Vaksin Covid: Ilmuwan Indonesia, Carina Joe, di balik tim Oxford AstraZeneca, vaksin yang terbanyak disebar di dunia, wakili tim terima penghargaan Pride of Britain

Carina Citra Dewi Joe.

Sumber gambar, John Cairns

Keterangan gambar, Carina menemukan formula dua sendok sel setelah eksperimen sekitar tiga bulan.
    • Penulis, Endang Nurdin
    • Peranan, BBC News Indonesia

Ilmuwan Indonesia, Carina Citra Dewi Joe, salah satu figur di tim manufaktur yang sukses memproduksi vaksin yang paling banyak didistribusikan di dunia, Oxford AstraZeneca, mewakili tim menerima penghargaan Pride of Britain di London Sabtu malam (31/10).

"Ketika giliran tim Oxford, hadirin memberikan sambutan dengan berdiri, lama sekali," cerita Carina, salah seorang anggota tim yang dipilih untuk mewakili tim dalam menerima penghargaan itu.

Tim vaksin Oxford menerima Special Recognition Award atau penghargaan khusus dalam acara yang dihadiri banyak selebriti ini.

Special Recognition Award untuk tim vaksin Oxford.

Sumber gambar, Carina Joe

Keterangan gambar, Pride of Britain yang berlangsung Sabtu malam (Minggu dini hari WIB), di London.
Andy Pollard, Teressa Lambe, Catherine Green, Carina Joe, Adrian Hill, Mahesi Ramasamy serta Sagida Bibi sebelum acara Pride of Britain.

Sumber gambar, Carina Joe

Keterangan gambar, Tim Oxford yang hadir dalam Pride of Britain.
Tim vaksin Oxford.

Sumber gambar, TIM ANDERSON

Penghargaan ini merupakan satu dari sejumlah penghargaan yang diterima tim vaksin Universitas Oxford sejauh ini.

Ketua tim manufaktur, Dr Sandy Douglas mengatakan formula "dua sendok makan sel" yang ditemukan Carina menjadi landasan produksi besar vaksin Oxford AstraZeneca, serta memungkinkan diproduksi dengan "harga semurah mungkin".

Saat ini vaksin Oxford AstraZeneca adalah vaksin yang paling luas jangkauannya, dengan lokasi produksi di lebih selusin laboratorium di lima benua. Vaksin ini digunakan di lebih 170 negara, termasuk Indonesia.

Sandy Douglas, Adam Ritchie dan Carina Joe.

Sumber gambar, John Cairns Photography

Keterangan gambar, Sandy Douglas, Adam Ritchie dan Carina Joe, tim kecil manufaktur Universitas Oxford.

Produksi vaksin dalam skala besar dalam waktu singkat, yang dilakukan Universitas Oxford dan AstraZeneca serta sejumlah produsen lain, pertama terjadi dalam pandemi Covid-19 ini. Biasanya produksi vaksin memakan waktu setidaknya 10 tahun.

"Formula 30 mililiter sel" itu ditemukan Carina pada 15 Januari 2020. Temuan ini memungkinkan produksi vaksin lebih banyak 10 kali dengan menggunakan sel hanya sekitar dua sendok makan.

Dari percobaan awal ini, jumlah sel ditingkatkan terus sampai pada skala produksi besar melalui kerja sama dengan berbagai laboratorium di seluruh dunia.

Publikasi ilmiah terkait formula "30 milimeter sel ini" akan diterbitkan Universitas Oxford pada bulan November.

Keterangan video, Carina Joe: 'Jalan saya untuk menjadi orang hebat masih panjang'

'Formula sangat sederhana dan dapat menekan harga'

"Dengan kombinasi upaya Dr Carina Joe untuk meningkatkan proses manufaktur dan komitmen serta kerja keras rekan-rekan kami di AstraZeneca dan semua mitra kami lainnya, kami mampu memberikan vaksin untuk dunia, dibuat di berbagai penjuru dunia, dengan harga semurah mungkin," kata Sandy kepada BBC News Indonesia.

