Vaksin Covid: Ilmuwan Indonesia, Carina Joe, di balik tim Oxford AstraZeneca, vaksin yang terbanyak disebar di dunia, wakili tim terima penghargaan Pride of Britain

Sumber gambar, John Cairns
- Penulis, Endang Nurdin
- Peranan, BBC News Indonesia
Ilmuwan Indonesia, Carina Citra Dewi Joe, salah satu figur di tim manufaktur yang sukses memproduksi vaksin yang paling banyak didistribusikan di dunia, Oxford AstraZeneca, mewakili tim menerima penghargaan Pride of Britain di London Sabtu malam (31/10).
"Ketika giliran tim Oxford, hadirin memberikan sambutan dengan berdiri, lama sekali," cerita Carina, salah seorang anggota tim yang dipilih untuk mewakili tim dalam menerima penghargaan itu.
Tim vaksin Oxford menerima Special Recognition Award atau penghargaan khusus dalam acara yang dihadiri banyak selebriti ini.

Sumber gambar, Carina Joe

Sumber gambar, Carina Joe

Sumber gambar, TIM ANDERSON
Penghargaan ini merupakan satu dari sejumlah penghargaan yang diterima tim vaksin Universitas Oxford sejauh ini.
Ketua tim manufaktur, Dr Sandy Douglas mengatakan formula "dua sendok makan sel" yang ditemukan Carina menjadi landasan produksi besar vaksin Oxford AstraZeneca, serta memungkinkan diproduksi dengan "harga semurah mungkin".
Saat ini vaksin Oxford AstraZeneca adalah vaksin yang paling luas jangkauannya, dengan lokasi produksi di lebih selusin laboratorium di lima benua. Vaksin ini digunakan di lebih 170 negara, termasuk Indonesia.

Sumber gambar, John Cairns Photography
Produksi vaksin dalam skala besar dalam waktu singkat, yang dilakukan Universitas Oxford dan AstraZeneca serta sejumlah produsen lain, pertama terjadi dalam pandemi Covid-19 ini. Biasanya produksi vaksin memakan waktu setidaknya 10 tahun.
"Formula 30 mililiter sel" itu ditemukan Carina pada 15 Januari 2020. Temuan ini memungkinkan produksi vaksin lebih banyak 10 kali dengan menggunakan sel hanya sekitar dua sendok makan.
Dari percobaan awal ini, jumlah sel ditingkatkan terus sampai pada skala produksi besar melalui kerja sama dengan berbagai laboratorium di seluruh dunia.
Publikasi ilmiah terkait formula "30 milimeter sel ini" akan diterbitkan Universitas Oxford pada bulan November.
'Formula sangat sederhana dan dapat menekan harga'
"Dengan kombinasi upaya Dr Carina Joe untuk meningkatkan proses manufaktur dan komitmen serta kerja keras rekan-rekan kami di AstraZeneca dan semua mitra kami lainnya, kami mampu memberikan vaksin untuk dunia, dibuat di berbagai penjuru dunia, dengan harga semurah mungkin," kata Sandy kepada BBC News Indonesia.
"Ada lebih dari 1,5 miliar dosis vaksin Oxford AstraZeneca yang didistribusikan secara global. Saya sangat bangga dengan kerja kami yang memungkinkan manufaktur vaksin dilakukan di lebih dari selusin tempat di lima benua, dengan sejumlah besar vaksin dikirim ke berbagai negara di luar Amerika Utara dan Eropa," tambahnya.
Formula sederhana dengan menggunakan jumlah sel yang sedikit ini juga memungkinkan produksi vaksin dengan harga semurah mungkin.
"Saya rasa formula ini sangat penting [agar vaksin dapat disebar ke negara berkembang, termasuk Indonesia] dan ada dua alasan untuk itu. Pertama, jumlah vaksin yang didapat dari jumlah tertentu sel, sangat terkait dengan harga. Jadi, formula Carina ini sangat produktif sehingga [vaksin] dapat dibuat dengan harga murah.
"Dan yang kedua, yang sangat penting juga adalah formula ini sangat sederhana sehingga dapat ditranfer ke berbagai fasilitas seperti Serum Institute of India ... yang belum pernah memproduksi produk seperti ini sebelumnya. Namun cukup sederhana sehingga dapat dipelajari dengan cepat dan kami dapat menyerahkannya ke fasilitas manufaktur di seluruh dunia," tambah Sandy.

