Bushido: Buku yang mengubah citra Jepang di mata dunia

ilustrasi samurai

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Bushido: The Soul of Japan pertama kali terbit pada tahun 1900.
    • Penulis, Michiyo Nakamoto
    • Peranan, The Collection, BBC

The Last Samurai, film epik Hollywood, menceritakan kisah Katsumoto, seorang samurai pemberontak yang mendedikasikan hidupnya untuk melawan kekuatan-kekuatan yang ia yakini merusak nilai-nilai tradisional Jepang.

Diceritakan dari sudut pandang Kapten Angkatan Darat AS Nathan Algren - yang direkrut oleh Tentara Kekaisaran Jepang untuk membantu melawan pemberontak, tetapi malah berakhir dalam tawanan mereka - Katsumoto dan kelompok samurai pemberontaknya menjadi contoh sempurna sosok kesatria terhormat: tak kenal takut, berdedikasi, pekerja keras dan disiplin tapi juga bersikap sopan dan baik kepada tawanan mereka.

Setelah menyaksikan budi luhur para samurai, Algren jadi berpihak pada Katsumoto dan membantunya dalam menjalankan misinya yang amat penting.

Samurai

Sumber gambar, Heritage Images/Getty Images

Keterangan gambar, Selama bertahun-tahun, samurai digambarkan sebagai model keunggulan fisik dan kejujuran moral.

Dari film blockbuster sampai drama televisi Jepang, selama bertahun-tahun samurai telah digambarkan sebagai model keunggulan fisik dan kejujuran moral, yang menjunjung tinggi kehormatan dan kesetiaan di atas nyawa mereka.

Citra samurai ini, meskipun tidak akurat secara historis, begitu mengakar dalam imajinasi publik, sebagian besar karena sebuah buku tipis yang ditulis dalam bahasa Inggris pada penghujung Abad ke-20 oleh Inazō Nitobe.

Baca juga:

Bushido: The Soul of Japan, yang pertama kali diterbitkan pada 1900 dan menjadi bestseller internasional hingga hari ini, dipublikasikan kembali tahun ini oleh penerbit Penguin sebagai bagian dari seri Great Ideas.

Meskipun ia hanyalah satu dari sekian banyak buku tentang bushido ('jalan kesatria'), buku Nitobe masih menjadi salah satu sumber paling berpengaruh bagi mereka yang berusaha memahami sistem nilai yang masih meresap ke banyak aspek masyarakat Jepang sampai hari ini.

Kode moral

Melalui bukunya, Nitobe, seorang ahli ekonomi pertanian, pendidik, diplomat, dan penganut Kristen yang menjabat Wakil Sekretaris Jenderal Liga Bangsa-Bangsa dari 1919 hingga 1929, berusaha menjelaskan ke masyarakat Barat (termasuk istrinya, Mary) nilai-nilai moral yang mendasari budaya Jepang.

Menurut Nitobe, nilai-nilai tersebut berakar dari bushido, yang ia definisikan sebagai kode prinsip moral para samurai.

Bushido, menurut Nitobe, mengharuskan samurai untuk memiliki rasa keadilan yang kuat serta keberanian untuk menegakkan keadilan itu. Ia mengajarkan kebajikan dan kesopanan, kejujuran, kehormatan, dan kesetiaan pada otoritas yang lebih tinggi.

"Rasa kehormatan, menyiratkan kesadaran yang kuat akan harga diri, selalu menjadi karakter sang samurai..." tulis Nitobe.

Kenyataan atau fantasi?

Kenyataannya agak berbeda, dan para sejarawan menilai deskripsi Nitobe tentang samurai terlalu romantis.

"Samurai dan daimyo (tuan feodal) tidak benar-benar menjalani kehidupan yang penuh kehormatan dan kesetiaan," kata Sven Saaler, profesor sejarah modern Jepang di Sophia University di Tokyo.

"Kalau ada kesempatan, mereka juga akan membunuh tuan mereka dan mengambil posisinya."

cherry blossom

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, "Chivalry adalah bunga, yang juga tumbuh secara alami di tanah Jepang seperti halnya lambang negaranya, sakura...," tulis Nitobe.