"Ada lebih dari 1,5 miliar dosis vaksin Oxford AstraZeneca yang didistribusikan secara global. Saya sangat bangga dengan kerja kami yang memungkinkan manufaktur vaksin dilakukan di lebih dari selusin tempat di lima benua, dengan sejumlah besar vaksin dikirim ke berbagai negara di luar Amerika Utara dan Eropa," tambahnya.

Formula sederhana dengan menggunakan jumlah sel yang sedikit ini juga memungkinkan produksi vaksin dengan harga semurah mungkin.

"Saya rasa formula ini sangat penting [agar vaksin dapat disebar ke negara berkembang, termasuk Indonesia] dan ada dua alasan untuk itu. Pertama, jumlah vaksin yang didapat dari jumlah tertentu sel, sangat terkait dengan harga. Jadi, formula Carina ini sangat produktif sehingga [vaksin] dapat dibuat dengan harga murah.

"Dan yang kedua, yang sangat penting juga adalah formula ini sangat sederhana sehingga dapat ditranfer ke berbagai fasilitas seperti Serum Institute of India ... yang belum pernah memproduksi produk seperti ini sebelumnya. Namun cukup sederhana sehingga dapat dipelajari dengan cepat dan kami dapat menyerahkannya ke fasilitas manufaktur di seluruh dunia," tambah Sandy.

Penyebaran vaksin di dunia.

Dr Adam Ritchie, manajer proyek tim manufaktur menyebut yang tak kalah penting adalah upaya untuk meningkatkan skala manufaktur setelah temuan Carina.

Ia memuji upaya Sandy Douglas yang disebutnya "menunjukkan keberanian moral pada awal 2020 untuk menggenjot upaya manufaktur sehingga membuka jalan dalam produksi vaksin".

Sandy menghubungi berbagai laboratorium untuk produksi skala besar dengan landasan formula ini walaupun saat itu belum ada yang dapat memastikan bahwa vaksin Covid itu dapat digunakan atau tidak.

Baca juga:

Perayaan tim manufaktur.

Sumber gambar, John Cairns

Keterangan gambar, Perayaan tim manufaktur Universitas Oxford.

Dalam perayaan capaian tim manufaktur akhir September lalu, melalui pidato dalam jamuan makan malam di depan para ilmuwan serta perwakilan laboratorium di Oxford, Sandy mengangkat bagaimana formula "30 mililiter sel dikembangkan menjadi 50 liter dan kemudian 200 liter di sejumlah laboratorium", sampai pada tahap sekarang ini.

Carina sendiri, ketika ditemui di laboratorium Jenner Insitute, Universitas Oxford, Agustus lalu mengatakan senang atas capaian tim namun menyebut masih harus banyak belajar dari para seniornya.

Carina Citra Dewi Joe.

Sumber gambar, John Cairns

Keterangan gambar, Carina Joe mengatakan senang atas capaian tim namun menyebut masih harus banyak belajar dari para seniornya.

"Saya tidak sangka saja, dari eksperimen 30 mililiter atau dua sendok makan sel, bisa menghasilkan vaksin lebih dari satu miliar dosis dan dengan target tiga miliar dosis [pada akhir tahun] untuk suplai ke seluruh dunia.

"Tapi, saya tidak merasa bangga atas hasil yang saya capai. Saya merasa perlu banyak belajar dari atasan saya dan profesor yang lain," tambahnya.

"Menurut saya ini adalah awal permulaan saja. Masih panjang jalan yang harus saya tempuh untuk menjadi orang hebat."

"Saya melakukan pekerjaan saya sesuai job description tapi saya lakukan ekstra. Tapi untuk bangga, saya harus banyak belajar dari atasan dan profesor saya yang lain, saya masih jauh untuk bisa bangga untuk pekerjaan saya. Saya belum ada apa-apanya," kata Carina lagi.

Apa yang terjadi setelah formula ditemukan?

Di jantung operasional tim vaksin Oxford, ada setidaknya enam ilmuwan dengan pengalaman puluhan tahun dalam pengembangan, manufaktur dan juga uji coba klinis vaksin untuk menjamin keamanannya dan dilakukan dalam waktu yang sangat cepat.

Mereka termasuk Profesor Sarah Gilbert, Profesor Adrian Hill, Catherine Green, dan Andrew Pollard.