Dr Adam Ritchie, manajer proyek tim manufaktur menyebut yang tak kalah penting adalah upaya untuk meningkatkan skala manufaktur setelah temuan Carina.
Ia memuji upaya Sandy Douglas yang disebutnya "menunjukkan keberanian moral pada awal 2020 untuk menggenjot upaya manufaktur sehingga membuka jalan dalam produksi vaksin".
Sandy menghubungi berbagai laboratorium untuk produksi skala besar dengan landasan formula ini walaupun saat itu belum ada yang dapat memastikan bahwa vaksin Covid itu dapat digunakan atau tidak.
Baca juga:
- Vaksin Covid-19: Bagaimana program vaksinasi Indonesia dan seperti apa perbandingannya dengan negara-negara lain?
- Siapa Sarah Gilbert, pimpinan tim vaksin Covid-19 di Universitas Oxford?
- Vaksin oral dan suntik untuk Covid-19: Dua peneliti Indonesia di Inggris ikut 'berpacu dengan waktu di tengah pandemi"

Sumber gambar, John Cairns
Dalam perayaan capaian tim manufaktur akhir September lalu, melalui pidato dalam jamuan makan malam di depan para ilmuwan serta perwakilan laboratorium di Oxford, Sandy mengangkat bagaimana formula "30 mililiter sel dikembangkan menjadi 50 liter dan kemudian 200 liter di sejumlah laboratorium", sampai pada tahap sekarang ini.
Carina sendiri, ketika ditemui di laboratorium Jenner Insitute, Universitas Oxford, Agustus lalu mengatakan senang atas capaian tim namun menyebut masih harus banyak belajar dari para seniornya.

Sumber gambar, John Cairns
"Saya tidak sangka saja, dari eksperimen 30 mililiter atau dua sendok makan sel, bisa menghasilkan vaksin lebih dari satu miliar dosis dan dengan target tiga miliar dosis [pada akhir tahun] untuk suplai ke seluruh dunia.
"Tapi, saya tidak merasa bangga atas hasil yang saya capai. Saya merasa perlu banyak belajar dari atasan saya dan profesor yang lain," tambahnya.
"Menurut saya ini adalah awal permulaan saja. Masih panjang jalan yang harus saya tempuh untuk menjadi orang hebat."
"Saya melakukan pekerjaan saya sesuai job description tapi saya lakukan ekstra. Tapi untuk bangga, saya harus banyak belajar dari atasan dan profesor saya yang lain, saya masih jauh untuk bisa bangga untuk pekerjaan saya. Saya belum ada apa-apanya," kata Carina lagi.
Apa yang terjadi setelah formula ditemukan?
Di jantung operasional tim vaksin Oxford, ada setidaknya enam ilmuwan dengan pengalaman puluhan tahun dalam pengembangan, manufaktur dan juga uji coba klinis vaksin untuk menjamin keamanannya dan dilakukan dalam waktu yang sangat cepat.
Mereka termasuk Profesor Sarah Gilbert, Profesor Adrian Hill, Catherine Green, dan Andrew Pollard.
Sandy Douglas memimpin tim manufaktur, tim kecil dengan hanya Carina yang melakukan eksperimen.
Tim pengembangan di bawah Sarah Gilbert, mulai mengerjakan vaksin pada pagi hari 11 Januari 2020, tak lama setelah ilmuwan di China menerbitkan sekuens genome pertama virus corona.
Saat itu belum jelas seberapa cepat virus akan menyebar.

