Tablet Mimpi Gilgamesh: Artefak berusia 3.500 tahun yang sempat dijarah akhirnya dipamerkan untuk publik

Tablet Mimpi Gilgamesh

Sumber gambar, US Immigration and Customs Enforcement

Keterangan gambar, Pihak berwenang Amerika Serikat mengatakan artefak kuno itu diimpor secara ilegal ke AS

Tablet Mimpi Gilgamesh yang berusia 3.500 tahun dipamerkan kepada publik di Irak untuk pertama kalinya dalam tiga dekade terakhir.

Artefak tanah liat ini memuat bagian dari epos Gilgames, salah satu karya sastra tertua yang masih bertahan.

Tablet ini dijarah dari museum Irak pada Perang Teluk tahun 1991. Benda bersejarah ini kemudian diselundupkan melalui banyak negara sebelum berakhir di Museum Alkitab, Washington DC, Amerika Serikat.

Otoritas AS menyita tablet itu pada tahun 2019, lalu menyerahkannya ke Kedutaan Besar Irak, September lalu.

Ini adalah salah satu dari 17.926 artefak yang didapatkan Irak dari AS, Inggris, Italia, Jepang, dan Belanda selama setahun terakhir, kata Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein.

"Hari ini merupakan kemenangan dalam menghadapi upaya orang-orang yang mencoba mencuri sejarah besar dan peradaban kuno kita," ujarnya dalam seremoni di Baghdad.

Gilgamesh Dream Tablet on display at the Iraqi foreign ministry in Baghdad, Iraq (7 December 2021)

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Menteri luar negeri Irak mengatakan, Tablet Mimpi Gilgamesh merupakan satu dari 17.926 artefak yang ditemukan kembali setahun terakhir.

Menteri Kebudayaan dan Purbakala Irak, Hassan Nazim berkata kepada kantor berita AFP bahwa Tablet Mimpi Gilgamesh sangat penting".

Nazim menyebutnya sebagai salah satu teks sastra tertua dalam sejarah Irak.

Baca juga:

Tablet Mimpi Gilgamesh terbuat dari tanah liat, yang mengisahkan bagian dari epos raja manusia setengah dewa. Tablet ini menampilkan secuplik puisi Sumeria dari Epos Gilgamesh.

Sejumlah ilmuwan dan arkeolog menemukan tablet berisi epos ini pada tahun 1853, ketika versi 12-tablet ditemukan di reruntuhan perpustakaan raja Asyur, Ashurbanipal, di Irak utara.

Kisah yang tertuang dalam tablet ini berkisar tentang Raja Gilgamesh dari Uruk - sebuah daerah yang saat ini merupakan wilayah di Irak selatan. Mitos ini didasarkan pada raja nyata yang memerintah antara 2.800 dan 2.500 sebelum masehi.

Tablet menceritakan Raja Gilgamesh yang menggambarkan mimpinya kepada ibunya. Dalam epos itu, ibunya menafsirkan mimpi Gilgamesh sebagai peringatan atas kedatangan seorang teman baru, yang akan menjadi pendampingnya.

"Kekuatannya sekuat sebongkah batu langit... Kamu akan melihatnya dan hatimu akan tertawa," katanya.

Kisah lain dalam tablet ini menceritakan petualangan Raja Gilgamesh yang menyelam ke dasar samudar untuk mengumpulkan tanaman abadi, yang kemudian dicuri darinya oleh seekor ular.

Di kolom lain dari tablet, seorang perempuan membawa pendamping Gilgamesh, Elkindu, ke kandang gembala untuk berhubungan badan.

Tablet Mimpi Gilgamesh

Sedikit yang diketahui tentang apa yang terjadi pada tablet antara tahun 1991 dan 2003, ketika dibeli oleh pedagang barang antik di London. Sang penjual mengirimkan tablet tersebut ke AS melalui pos internasional tanpa menyatakan entri resmi.

Pada tahun 2007, tablet tersebut dijual kepada pembeli lain dengan surat palsu. Dokumen itu menyatakan bahwa tablet tersebut berada di dalam kotak pecahan perunggu kuno yang dibeli pada tahun 1981.

Tablet Gilgamesh dijual lagi beberapa kali dalam forum lelang di berbagai negara sebelum dibeli pada tahun 2014 dalam penjualan pribadi oleh Hobby Lobby, sebuah perusahaan seni dan kerajinan dengan etos Kristen konservatif.

Perusahaan itu membayar lebih dari $1,67 juta (sekitar Rp24 miliar) untuk tablet tersebut, yang dipajang secara mencolok di Museum Alkitab mereka..