Sandy Douglas memimpin tim manufaktur, tim kecil dengan hanya Carina yang melakukan eksperimen.

Tim pengembangan di bawah Sarah Gilbert, mulai mengerjakan vaksin pada pagi hari 11 Januari 2020, tak lama setelah ilmuwan di China menerbitkan sekuens genome pertama virus corona.

Saat itu belum jelas seberapa cepat virus akan menyebar.

Adam Ritchie, Sandy Douglas, Carina Joe.

Sumber gambar, John Cairns

Keterangan gambar, Perusahaan seperti Pfizer pasti punya tim manufaktur yang sangat besar, kata Sandy.

Sementara empat hari kemudian, pada 15 Januari 2020, tiga jam sebelum tengah malam, di laboratorium Jenner Institute, Carina bergegas menyampaikan hasil eksperimen yang dia lakukan selama sekitar tiga bulan, ke bosnya, Sandy.

"Saya sangat senang, saya terkejut. Saya tidak memperkirakan, bisa ditemukan formula untuk meningkatkan apa yang telah kami kembangkan, dengan volume begitu besar," cerita Sandy tentang reaksinya ketika itu.

Pada Januari 2020, Covid-19 memang baru santer terdengar jauh di Wuhan, China.

Dalam beberapa minggu setelah dimulai pada 11 Januari, tim terpisah yang dipimpin Sarah Gilbert sudah memiliki vaksin yang dapat diuji coba di laboratorium. Ketika itu, mulai dilakukan uji klinis fase pertama.

Dari sinilah tahapan mengarah ke tim manufaktur di bawah Sandy Douglas untuk memperbanyak vaksin agar dapat dipakai dalam uji coba klinis fase dua dan tiga dengan kebutuhan puluhan ribu dosis.

Saat itu, pada bulan-bulan pertama 2020, dunia sudah diguncang dengan penyebaran virus corona secara begitu cepat.

"Kami punya kemampuan melakukan uji klinis namun saat itu, kami tak memiliki pengalaman memproduksi dalam skala besar," kata Sandy.

Sandy Douglas dan Carina Joe.

Sumber gambar, John Cairns

Keterangan gambar, Sandy mengatakan sangat bangga dengan hasil yang diraih tim dengan bantuan banyak mitra.

"Tim riset saya berada dalam posisi yang paling tepat untuk mencoba dan menyelesaikan masalah [produksi] itu. Jadi terjadinya pandemi dan kebutuhan besar vaksin dalam skala besar serta temuan dari Carina ini, muncul pada waktu yang tepat," tambahnya.

Tahapan uji klinis satu dan dua sudah memerlukan vaksin yang cukup banyak sementara tahap terakhir atau ketiga melibatkan 30.000 sukarelawan, sebelum vaksin dipastikan aman oleh badan obat-obatan dan dapat digunakan.

"Biasanya diperlukan waktu yang sangat, sangat lama untuk mengembangkan proses manufaktur vaksin apapun. Biasanya diperlukan waktu lima tahun atau 10 tahun dan biasanya diperlukan waktu lima atau 10 tahun juga untuk uji klinis," kata Sandy.

"Jadi tekanannya ada pada kami, tim manufaktur, untuk mencoba dan bergerak secepat mungkin. Bila tidak, setiap mata akan mengarah kepada kami dan bertanya-tanya, mana vaksinnya [untuk uji klinis]?" cerita Sandy tentang kondisi pada bulan-bulan pertama tahun 2020.

Sandy Douglas, Adam Ritchie dan Carina Joe.

Sumber gambar, John Cairns

Oxford juga perlu bantuan laboratorium yang lebih besar untuk melakukan uji coba lebih lanjut dengan menggunakan lebih banyak sel.

Ketika itu Universitas Oxford belum bekerja sama dengan AstraZeneca, perusahaan farmasi Inggris-Swedia yang bermarkas di Cambridge.

Sandy menghubungi berbagai konsorsium untuk memproduksi vaksin di Inggris, Belanda, India dan China.

Pada bulan Maret, berbagai fasilitas ini bersiap memproduksi puluhan juta vaksin sebelum dipastikan apakah vaksin ini aman dan dapat digunakan.