Sumber gambar, John Cairns
Sementara empat hari kemudian, pada 15 Januari 2020, tiga jam sebelum tengah malam, di laboratorium Jenner Institute, Carina bergegas menyampaikan hasil eksperimen yang dia lakukan selama sekitar tiga bulan, ke bosnya, Sandy.
"Saya sangat senang, saya terkejut. Saya tidak memperkirakan, bisa ditemukan formula untuk meningkatkan apa yang telah kami kembangkan, dengan volume begitu besar," cerita Sandy tentang reaksinya ketika itu.
Pada Januari 2020, Covid-19 memang baru santer terdengar jauh di Wuhan, China.
Dalam beberapa minggu setelah dimulai pada 11 Januari, tim terpisah yang dipimpin Sarah Gilbert sudah memiliki vaksin yang dapat diuji coba di laboratorium. Ketika itu, mulai dilakukan uji klinis fase pertama.
Dari sinilah tahapan mengarah ke tim manufaktur di bawah Sandy Douglas untuk memperbanyak vaksin agar dapat dipakai dalam uji coba klinis fase dua dan tiga dengan kebutuhan puluhan ribu dosis.
Saat itu, pada bulan-bulan pertama 2020, dunia sudah diguncang dengan penyebaran virus corona secara begitu cepat.
"Kami punya kemampuan melakukan uji klinis namun saat itu, kami tak memiliki pengalaman memproduksi dalam skala besar," kata Sandy.

Sumber gambar, John Cairns
"Tim riset saya berada dalam posisi yang paling tepat untuk mencoba dan menyelesaikan masalah [produksi] itu. Jadi terjadinya pandemi dan kebutuhan besar vaksin dalam skala besar serta temuan dari Carina ini, muncul pada waktu yang tepat," tambahnya.
Tahapan uji klinis satu dan dua sudah memerlukan vaksin yang cukup banyak sementara tahap terakhir atau ketiga melibatkan 30.000 sukarelawan, sebelum vaksin dipastikan aman oleh badan obat-obatan dan dapat digunakan.
"Biasanya diperlukan waktu yang sangat, sangat lama untuk mengembangkan proses manufaktur vaksin apapun. Biasanya diperlukan waktu lima tahun atau 10 tahun dan biasanya diperlukan waktu lima atau 10 tahun juga untuk uji klinis," kata Sandy.
"Jadi tekanannya ada pada kami, tim manufaktur, untuk mencoba dan bergerak secepat mungkin. Bila tidak, setiap mata akan mengarah kepada kami dan bertanya-tanya, mana vaksinnya [untuk uji klinis]?" cerita Sandy tentang kondisi pada bulan-bulan pertama tahun 2020.

Sumber gambar, John Cairns
Oxford juga perlu bantuan laboratorium yang lebih besar untuk melakukan uji coba lebih lanjut dengan menggunakan lebih banyak sel.
Ketika itu Universitas Oxford belum bekerja sama dengan AstraZeneca, perusahaan farmasi Inggris-Swedia yang bermarkas di Cambridge.
Sandy menghubungi berbagai konsorsium untuk memproduksi vaksin di Inggris, Belanda, India dan China.
Pada bulan Maret, berbagai fasilitas ini bersiap memproduksi puluhan juta vaksin sebelum dipastikan apakah vaksin ini aman dan dapat digunakan.
"Carina mengerjakannya sendiri... akan ada bencana bila dia terkena virus corona"

Sumber gambar, John Cairns.
Sandy menyebut timnya sangat kecil bila dibandingkan dengan perusahaan farmasi besar lain.
"Satu hal yang sangat tak biasa tentang apa yang dilakukan Carina adalah, dia mengerjakannya sendiri. Saya rasa perusahaan dengan skala manufaktur seperti Pfizer tidak akan begitu tergantung pada satu orang saja, mereka pasti punya tim orang yang berpengalaman sangat besar."
"Saya sangat khawatir [ketika itu]. Bagaimana bila Carina terkena virus corona? Akan terjadi bencana kalau itu terjadi karena kami perlu dia tetap bekerja," kata Sandy mengenang periode kerja keras selama 18 bulan.

