuan terhadap Pertalite dimana-mana, kalau itu langka mau enggak mau kan masyarakat tetap konsumsi Pertamax juga. Implikasinya tentu daya beli masyarakat yang makin tertekan," kata Eko kepada BBC News Indonesia.
Baca juga:
Di sisi lain, pejabat sementara Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting mengatakan kenaikan harga Pertamax "tidak terhindarkan" karena kenaikan harga minyak dunia.
Kenaikan harga saat ini pun, kata Irto masih mempertimbangkan daya beli masyarakat dan sebetulnya masih di bawah harga sebenarnya yang seharusnya bisa mencapai Rp16.000.
'Kalau Pertalite jadi langka, kami yang kena imbasnya'

Sumber gambar, ANTARA FOTO
Seorang pengguna ojek online bernama Taufik, 45, mengaku harus mengantre selama 20 menit pada Jumat (01/04) ketika hendak membeli Pertalite di salah satu SPBU di wilayah Jakarta Barat. Sementara itu, tidak ada antrean pembelian Pertamax.
Taufik mengandalkan Pertalite untuk beroperasi sebagai pengemudi ojek karena harganya yang lebih murah. Biasanya, Taufik tak pernah sampai harus mengantre untuk mendapatkan Pertalite.
"Kalau orang-orang pindah ke Pertalite terus jadi langka, kami yang kena imbasnya. Mana mungkin kami bisa pakai Pertamax, enggak nutup (modal)," kata Taufik ketika ditemui BBC News Indonesia.
"Ngantre seperti tadi juga sudah menyusahkan karena waktu kami terbuang, apalagi pas lagi ada order (pesanan), enggak semua pelanggan mau nunggu," lanjut dia.
Sementara itu, pengemudi ojek online lainnya bernama Masta Wijaya, 43, mengatakan biasanya dia akan mengisi bahan bakar motornya dengan Pertamax setidaknya satu kali dalam sepekan "demi menjaga kualitas mesin motor".
Sedangkan di hari lainnya, Masta biasanya menggunakan Pertalite yang harganya lebih ekonomis.
Kenaikan harga ini membuat Masta berpikir ulang untuk masih menggunakan Pertamax, meski hanya satu kali dalam sepekan. Apalagi kenaikannya berbarengan dengan kenaikan harga bahan pangan dan PPn yang bagi dia sudah cukup memberatkan.
"Kemarin minyak goreng naik, sekarang pajak sama Pertamax juga naik. Semuanya naik berbarengan, sudah susah jadi makin susah. Mau enggak mau saya harus kerja lebih keras, narik dari pagi sampai malam," tutur Masta.
Saat ini, Masta bahkan sampai harus bekerja mencari pelanggan ojek online dari empat aplikasi sekaligus demi mencukupi kebutuhan keluarganya.
Sementara itu, seorang warga di Bekasi, Ika Defianti, 30, mengatakan akan tetap menggunakan Pertamax meski harganya naik. Tetapi, Ika mengatakan hal itu tentu akan menguras pos anggarannya yang semestinya bisa digunakan untuk kebutuhan lain.
"Mau gimana lagi, sudah kebiasaan pakai Pertamax karena lebih bagus juga buat mesin."
"Uang jajan sudah pasti berkurang karena ini, kalau biasanya isi Pertamax full itu Rp30 ribu, sekarang bisa sampai Rp40 ribu. Paling siasatnya akan lebih banyak pakai transportasi publik," kata Ika.
Apa yang menyebabkan harga Pertamax naik?
PT Pertamina Patra Niaga mengatakan kenaikan Pertamax dipicu oleh harga minyak dunia yang melambung, sehingga mendorong harga minyak mentah Indonesia pun mencapai mencapai US$114,55 (Rp1,64 juta) per barel pada 24 Maret 2022.
Kondisi itu dapat menekan keuangan Pertamina, sehingga penyesuaian harga BBM non-subsidi tidak terelakkan. Konsumsi Pertamax sendiri hanya berkisar 14%, jauh lebih kecil apabila dibandingkan konsumsi BBM bersubsidi yang mencapai 83%.
Irto mengatakan kenaikan harga Pertamax yang ditetapkan saat ini pun masih lebih rendah dibandingkan harga seharusnya yang bisa mencapai Rp16.000 per liter.
"Pertamina mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga Pertamax ini tetap lebih kompetitif di pasar atau dibandingkan harga BBM sejenis dari operator SPBU lainnya. Ini pun baru dilakukan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir sejak 2019," jelas Irto melalui pesan tertulis.

Terkait keluhan masyarakat mengenai kelangkaan Pertalite, Irto mengklaim hal itu hanya terjadi di beberapa SPBU.
"Memang ini sedang kita monitor. Secara stok Pertalite kita aman dan kita salurkan ke SPBU sesuai kebutuhan," kata dia.
Kemampuan belanja masyarakat menurun

Sumber gambar, ANTARA FOTO
Ekonom INDEF, Eko Listyanto mengatakan kenaikan harga Pertamax "cukup vital" karena momentumnya berbarengan dengan kenaikan harga pangan dan PPn.
Situasi ini yang dianggap cukup memukul masyarakat, meski pengguna Pertamax biasanya merupakan kalangan menengah.
Oleh sebab itu, Eko meminta Pertamina mengantisipasi efek domino yang ditimbulkan dari kenaikan harga Pertamax, yakni langkanya Pertalite.
Apabila kelangkaan Pertalite tidak bisa dicegah, maka dampak ekonominya bagi masyarakat kelas menengah ke bawah akan semakin terasa.
"Yang mengkonsumsi ini kan banyak juga kelas menengah yang rentan turun kelas ke bawah, jadi mungkin akan banyak shifting terjadi. Pertamina harus memastikan stoknya tersedia, supaya tidak ada demo-demo, meskipun ini hanya satu aspek energi tapi ini vital," jelas Eko.
Di sisi lain, Eko memahami bahwa kenaikan harga Pertamax tidak bisa dihindari, apalagi menjelang mudik Lebaran di mana mobilitas masyarakat meningkat dan pasokan bahan bakar harus tetap terjaga.
Ketersediaan pasokan BBM justru terancam terkendala apabila penyesuaian harga tidak segera dilakukan.
Namun dia menyayangkan pemerintah tidak menunda kebijakan lainnya, seperti kenaikan PPn, di tengah situasi yang memberatkan masyarakat ini.
"Setidaknya PPn ditunda karena itu yang bisa sepenuhnya dikendalikan oleh pemerintah. Tidak ada mafia, tidak ada faktor global seperti pada harga minyak, hanya setoran pajak yang kurang," ujar dia.
"Kalau PPn tetap naik memang APBN akan bertambah, tapi di sisi lain kemampuan belanja masyarakat berkurang karena banyak harga yang naik. Ini jadi saling meniadakan. Dengan semua kenaikan ini masyarakat tidak akan jor-joran belanja," kata Eko.