"Carina mengerjakannya sendiri... akan ada bencana bila dia terkena virus corona"

Carina Citra Dewi Joe.

Sumber gambar, John Cairns.

Keterangan gambar, Carina mengatakan dia hampir menyerah dua kali karena tekanan yang begitu besar pada awal pandemi.

Sandy menyebut timnya sangat kecil bila dibandingkan dengan perusahaan farmasi besar lain.

"Satu hal yang sangat tak biasa tentang apa yang dilakukan Carina adalah, dia mengerjakannya sendiri. Saya rasa perusahaan dengan skala manufaktur seperti Pfizer tidak akan begitu tergantung pada satu orang saja, mereka pasti punya tim orang yang berpengalaman sangat besar."

"Saya sangat khawatir [ketika itu]. Bagaimana bila Carina terkena virus corona? Akan terjadi bencana kalau itu terjadi karena kami perlu dia tetap bekerja," kata Sandy mengenang periode kerja keras selama 18 bulan.

Sandy Douglas

Sumber gambar, John Cairns

Keterangan gambar, Saya sangat khawatir Carina terkena virus corona (ketika itu), kata Sandy, karena tak ada yang dapat menggantikan pekerjaannya.

Carina sendiri mengatakan ia hampir menyerah dua kali karena tekanan yang begitu besar, tanpa tahu pasti, apakah vaksin akan berhasil dikembangkan atau gagal.

Carina Citra Dewi Joe.

Sumber gambar, John Cairns

Keterangan gambar, Saya sempat menyerah dua kali, kata Carina.

"Pandemi mengajarkan saya untuk tahan banting dengan segala keadaan untuk mengerjakan tugas saya karena saat itu hanya saya satu-satunya yang bisa mengerjakan eksperimen ini karena tim ini kecil. Tidak ada gantinya untuk mengerjakan tugas ini. Tidak semudah itu merekrut orang, perlu training lama … semuanya harus saya sendiri yang atasi," cerita Carina.

Inggris mulai menerapkan lockdown (karantina wilayah dalam skala nasional) pada Maret 2020 dan dilonggarkan empat bulan kemudian.

"Saya sempat bilang, saya mau berhenti, saya tak bisa lagi lakukan ini. Nangis-nangis di depan bos. Mereka berikan pengertian. Mau gimana lagi, cuma kamu yang melakukan, tidak ada gantinya lagi. Mau sakit atau tidak tetap harus dikerjakan," kata Carina mengingat kerja nonstop tanpa istirahat tahun lalu.

"Saat hampir menyerah, bos saya bilang, kita melakukan hal yang tepat. Ini mungkin satu hal yang sangat penting yang kita lakukan dalam karir kita karena banyak orang meninggal, jadi kita lakukan yang terbaik, demi kemanusiaan," ceritanya lagi.

Apakah formula "30 mililiter sel" dapat digunakan bila terjadi pandemi lagi?

Carina Citra Dewi Joe.

Ketika ditemui di laboratorium Jenner Institute, Universitas Oxford, Carina memperkenalkan sejumlah kolega yang meneliti berbagai vaksin lain termasuk untuk virus Zica dan Malaria.

Carina - yang memperoleh gelar doktoral dalam bidang bioteknologi di Royal Melbourne Insitute, Australia - menunjukkan dua ruang laboratorium, tempat ia menghabiskan hari-hari dan malam tanpa tidur cukup, hampir sepanjang 2020.

Formula hasil eksperimen Carina ketika itu rencananya digunakan untuk penelitian vaksin rabies, yang tengah dikembangkan tim peneliti di bawah Sandy Douglas, sebelum ia ditarik ke tim Covid.

Catherine Green dan Carina Joe.

Sumber gambar, John Cairns

Keterangan gambar, Bersama Catherine Green dengan GQ Awards, salah satu penghargaan yang diterima tim vaksin Universitas Oxford.

Carina sendiri baru bergabung dengan tim Sandy pada Agustus 2019 dan memulai eksperimennya pada sekitar akhir September.

Apakah formula ini bisa digunakan bila terjadi pandemi lagi di kemudian hari?