Sumber gambar, John Cairns
Carina sendiri mengatakan ia hampir menyerah dua kali karena tekanan yang begitu besar, tanpa tahu pasti, apakah vaksin akan berhasil dikembangkan atau gagal.

Sumber gambar, John Cairns
"Pandemi mengajarkan saya untuk tahan banting dengan segala keadaan untuk mengerjakan tugas saya karena saat itu hanya saya satu-satunya yang bisa mengerjakan eksperimen ini karena tim ini kecil. Tidak ada gantinya untuk mengerjakan tugas ini. Tidak semudah itu merekrut orang, perlu training lama … semuanya harus saya sendiri yang atasi," cerita Carina.
Inggris mulai menerapkan lockdown (karantina wilayah dalam skala nasional) pada Maret 2020 dan dilonggarkan empat bulan kemudian.
"Saya sempat bilang, saya mau berhenti, saya tak bisa lagi lakukan ini. Nangis-nangis di depan bos. Mereka berikan pengertian. Mau gimana lagi, cuma kamu yang melakukan, tidak ada gantinya lagi. Mau sakit atau tidak tetap harus dikerjakan," kata Carina mengingat kerja nonstop tanpa istirahat tahun lalu.
"Saat hampir menyerah, bos saya bilang, kita melakukan hal yang tepat. Ini mungkin satu hal yang sangat penting yang kita lakukan dalam karir kita karena banyak orang meninggal, jadi kita lakukan yang terbaik, demi kemanusiaan," ceritanya lagi.
Apakah formula "30 mililiter sel" dapat digunakan bila terjadi pandemi lagi?

Ketika ditemui di laboratorium Jenner Institute, Universitas Oxford, Carina memperkenalkan sejumlah kolega yang meneliti berbagai vaksin lain termasuk untuk virus Zica dan Malaria.
Carina - yang memperoleh gelar doktoral dalam bidang bioteknologi di Royal Melbourne Insitute, Australia - menunjukkan dua ruang laboratorium, tempat ia menghabiskan hari-hari dan malam tanpa tidur cukup, hampir sepanjang 2020.
Formula hasil eksperimen Carina ketika itu rencananya digunakan untuk penelitian vaksin rabies, yang tengah dikembangkan tim peneliti di bawah Sandy Douglas, sebelum ia ditarik ke tim Covid.

Sumber gambar, John Cairns
Carina sendiri baru bergabung dengan tim Sandy pada Agustus 2019 dan memulai eksperimennya pada sekitar akhir September.
Apakah formula ini bisa digunakan bila terjadi pandemi lagi di kemudian hari?
"Proses yang digunakan masih sama, dan bisa dipakai untuk penyakit yang berbeda, hanya perlu diadaptasi sedikit. Jadi bisa langsung dipakai untuk memproduksi vaksin lain," katanya lagi.

Sandy sendiri mengatakan dalam diskusinya dengan salah seorang kolega - walaupun setengah bercanda - bahwa "Carina adalah peneliti paska doktoral yang paling penting di dunia. Pekerjaannya sangat fantastis dan sangat penting."