Dalam karya seminalnya, Nitobe, yang berasal dari keluarga samurai, juga mengklaim bahwa nilai-nilai samurai dianut oleh semua orang Jepang.

"Semangat bushido meresap ke semua kelas sosial," tulis Nitobe.

Namun berlawanan dari klaim Nitobe, pada zaman Edo (1603-1868) samurai banyak dicerca karena menyalahgunakan hak istimewa mereka pada masa kemampuan bela diri mereka sudah menjadi usang akibat stabilitas sosial yang telah berlangsung selama dua abad.

Namun, tujuan Nitobe dalam menulis buku ini bukanlah untuk menawarkan catatan sejarah yang akurat tentang samurai, melainkan menunjukkan dunia luar bahwa Jepang memiliki sistem nilai yang serupa dengan moralitas Kristen.

Dengan demikian, Nitobe terus-menerus merujuk ke filosofi dan literatur Eropa serta mempersamakan bushido dengan kode kesatria alias chivalry para kesatria Eropa.

"Chivalry adalah bunga, yang juga tumbuh secara alami di tanah Jepang seperti halnya lambang negaranya, sakura...," tulis Nitobe.

Menurut Saaler, Nitobe berusaha untuk melawan rasisme dan paranoia akan 'Ancaman Kuning' di Barat dengan membentuk citra samurai, dan dengan itu orang Jepang, sebagai sosok yang tidak hanya berani tetapi juga bersifat kesatria. Hanya empat tahun sebelum bukunya diterbitkan, Jepang baru saja menang perang melawan China dari 1894 hingga 1895.

Kesuksesan militer tersebut, yang mengejutkan kekuatan-kekuatan Barat pada masa itu, segera diikuti oleh kemenangan Jepang dalam Perang Rusia-Jepang tahun 1904 dan 1905.

Membuat klaim

Buku Nitobe bertujuan untuk mengonter ketakutan bahwa Jepang suatu hari nanti akan menjadi ancaman bagi Eropa dan "membangun citra yang sangat positif tentang Jepang sebagai negara yang militernya kuat namun beradab dan berperilaku beradab dalam perang," kata Saaler.

Menurut Eri Hotta, sejarawan dan penulis buku Japan 1941: Countdown to Infamy, buku tersebut juga merupakan "upaya untuk menempatkan Jepang di posisi setara dengan negara-negara terkuat Barat sehingga mereka dapat mengklaim hak untuk menjadi tuan para koloni."

Potret samurai

Sumber gambar, The Print Collector/Getty Images

Keterangan gambar, Potret samurai mengenakan baju zirah pada 1882.

Pujian internasional terhadap bukunya menunjukkan bahwa Nitobe sukses dalam tujuannya mendokumentasikan nilai-nilai Jepang dan dengan demikian meningkatkan citra negara itu di mata Barat.

Terbit pada saat minat terhadap Jepang sedang tumbuh, menyusul kemenangan militer negara itu atas China dan Rusia, buku Nitobe mendapat penggemar di antara pembaca Barat yang terkesan sekaligus terheran-heran dengan kebangkitan Jepang yang menakjubkan.

Bagi pembaca Barat, keberanian, kejujuran moral, dan nilai-nilai lain dari bushido yang dijelaskan dalam buku Nitobe menjadi penjelasan yang meyakinkan tentang bagaimana sebuah negara kecil, dan sampai saat itu tidak terkenal, dapat mengalahkan tetangganya yang jauh lebih besar dan tampaknya lebih kuat.

"Buku Nitobe menawarkan suatu cara untuk menjelaskan sumber kekuatan Jepang yang semakin besar," kata Lance Gatling, penulis The Kano Chronicles, buku tentang pendiri bela diri judo, Jigoro Kano.

"Itu adalah salah satu buku Barat pertama tentang budaya Jepang, dan terjual laris manis."

Samurai dalam film

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Bushido, menurut Nitobe, mengharuskan samurai untuk memiliki rasa keadilan yang kuat dan keberanian untuk menegakkan keadilan itu.