"Proses yang digunakan masih sama, dan bisa dipakai untuk penyakit yang berbeda, hanya perlu diadaptasi sedikit. Jadi bisa langsung dipakai untuk memproduksi vaksin lain," katanya lagi.

Carina Citra Dewi Joe
Keterangan gambar, Pandemi mengajarkan saya untuk tahan banting.

Sandy sendiri mengatakan dalam diskusinya dengan salah seorang kolega - walaupun setengah bercanda - bahwa "Carina adalah peneliti paska doktoral yang paling penting di dunia. Pekerjaannya sangat fantastis dan sangat penting."

Carina Citra Dewi Joe.

Sumber gambar, John Cairns.

Keterangan gambar, Formula bisa diadaptasi bila terjadi pandemi penyakit lain.

Vaksin Covid tercepat pengembangan dan distribusinya

Vaksin AstraZeneca yang tiba di Jakarta.

Sumber gambar, Kedutaan Inggris Jakarta

Keterangan gambar, Vaksin AstraZeneca yang tiba di Jakarta.

Kecepatan membuat dan mendistribusikan vaksin Covid dikembangkan dalam waktu yang luar biasa cepat.

Vaksin campak, misalnya, termasuk yang ditemukan cukup cepat, dan memakan waktu 10 tahun dari penemuan patogen sampai pengembangan vaksin pertama.

Vaksin tipus memerlukan waktu lebih dari satu abad dan sejumlah penyakit yang sudah diketahui patogennya lebih dari satu abad - seperti malaria - masih belum ditemukan vaksin yang efektif.

Baca juga:

Pengembangan vaksin Covid dilakukan jauh lebih cepat dari vaksin apa pun. Dalam waktu kurang dari satu tahun, sejumlah vaksin, berhasil diumumkan dan telah disetujui untuk penggunaan di beberapa negara.

Vaksin Oxford AstraZeneca - seperti halnya Pfizer dan Moderna - berhasil diproduksi dan digunakan dalam rekor waktu yang sangat cepat ketika penduduk dunia amat sangat memerlukannya guna meredam pandemi Covid-19.

Pertanyaan-pertanyaan lewat sosial media dan jawaban Carina

Debukosmik

Hi Carina. Saya yakin banyak bgt ilmuwan dr berbagai bidang dari Indonesia yg sukses di kancah global. Tp saya penasaran, menurutmu apa yg sudah kamu sumbangkan utk kemanusiaan ini, apakah bisa diraih kalau kamu studi di Indonesia? Kalau jawabannya tidak, apa perbedaan mendasar dari studi di Oxford dan uni di Indonesia?

Hi Debukosmik. Pertanyaan yang menarik, saya memilih studi di luar Indonesia pada saat itu karena bidang biotechnology yang saya geluti belum banyak ada di Indonesia. Tapi untuk masa sekarang saya rasa bidang biotechnology di Indonesia sudah jauh lebih maju dari sebelumnya.

Sistem studi di Oxford memberikan kebebasan kepada untuk mengembangkan kreasi dan pola pikir masing masing individual di luar mata pelajaran yang diajarkan dan sistem pendidikan yang cepat mengadopsi teknologi yang terbaru ke dalam kurikulum.

Dinikimmel

Thank you Carina! Mudah2an anakku juga bisa jadi scientist hebat seperti kamu. Aku ada pertanyaan niy, siapakah yang menginspirasi Carina untuk menjadi scientist? Thank you in advance 🙂

Thank you for the kind words Dini.

Tokoh yang memberikan inspirasi bagi saya untuk bekerja di bidang vaksin:

Anne Szarewski. Dr Szarewski dan tim menemukan bahwa human papillomavirus (HPV) terkait dengan kanker serviks. Terobosan ini memungkinkan perkembangan vaksin untuk mencegah HPV dan sebagian besar kanker serviks. Vaksin-vaksin tersebut kini sudah tersedia di seluruh dunia, mencegah banyak penderitaan dan kematian akibat kanker serviks

Vivi_ameerah

Hai Carina, bagaimana pendapat kamu tentang orang-orang yang ga percaya covid dan ga mau di di vaksin? Can u convince people who don't want to be vaccinated? How effective is the vaccine against covid?