Sumber gambar, John Cairns.
Vaksin Covid tercepat pengembangan dan distribusinya

Sumber gambar, Kedutaan Inggris Jakarta
Kecepatan membuat dan mendistribusikan vaksin Covid dikembangkan dalam waktu yang luar biasa cepat.
Vaksin campak, misalnya, termasuk yang ditemukan cukup cepat, dan memakan waktu 10 tahun dari penemuan patogen sampai pengembangan vaksin pertama.
Vaksin tipus memerlukan waktu lebih dari satu abad dan sejumlah penyakit yang sudah diketahui patogennya lebih dari satu abad - seperti malaria - masih belum ditemukan vaksin yang efektif.
Baca juga:
Pengembangan vaksin Covid dilakukan jauh lebih cepat dari vaksin apa pun. Dalam waktu kurang dari satu tahun, sejumlah vaksin, berhasil diumumkan dan telah disetujui untuk penggunaan di beberapa negara.
Vaksin Oxford AstraZeneca - seperti halnya Pfizer dan Moderna - berhasil diproduksi dan digunakan dalam rekor waktu yang sangat cepat ketika penduduk dunia amat sangat memerlukannya guna meredam pandemi Covid-19.
Pertanyaan-pertanyaan lewat sosial media dan jawaban Carina
Debukosmik
Hi Carina. Saya yakin banyak bgt ilmuwan dr berbagai bidang dari Indonesia yg sukses di kancah global. Tp saya penasaran, menurutmu apa yg sudah kamu sumbangkan utk kemanusiaan ini, apakah bisa diraih kalau kamu studi di Indonesia? Kalau jawabannya tidak, apa perbedaan mendasar dari studi di Oxford dan uni di Indonesia?
Hi Debukosmik. Pertanyaan yang menarik, saya memilih studi di luar Indonesia pada saat itu karena bidang biotechnology yang saya geluti belum banyak ada di Indonesia. Tapi untuk masa sekarang saya rasa bidang biotechnology di Indonesia sudah jauh lebih maju dari sebelumnya.
Sistem studi di Oxford memberikan kebebasan kepada untuk mengembangkan kreasi dan pola pikir masing masing individual di luar mata pelajaran yang diajarkan dan sistem pendidikan yang cepat mengadopsi teknologi yang terbaru ke dalam kurikulum.
Dinikimmel
Thank you Carina! Mudah2an anakku juga bisa jadi scientist hebat seperti kamu. Aku ada pertanyaan niy, siapakah yang menginspirasi Carina untuk menjadi scientist? Thank you in advance 🙂
Thank you for the kind words Dini.
Tokoh yang memberikan inspirasi bagi saya untuk bekerja di bidang vaksin:
Anne Szarewski. Dr Szarewski dan tim menemukan bahwa human papillomavirus (HPV) terkait dengan kanker serviks. Terobosan ini memungkinkan perkembangan vaksin untuk mencegah HPV dan sebagian besar kanker serviks. Vaksin-vaksin tersebut kini sudah tersedia di seluruh dunia, mencegah banyak penderitaan dan kematian akibat kanker serviks
Vivi_ameerah
Hai Carina, bagaimana pendapat kamu tentang orang-orang yang ga percaya covid dan ga mau di di vaksin? Can u convince people who don't want to be vaccinated? How effective is the vaccine against covid?
Halo Vivi. Saya sangat prihatin terhadap orang yang masi menolak percaya tentang adanya COVID19, saya rasa mereka memilih percaya kepada sumber informasi yang salah. I encourage people to be vaccinated by directing them to the accurate source information such as health regulator and government official sites. All of the vaccines that were approved by the health regulators are highly effective and safe.
Aryo.setyadi
1.apa yg jd motivasi terbesar saat hampir menyerah thd tekanan saat bekerja di lab.
2. Bagaimana pandangan anda tentang vaksin Nusantara, bisa beri masukan atau saran thd vaksin Nusantara. Terimakasih