Daya pikat bushido sebagai kode moral bahkan menarik perhatian Presiden AS saat itu, Theodore Roosevelt, yang merupakan seorang praktisi judo.

Dalam sepucuk surat kepada diplomat dan politikus, Pangeran Kentaro Kaneko, tertanggal 13 April 1904, Roosevelt menulis: "Saya sangat terkesan dengan buku tentang Bushido. Saya belajar cukup banyak dari apa yang saya baca tentang semangat Samurai yang hebat …"

Robert Baden-Powell, pendiri Pramuka, menulis bahwa salah satu tujuan dari skema Pramuka adalah " menghidupkan kembali beberapa aturan kesatria dari zaman dahulu, yang sangat memengaruhi nada moral ras kita, seperti yang telah dilakukan, dan masih dilakukan Bushido untuk Jepang."

Berbeda dengan sambutan meriah yang diterimanya di luar negeri, buku Nitobe banyak dikritik di Jepang karena tidak akurat, menurut Oleg Benesch dalam bukunya Inventing the Way of the Samurai.

Namun demikian, keberhasilan internasionalnya dirayakan di Jepang, dan dengan menanamkan gagasan bahwa ketulusan moral Jepang memberinya hak untuk bergabung dengan kelompok istimewa negara-negara kolonial Barat, buku Nitobe "membuat orang Jepang percaya bahwa mereka semua adalah pewaris nilai-nilai yang luhur dan bahwa mereka berhak untuk membenarkan yang salah," kata Hotta. "Itu penting untuk citra diri orang Jepang."

Kelompok samurai

Sumber gambar, Kusakabe Kimbei/Hulton Archive/Getty Images

Keterangan gambar, Karya Nitobe membantu mengidealisasikan citra samurai di luar Jepang.

Setelah Perang Dunia Kedua, bushido, yang dikaitkan dengan militerisme Jepang, menjadi "target kebencian rakyat" di Jepang, tulis Benesch.

Baru-baru ini, minat terhadap bushido kembali tumbuh dan buku Nitobe mendapat pengakuan internasional lagi pada 1980-an, ketika dunia berusaha memahami sumber kemajuan pesat ekonomi dan teknologi di Jepang modern.

Lee Teng-hui, mantan Presiden Taiwan yang baru saja meninggal, mengingatkan masyarakat Jepang akan pentingnya buku itu dalam memoar tahun 2006 yang menjabarkan bagaimana buku itu memengaruhi kehidupan dan pemikirannya sendiri.

Namun, terlepas dari naik-turunnya minat, Nitobe dan bukunya tidak terlalu populer di Jepang. Bahkan mereka yang tahu Nitobe lebih sering mengingatnya sebagai wajah pada uang kertas 5.000 yen dari tahun 1984 hingga 2004.

Bushido dalam olahraga

Banyak nilai yang diidentifikasi Nitobe sebagai bagian dari ajaran bushido - kesopanan terhadap orang lain, penghargaan tinggi terhadap kehormatan pribadi, pengendalian diri, dan kesetiaan kepada otoritas yang lebih tinggi - masih menjadi inti pandangan orang Jepang tentang perilaku yang pantas.

Bushido secara luas diangkat dalam olahraga, dengan tim bisbol nasional Jepang dijuluki 'Samurai Jepang', dan tim sepak bola nasional pria disebut 'Samurai Biru'.

Tetapi prevalensi nilai-nilai bushido dalam masyarakat Jepang lebih merupakan cerminan dari pengaruh ideologi Konfusianisme daripada buku Nitobe, menurut Yukiko Yuasa, asisten profesor di Universitas Teikyo Heisei di Tokyo.

"Banyak ajaran yang muncul dalam buku Nitobe adalah bagian dari perilaku orang Jepang, jadi mereka tidak perlu membaca buku untuk mempelajari nilai-nilai itu," katanya.

Namun demikian, buku Nitobe terus menginformasikan dunia luar tentang nilai-nilai yang tetap menjadi inti masyarakat Jepang.

Dengan demikian, Bushido: The Soul of Japan diharapkan dapat membantu membentuk pemahaman dunia tentang Jepang selama bertahun-tahun yang akan datang.