Halo Vivi. Saya sangat prihatin terhadap orang yang masi menolak percaya tentang adanya COVID19, saya rasa mereka memilih percaya kepada sumber informasi yang salah. I encourage people to be vaccinated by directing them to the accurate source information such as health regulator and government official sites. All of the vaccines that were approved by the health regulators are highly effective and safe.

Aryo.setyadi

1.apa yg jd motivasi terbesar saat hampir menyerah thd tekanan saat bekerja di lab.

2. Bagaimana pandangan anda tentang vaksin Nusantara, bisa beri masukan atau saran thd vaksin Nusantara. Terimakasih

1.Pada saat saya menyerah, atasan saya memberikan pengertian kepada saya kalau ini merupakan tanggung jawab kami sebagai scientist untuk berusaha sebaik mungkin di saat yang paling dibutuhkan, vaksin yang kami kembangkan mempunyai potensi untuk menolong orang banyak dan beliau juga bilang kalau banyak orang yang meninggal akibat COVID19 ini dan vaksin ini bisa mencegah lebih banyak orang yang meninggal. Jadi hal ini yang membuat saya kembali bekerja, untuk menolong masyarakat.

2.Sampai sekarang ini belum ada data dari vaksin nusantara, sehingga saya tidak bisa memberikan komentar. Maaf dan terima kasih.

Pinkudin

Apa tantangan terbesar dalam menemukan vaksin?

Pada saat pandemi itu kami tidak memiliki cukup waktu karena vaksin sangat dibutuhkan, dan kami tidak dapat merekrut tenaga kerja dengan keahlian di bidang saya selama pandemi. Karena untuk dapat terlibat dalam pengembangan proses ini diperlukan pelatihan bertahun-tahun.

Pada saat itu, saya hanya memiliki waktu 1,5 bulan untuk mengembangkan proses manufaktur yang akan disimulasikan pada skala 200L (saat itu saya hanya mempunyai hasil dari skala 30 ml atau dua sendok makan), yang sekarang tampak seperti tugas yang mustahil karena pengembangan proses biasanya membutuhkan waktu tiga hingga empat tahun untuk menyelesaikannya.

Tim kami kecil: saya dan supervisor saya Dr. Sandy Douglas adalah satu-satunya yang tahu bagaimana prosesnya bekerja; dan Dr. Adam Ritchie, manajer proyek yang mengelola anggaran dan persediaan.

Kami semua bekerja selama 15-16 jam sehari, tujuh hari seminggu, tanpa istirahat untuk memastikan bahwa semuanya dilakukan dengan sempurna sesuai dengan spesifikasi.

Vitafatimah.vita9

Congret Carina... Sebagai warga negara indonesia apakah km ada niat untuk membantu meneliti vaksin merahputih agar segera digunakan lebih cepat oleh masyarakat indonesia?

Terima kasih ya Vita, saya selalu dengan senang hati bersedia berkolaborasi dengan Indonesia tetapi karena saya bekerja untuk University of Oxford, kolaborasi harus dilakukan dengan resmi dengan jalur dari University of Oxford

Arclicds

Hai Carina, saya ingin bertanya, berapa lama kamu meneliti sampai vaksin ini ditemukan ? Dan adakah pengalaman khusus atau suatu hal yang membuatmu bisa menemukan penemuan hebat ini ? Apa alasanmu menjadi peneliti ? Terimakasih

Halo Arclicds, proses pengembangan vaksin Oxford-AstraZeneca ini dilakukan kurang dari setahun dengan kolaborasi dari banyak ilmuwan di University of Oxford tapi setelah vaksin ditemukan kami terus bekerja untuk memproduksi vaksin untuk supplai global.

Jadi yang dibutuhkan untuk mengejarkan proyek adalah pemahaman dan pengalaman di bidang yang kita geluti. Pada saat saya kuliah saya juga bekerja magang di bidang manufaktur skala besar jadi saya memahami langkah yang bisa saya lakukan untuk penemuan ini

Alasan saya menjadi peneliti adalah saya ingin penemuan saya atau hasil karya saya berguna bagi banyak orang. Saya ingin melihat masyarakat mempunyai hidup yang lebih baik karena hasil kerja saya, hal ini sangat penting bagi saya.