1.Pada saat saya menyerah, atasan saya memberikan pengertian kepada saya kalau ini merupakan tanggung jawab kami sebagai scientist untuk berusaha sebaik mungkin di saat yang paling dibutuhkan, vaksin yang kami kembangkan mempunyai potensi untuk menolong orang banyak dan beliau juga bilang kalau banyak orang yang meninggal akibat COVID19 ini dan vaksin ini bisa mencegah lebih banyak orang yang meninggal. Jadi hal ini yang membuat saya kembali bekerja, untuk menolong masyarakat.
2.Sampai sekarang ini belum ada data dari vaksin nusantara, sehingga saya tidak bisa memberikan komentar. Maaf dan terima kasih.
Pinkudin
Apa tantangan terbesar dalam menemukan vaksin?
Pada saat pandemi itu kami tidak memiliki cukup waktu karena vaksin sangat dibutuhkan, dan kami tidak dapat merekrut tenaga kerja dengan keahlian di bidang saya selama pandemi. Karena untuk dapat terlibat dalam pengembangan proses ini diperlukan pelatihan bertahun-tahun.
Pada saat itu, saya hanya memiliki waktu 1,5 bulan untuk mengembangkan proses manufaktur yang akan disimulasikan pada skala 200L (saat itu saya hanya mempunyai hasil dari skala 30 ml atau dua sendok makan), yang sekarang tampak seperti tugas yang mustahil karena pengembangan proses biasanya membutuhkan waktu tiga hingga empat tahun untuk menyelesaikannya.
Tim kami kecil: saya dan supervisor saya Dr. Sandy Douglas adalah satu-satunya yang tahu bagaimana prosesnya bekerja; dan Dr. Adam Ritchie, manajer proyek yang mengelola anggaran dan persediaan.
Kami semua bekerja selama 15-16 jam sehari, tujuh hari seminggu, tanpa istirahat untuk memastikan bahwa semuanya dilakukan dengan sempurna sesuai dengan spesifikasi.
Vitafatimah.vita9
Congret Carina... Sebagai warga negara indonesia apakah km ada niat untuk membantu meneliti vaksin merahputih agar segera digunakan lebih cepat oleh masyarakat indonesia?
Terima kasih ya Vita, saya selalu dengan senang hati bersedia berkolaborasi dengan Indonesia tetapi karena saya bekerja untuk University of Oxford, kolaborasi harus dilakukan dengan resmi dengan jalur dari University of Oxford
Arclicds
Hai Carina, saya ingin bertanya, berapa lama kamu meneliti sampai vaksin ini ditemukan ? Dan adakah pengalaman khusus atau suatu hal yang membuatmu bisa menemukan penemuan hebat ini ? Apa alasanmu menjadi peneliti ? Terimakasih
Halo Arclicds, proses pengembangan vaksin Oxford-AstraZeneca ini dilakukan kurang dari setahun dengan kolaborasi dari banyak ilmuwan di University of Oxford tapi setelah vaksin ditemukan kami terus bekerja untuk memproduksi vaksin untuk supplai global.
Jadi yang dibutuhkan untuk mengejarkan proyek adalah pemahaman dan pengalaman di bidang yang kita geluti. Pada saat saya kuliah saya juga bekerja magang di bidang manufaktur skala besar jadi saya memahami langkah yang bisa saya lakukan untuk penemuan ini
Alasan saya menjadi peneliti adalah saya ingin penemuan saya atau hasil karya saya berguna bagi banyak orang. Saya ingin melihat masyarakat mempunyai hidup yang lebih baik karena hasil kerja saya, hal ini sangat penting bagi saya.
Dewi Ishwari Raathnadewi
Proud of you and Keep humble,Sis😍😘
Apa ada rencana kembali ke Indonesia?
Apapun keputusanmu, dukungan utk-mu 100% dan tetaplah berkarya utk kepentingan orang banyak👏👏👍
Halo Dewi, terima kasih sekali atas dukungannya. Sekarang ini saya masih sangat sibuk karena pekerjaan. Nanti kalau sudah bisa libur, pasti saya akan kembali ke Indonesia untuk bertemu keluarga dan juga saya kangen makanan Indonesia