Keraguan muncul atas asal tablet pada tahun 2017, ketika seorang kurator di museum mencari informasi lebih lanjut tentang asal artefak itu. Museum juga memberi tahu pemerintah Irak bahwa barang itu ada di tangannya.

Baca juga:

Penjarahan dari museum Irak

Suatu kala ketika Perang Teluk berkecamuk pada 1991, Tablet Mimpi Gilgamesh dijarah dari sebuah museum di Irak.

Selama belasan tahun, nasib tablet itu tak tentu rimbanya.

Hingga akhirnya pada 2003, ketika seorang pedagang barang antik membelinya dari seorang penjual koin di London, dalam kondisi berdebu dan tak bisa dibaca.

Pedagang barang antik itu kemudian mengirim tablet Gilgamesh ke AS via pos internasional tanpa disertai surat-surat resmi.

Epos Gilgamesh telah mengarungi zaman setidaknya selama 4.000 tahun.

Sumber gambar, The Trustees of the British Museum

Keterangan gambar, Epos Gilgamesh telah mengarungi zaman setidaknya selama 4.000 tahun, yang banyak di antara elemennya tetap relevan hingga sekarang.

Setibanya di AS, seorang pakar tulisan paku mengenalinya sebagai bagian dari epos Gilgamesh.

Pada 2007, sang pedangan barang antik menjual tablet itu ke pembeli lain dengan surat palsu, yang menyebut bahwa artefak itu berada di sebuah kotak pecahan pecahan perunggu kuno yang dibeli pada tahun 1981.

Petualangan tablet itu berlanjut dalam lelang satu ke yang lain di berbagai negara, sebelum dibeli oleh Hobby Lobby, perusahaan seni dan kerajinan dengan etos Kristen konservatif, pada 2014.

Perusahaan membelinya seharga lebih dari US$1,67 juta, atau setara Rp23,8 miliar, kemudian memajangnya di Museum of the Bible milik perusahaan itu di Washington DC.

Kontroversi

Pada 2017, Hobby Lobby dikenai denda jutaan dolar karena memberi label palsu pada artifak dari Irak yang dimiliki museumnya.

Artifak-artifak itu diselundupkan ke AS melalui Uni Emirat Arab dan Israel, dengan label pengiriman yang mengeklaimnya sebagai paket berisi "ubin keramik".

"Perusahaan baru mengenal dunia akuisisi barang-barang ini, dan tidak sepenuhnya memahami kerumitan proses akuisisi. Ini menyebabkan beberapa kesalahan yang disesalkan," kata Hobby Lobby saat itu.

An artist's rendering of the Museum of the Bible planned for Washington DC

Sumber gambar, Museum of the Bible

Keterangan gambar, Museum of Bible berlokasi di dekat pusat pemerintahan AS di Washington DC.

Pada tahun yang sama, seorang kurator di museum mulai meneliti asal-usul Tablet Mimpi Gilgamesh. Museum juga memberi tahu pemerintah Irak bahwa barang itu ada di tangannya.

Ketika keraguan seputar asal-usul tablet mengemuka, Museum of the Bibble malayangkan gugatan hukum terhadap rumah lelang Christie, yang mengatur penjualan tablet itu.

Pihak museum mengeklaim bahwa juru lelang telah memberikan informasi palsu. Adapun, Christie's menyangkal mengetahui bahwa tablet itu diimpor secara ilegal.

Pulang ke kampung halaman

Tablet itu kemudian disita dari museum pada 2019.

Pada Juli silam, hakim federal AS memerintahkan pengembalian artefak itu ke kampung halamannya di Irak.

Baca juga:

Tablet itu termasuk dalam 17.000 barang antik jarahan, yang telah disetujui AS untuk dikemblaikan ke Irak.

"Dengan mengembalikan benda-benda yang diperoleh secara ilegal ini, pihak berwenang di sini di Amerika Serikat dan di Irak mengizinkan rakyat Irak untuk terhubung kembali dengan halaman dalam sejarah mereka", kata Audrey Azoulay, Direktur Jenderal UNESCO, organisasi budaya PBB.

"Pengembalian ini merupakan kemenangan besar atas mereka yang merusak warisan dan kemudian memperdagangkannya untuk membiayai kekerasan dan terorisme."

Setibanya di Irak, tablet ini akan dikirim ke Museum Nasional di Baghdad, di mana mimpi Raja Gilgamesh yang mistis akan dilestarikan kembali di rumah yang sah.