Tempe, olahan 'permata yang masih tersembunyi' di Inggris - dari lodeh, lasagna, sampai English Breakfast

Oliver Laudus, Alexandra Longton dan William Mitchell mencoba berbagai menu tempe.
Keterangan gambar, Oliver Laudus, Alexandra Longton dan William Mitchell mencoba berbagai menu tempe.
    • Penulis, Endang Nurdin
    • Peranan, BBC News Indonesia

Sejumlah pembuat tempe di Inggris mengatakan makanan super ini semakin digemari dan mereka berusaha mengolah berbagai resep untuk terus menarik minat masyarakat.

Salah seorang produsen, William Mitchell, telah memproduksi tempe dalam delapan tahun terakhir. Dia mengaku mencoba berbagai resep di warung tempenya di tengah kota London agar para pelanggan dapat merasakan tempe dalam menu yang beragam.

William mengatakan salah satu menu favorit di warungnya adalah lodeh tempe serta tempe jinten. Namun para pelanggannya masih banyak yang bertanya cara mengolahnya.

"Dibandingkan dengan sekitar 10 tahun lalu, beda sekali. [Sekarang] sudah banyak orang yang tahu tempe, tetapi masih banyak yang tanya ke saya cara memasaknya," kata William yang memproduksi tempe segar.

Produsen tempe lain, Alexandra Vellasco Longton, mengatakan hal senada.

"Bila semua orang tahu, bagaimana lezatnya, tinggi gizi, dan serba gunanya tempe, makanan ini akan menjadi alternatif daging yang paling laris di Inggris," kata Alexandra kepada BBC News Indonesia.

"Saat ini, hanya orang yang pernah ke Indonesia yang tahu tentang tempe, masih menjadi permata yang tersembunyi...Tetapi dalam beberapa tahun terakhir perkembangan minat orang sangat pesat," tambah Alexandra menyebut tempe sebagai makanan magis.

Olivier Laudus yang memulai membuat tempe tahun lalu, juga menghadapi banyak pertanyaan dari para juru masak tentang cara mengolahnya.

Baca juga:

"Sebagian besar chef (juru masak) yang saya temui sudah tahu tentang tempe namun mereka tak tahu mau diapakan," kata Olivier.

Melihat tekstur unik tempe, makanan nabati ini dapat dibuat dengan "resep tak terbatas", menurut Jeremy Pang, pendiri School of Wok, sekolah masakan Asia dan Oriental di London.

Jeremy - yang banyak tampil di acara masak televisi Inggris, termasuk di acara TV BBC, Ready Steady Cook - mengaku baru pertama mencoba memasak dengan tempe segar saat mencoba dua resep bersama BBC, yakni sate tempe dan terong panggang disiram sambal tempe. Sebelumnya ia mencoba beberapa kali menggunakan tempe beku.

Tidak seperti di Indonesia, sebagian besar tempe yang dijual di supermarket Eropa, adalah tempe yang sudah dipasteurisasi dan dijual dalam bentuk beku.

Keterangan video, Tempe: ‘Hadiah Indonesia untuk Dunia‘

Jeremy memperkirakan tempe akan menjadi "makanan yang sangat-sangat populer secara internasional" dan bahwa "saat ini adalah momen tempe untuk bersinar."

Dari lodeh tempe sampai menu ala Afrika dan India

William Mitchel.
Keterangan gambar, William di warung tempenya pada 2017.

Satu siang pada akhir Mei lalu, sejumlah kios makanan mulai buka di pasar Leather Lane, suatu jalan di tengah kota London.

Pemerintah Inggris melonggarkan protokol kesehatan dengan memperbolehkan kios-kios menjual makanan untuk dibawa, pada pertengahan April lalu. Dan baru pertengahan Mei, semua restoran diizinkan dibuka untuk pengunjung setelah tutup selama lockdown sejak Desember.

Biasanya ada puluhan kios di tempat ini. Warung milik William Mitchell termasuk di antara puluhan kios itu, namun ia baru berencana membukanya lagi pada September atau Oktober mendatang.

"Warung sudah tutup karena pandemi, orang nggak ada yang kerja di kantor. Dua atau tiga bulan lagi akan buka lagi. Kasihan ya saya," katanya terkekeh saat ditemui akhir Mei lalu.

Orang-orang yang bekerja di gedung seputar pasar menjadi konsumen tetap kios-kios di sana.

Ia bercerita mengganti nama warungnya menjadi the Tempeh Man, panggilan para pelanggan yang sering ditujukan kepadanya.

William Mitchell mencoba berbagai resep tempe.

Sumber gambar, The Tempeh Man

Keterangan gambar, William Mitchell mencoba berbagai resep tempe.

"Dulu namanya Warung Tempe, tapi susah orang Inggris mengingat dan mengucapkan kata warung," tambahnya.

Dari ribuan porsi yang dia jual selama bertahun-tahun, salah satu menu favorit adalah kari tempe kuning, alias lodeh.

"Orang suka lodeh tempe, selain juga tempe jinten. Yang terakhir ini resep yang saya buat sendiri. Tapi orang suka juga, Saya buat seperti nasi rames."

Walaupun tutup dalam 14 bulan terakhir, William mengatakan tengah menyusun rencana penjualan tempe segar secara daring sembari merencanakan membuka warungnya lagi.