Dewi Ishwari Raathnadewi

Proud of you and Keep humble,Sis😍😘

Apa ada rencana kembali ke Indonesia?

Apapun keputusanmu, dukungan utk-mu 100% dan tetaplah berkarya utk kepentingan orang banyak👏👏👍

Halo Dewi, terima kasih sekali atas dukungannya. Sekarang ini saya masih sangat sibuk karena pekerjaan. Nanti kalau sudah bisa libur, pasti saya akan kembali ke Indonesia untuk bertemu keluarga dan juga saya kangen makanan Indonesia

Program vaksinasi dunia

Gulir daftar
Dunia
61
12.120.524.547
China
87
3.403.643.000
India
66
1.978.918.170
Amerika Serikat
67
596.233.489
Brasil
79
456.903.089
Indonesia
61
417.522.347
Jepang
81
285.756.540
Bangladesh
72
278.785.812
Pakistan
57
273.365.003
Vietnam
83
233.534.502
Meksiko
61
209.179.257
Jerman
76
182.926.984
Rusia
51
168.992.435
Filipina
64
153.852.751
Iran
68
149.957.751
Inggris
73
149.397.250
Turki
62
147.839.557
Prancis
78
146.197.822
Thailand
76
139.099.244
Italia
79
138.319.018
Korea Selatan
87
126.015.059
Argentina
82
106.075.760
Spanyol
87
95.153.556
Mesir
36
91.447.330
Kanada
83
86.256.122
Kolombia
71
85.767.160
Peru
83
77.892.776
Malaysia
83
71.272.417
Arab Saudi
71
66.700.629
Myanmar
49
62.259.560
Chili
92
59.605.701
Taiwan
82
58.215.158
Australia
84
57.927.802
Uzbekistan
46
55.782.994
Maroko
63
54.846.507
Polandia
60
54.605.119
Nigeria
10
50.619.238
Ethiopia
32
49.687.694
Nepal
69
46.888.075
Kamboja
85
40.956.960
Sri Lanka
68
39.586.599
Kuba
88
38.725.766
Venezuela
50
37.860.994
Afrika Selatan
32
36.861.626
Ekuador
78
35.827.364
Belanda
70
33.326.378
Ukraina
35
31.668.577
Mozambik
44
31.616.078
Belgia
79
25.672.563
Uni Emirat Arab
98
24.922.054
Portugal
87
24.616.852
Rwanda
65
22.715.578
Swedia
75
22.674.504
Uganda
24
21.756.456
Yunani
74
21.111.318
Kazakstan
49
20.918.681
Angola
21
20.397.115
Ghana
23
18.643.437
Irak
18
18.636.865
Kenya
17
18.535.975
Austria
73
18.418.001
Israel
66
18.190.799
Guatemala
35
17.957.760
Hong Kong
86
17.731.631
Ceko
64
17.676.269
Rumania
42
16.827.486
Hungaria
64
16.530.488
Republik Dominika
55
15.784.815
Swiss
69
15.759.752
Aljazair
15
15.205.854
Honduras
53
14.444.316
Singapura
92
14.225.122
Bolivia
51
13.892.966
Tajikistan
52
13.782.905
Azerbaijan
47
13.772.531
Denmark
82
13.227.724
Belarus
67
13.206.203
Tunisia
53
13.192.714
Pantai Gading
20
12.753.769
Finlandia
78
12.168.388
Zimbabwe
31
12.006.503
Nikaragua
82
11.441.278
Norwegia
74
11.413.904
Selandia Baru
80
11.165.408
Kosta Rika
81
11.017.624
Irlandia
81
10.984.032
El Salvador
66
10.958.940
Laos
69
10.894.482
Yordania
44
10.007.983
Paraguai
48
8.952.310
Tanzania
7
8.837.371
Uruguai
83
8.682.129
Serbia
48
8.534.688
Panama
71
8.366.229
Sudan
10
8.179.010
Kuwait
77
8.120.613
Zambia
24
7.199.179
Turkmenistan
48
7.140.000
Slovakia
51
7.076.057
Oman
58
7.068.002
Qatar
90
6.981.756
Afghanistan
13
6.445.359
Gini
20
6.329.141
Libanon
35
5.673.326
Mongolia
65
5.492.919
Kroasia
55
5.258.768
Lithuania
70
4.489.177
Bulgaria
30
4.413.874
Suriah
10
4.232.490
Wilayah Palestina
34
3.734.270
Benin
22
3.681.560
Libia
17
3.579.762
Niger
10
3.530.154
Kongo
2
3.514.480
Siera Lione
23
3.493.386
Bahrain
70
3.455.214
Togo
18
3.290.821
Kirgyztan
20
3.154.348
Somalia
10
3.143.630
Slovenia
59
2.996.484
Burkina Faso
7
2.947.625
Albania
43
2.906.126
Georgia
32
2.902.085
Latvia
70
2.893.861
Mauritania
28
2.872.677
Botswana
63
2.730.607
Liberia
41
2.716.330
Mauritius
74
2.559.789
Senegal
6
2.523.856
Mali
6
2.406.986
Madagaskar
4
2.369.775
Chad
12
2.356.138
Malawi
8
2.166.402
Moldova
26
2.165.600
Armenia
33
2.150.112
Estonia
64
1.993.944
Bosnia dan Hersegovina
26
1.924.950
Bhutan
86
1.910.077
Republik Macedonia Utara
40
1.850.145
Kamerun
4
1.838.907
Kosovo
46
1.830.809
Siprus
72
1.788.761
Timor Leste
52
1.638.158
Fiji
70
1.609.748
Trinidad dan Tobago
51
1.574.574
Jamaika
24
1.459.394
Makau
89
1.441.062
Malta
91
1.317.628
Luksemburg
73
1.304.777
Sudan Selatan
10
1.226.772
Republik Afrika Tengah
22
1.217.399
Brunei Darussalam
97
1.173.118
Guyana
58
1.011.150
Maldives
71
945.036
Lesotho
34
933.825
Yaman
1
864.544
Kongo
12
831.318
Namibia
16
825.518
Gambia
14
812.811
Islandia
79
805.469
Cape Verde
55
773.810
Montenegro
45
675.285
Komoros
34
642.320
Papua Nugini
3
615.156
Guinea-Bissau
17
572.954
Gabon
11
567.575
eSwatini
29
535.393
Suriname
40
505.699
Samoa
99
494.684
Belize
53
489.508
Equatorial Guinea
14
484.554
Kepulauan Salomon
25
463.637
Haiti
1
342.724
Bahama
40
340.866
Barbados
53
316.212
Vanuatu
40
309.433
Tonga
91
242.634
Jersey
80
236.026
Djibouti
16
222.387
Seychelles
82
221.597
Sao Tome dan Principe
44
218.850
Isle of Man
79
189.994
Guernsey
81
157.161
Andora
69
153.383
Kiribati
50
147.497
Kepulauan Cayman
90
145.906
Bermuda
77
131.612
Antigua dan Barbuda
63
126.122
Saint Lucia
29
121.513
Gibraltar
123
119.855
Kepulauan Faroe
83
103.894
Grenada
34
89.147
Greenland
68
79.745
St Vincent dan Grenadines
28
71.501
Liechtenstein
69
70.780
Kepulauan Turks dan Caicos
76
69.803
San Marino
69
69.338
Dominika
42
66.992
Monako
65
65.140
Federasi Saint Kitts dan Nevis
49
60.467
British Virgin Islands
59
41.198
Kepulauan Cook
84
39.780
Anguila
67
23.926
Nauru
79
22.976
Burundi
0,12
17.139
Tuvalu
52
12.528
Saint Helena
58
7.892
Montserrat
38
4.422
Kepulauan Falkland
50
4.407
Niue
88
4.161
Tokelau
71
1.936
Pitcarn Islands
100
94
British Indian Ocean Territory
0
0
Eritrea
0
0
Korea Utara
0
0
South Georgia and the South Sandwich Islands
0
0
Vatikan
0
0

Upgrade browser Anda untuk melihat data interaktif