Satu hal penting yang ia lakukan, katanya lagi, adalah mempelajari berbagai menu untuk menjawab pertanyaan para pelanggan yang masih sering bingung mengolah tempe.

"Saya datang ke restoran-restoran dan mereka tanya bagaimana masaknya? Mereka ingin coba, tapi tak tahu caranya. Jadi saya ajar mereka, saya eksperimen di dapur. Tempe cocok untuk macam-macam. Bisa dipanggang, digoreng," katanya bersemangat memamerkan upayanya mengajari orang masak tempe lewat YouTube.

"Saya juga coba menu dari Afrika dengan bumbu kacang...ada juga resep dari India...London kota kosmopolitan, jadi orang suka berbagai rasa, karena itu saya juga eksperimen macam-macam," tambahnya.

English breakfast sampai lasagna

Sarapan Inggris, English Breakfast, daging diganti tempe.

Sumber gambar, Tiba Tempeh

Keterangan gambar, Sarapan Inggris, English Breakfast, daging diganti tempe.

Di antara sejumlah menu yang dicoba Alexandra dan suaminya, Ross, adalah sarapan ala Inggris alias English Breakfast, rendang tempe, pasta, serta makanan khas Meksiko, tacos.

"Tempe merupakan alternatif pengganti bacon (daging babi asap), khususnya dengan resep tempe marinasi dan cocok untuk full English breakfast, (sajian sarapan lengkap ala Inggris),," kata Alex yang bersama suaminya, Ross memulai bisnis yang mereka namakan Tiba Tempeh pada November 2019.

"Kami membagikan berbagai resep agar semua orang mencoba protein nabati," katanya lagi sambil menambahkan resep paling populer yang baru-baru ini ditampilkan di jaringan televisi Inggris adalah tacos.

Alex dan suaminya di Wholefood supermarket, London.

Sumber gambar, Tiba Tempeh

Keterangan gambar, Alex dan suaminya, Ross di Wholefood supermarket, London.

Sementara Olivier Laudus yang memulai usaha Pro Tempeh, mengatakan dirinya sengaja berdiskusi dengan para juru masak di restoran-restoran untuk melengkapi menu.

"Saya jelaskan tentang manfaat dan teksturnya. Kami bicarakan banyak hal untuk melengkapi menu, dalam bentuk salad, atau menu-menu lain. Perlu waktu bagi juru masak untuk memperkenalkan tempe, namun begitu mereka melihatnya mereka sangat senang," katanya.

"Tempe bisa dicincang untuk dijadikan bakso atau kofta (menu Turki, Yunani), lasagna dan banyak lainnya...Hanya menunggu waktu sebelum tempe dikenal secara internasional," kata Olivier.

Tempe lasagna.

Sumber gambar, Pro Tempeh

Keterangan gambar, Tempe lasagna.

Bisakah tempe menjadi sumber penghasilan?

Bagi produsen tempe di Inggris - baik William yang sudah delapan tahun maupun Alexandra dan Olivier yang baru aktif dalam dua tahun terakhir - tantangan "terbesar adalah mengajarkan orang memasak tempe".

Namun Alexandra mengatakan ia tetap semangat mengolah "rahasia Indonesia yang luar biasa ini."

Saat ini, tempe olahan, yang mereka jual di supermarket di Inggris dan juga melalui online, diproduksi di Belanda, menurut Alexandra.

Tetapi apakah tempe bisa jadi sumber penghasilan?

"Bisa, tetapi harus produksi tempe segar dan juga punya warung. Kalau hanya menjual tempe, tak cukup. Satu kilogram tempe di awarung bisa dijual dalam 10 porsi makan siang," kata William.

Ia mengaku perlu waktu sekitar tiga tahun berjualan sebelum menghasilkan laba.

"Saya dulu suka makan tempe, sekarang bisa saya katakan hidup saya adalah tempe, Kerja tempe, makan tempe, tidur mimpi tempe, mikir resep tempe. Semua hidup saya tempe," katanya terbahak.

"Ini bisnis saya juga, jadi saya setengah tempe, setengah orang," sambungnya.

Bagi Olivier Laudus, bisnis tempe ini dia sebut "jalan masih panjang dan tak mudah untuk memasarkan produk yang belum dikenal luas.

Olivier Ladus mengatakan sering berdiskusi dengan para juru masak soal menu tempe.

Sumber gambar, Pro Tempeh

Keterangan gambar, Olivier Laudus mengatakan sering berdiskusi dengan para juru masak soal menu tempe.

Ia juga mengatakan sasaran penjualan tempe bukan hanya vegetarian namun juga orang fleksitarian - sebutan bagi orang yang mencoba mengurangi makan daging.

"Tahun-tahun untuk belajar dan salah perhitungan. Tapi itulah tantangannya. Dan kami sangat optimistis dengan masa depan tempe," katanya lagi menyebut bisnis ini masih jadi sampingan.

Namun bagi William dan Olivier yang memproduksi tempe segar, yang perlu diperhatikan adalah memastikan produk bisa disalurkan secara cepat.

"Semua tempe di Indonesia adalah tempe segar, dan saya tetap ingin mempertahankan itu," tutup William yang belajar membuat tempe di sejumlah kota di Jawa, termasuk di Kampung Sanan, Malang, Jawa Timur.