You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Piala Oscar: Chloe Zhao cetak sejarah, bagaimana jejak sineas Asia selama sembilan dekade?
Chloe Zhao dengan film besutannya, Nomadland, mencetak sejarah. Sejak Piala Oscar dihelat pada 1929, dia berhasil menjadi perempuan Asia pertama yang menyandang predikat 'sutradara terbaik' dalam ajang sinema bergengsi ini. Adapun Nomadland diganjar sebagai film terbaik. Pencapaian ini membulatkan jumlah pemenang Oscars dari Asia menjadi 25 orang selama sembilan dekade.
Film yang bercerita soal gaya hidup nomaden ini dinominasikan dalam enam kategori dan separuhnya menyabet trofi: Film Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Aktris Terbaik.
Apakah kemenangan ini membuka jalan bagi film dan sineas Asia untuk memahat kemenangan selanjutnya dalam kompetisi Academy Awards, menyusul kesuksesan Parasite tahun lalu?
"Kemenangan ini memberikan harapan," ujar pakar film berbasis di Hong Kong, Lon Tin, kepada BBC. Dia percaya sineas Asia dan aktor Asia mendapatkan keuntungan dari tren ini di kancah Hollywood.
"Sangat jelas bahwa tahun ini Oscars memberikan penghargaan kepada perempuan minoritas dan kelompok lainnya, yang selama berpuluh dekade kurang tergambarkan dalam industri ini," katanya.
Dengan kemenangan Zhao, Academy Awards 2021 menjadi ajang paling 'beragam' dalam sejarah perfilman Amerika Serikat. Sebanyak sembilan dari 20 nomine berasal dari kalangan nonkulit putih. Kemudian, untuk pertama kalinya dua perempuan dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik.
Baca juga:
Meski demikian, perlu dicatat bahwa kemenangan Zhao dan sineas Bong Joon-ho melalui Parasite bukan "kesuksesan yang tiba-tiba."
"Sineas dari China, Hong Kong, Taiwan, Korea, Jepang dan berbagai negara telah membuktikan diri mereka. Keterampilan dan kelihaian mereka sudah ada sejak lama," ujar Lon Tin.
"Tapi, perjalanan mereka kali ini menunjukkan bahwa sineas Asia layak mendapatkan penghargaan."
Sentuhan Asia dalam industri Hollywood sudah ada sejak dulu. Para punggawa perfilman seperti George Lucas, Steven Spielberg dan Quentin Tarantino mengakui bahwa mereka terinspirasi dari beragam sutradara Asia seperti Akira Kurozawa hingga John Woo.
Tapi, dalam konteks Piala Oscar, keberadaan pemain dan seniman perfilman Asia bisa jadi lain cerita.
Sejak 1929, representasi Asia hanya ada tiga dari 10 nominasi. Dari nominasi tersebut, hanya 25 pemenang berasal dari Asia.
Wartawan BBC, Zhijie Shao dan Aghnia Adzkia, menelisik lebih dalam nominasi dan pemenang Oscar dalam sembilan kategori utama; aktor, aktor pendukung, aktris, aktris pendukung, film fitur internasional, film animasi, sutradara, film dokumenter, dan film terbaik.
Setelah tahun 2000, jumlah nominasi dari Asia dalam Piala Oscar melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan dekade sebelumnya.
Film Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000) dinominasikan dalam tiga kategori utama: Film Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Film Asing Terbaik. 'Parasite' juga berkompetisi dalam kategori yang sama pada Oscar 2020. Sementara Nomadland (2020) berkompetisi dalam kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik.
Gemilang perempuan Asia
Zhao adalah sutradara keempat dari Asia yang pernah dinominasikan dalam sejarah Piala Oscar. Dia mengikuti jejak dua sineas Jepang, yakni Hiroshi Teshigara yang menggarap film Woman in the Dunes (1966); serta Akira Kurosawa yang membesut Ran (1986).
Kemudian sutradara Taiwan, Ang Lee yang menyutradarai Crouching Tiger, Hidden Dragon (2001). Serta sineas Korsel, Bong Joon-ho, dengan film arahannya, Parasite (2020).
Selain Zhao, nama perempuan Asia lainnya mencakup Youn Yuh-jung di film Minari (2021) yang mencetak sejarah sebagai representasi Asia keempat dalam kategori aktris pendukung, lantas Miyoshi Umeki, Shohreh Aghdashloo, serta Rinko Kikuchi.
Setelah enam dekade yang sunyi sejak kemenangan Miyoshi Umeki pada 1958, Yuh-jung berhasil menyabet trofi mengalahkan aktris tenar, Glenn Close.
Baca juga:
Lantas, siapa saja seniman sinema Asia yang berhasil melenggang di karpet merah sambil membawa trofi Oscar?
Bagaimana masa depan Asia?
Dengan meningkatnya unsur keberagaman dalam Piala Oscar, apakah menjadi jaminan bahwa sineas Asia akan menorehkan tinta emas selanjutnya?
Meski ada berbagai alasan untuk optimistis, kritikus film menilai tetap ada tantangan yang perlu dilalui.
"Jika melihat dari perspektif realitas, pada akhirnya ini adalah bisnis," ujar Tin.
"Seberapa banyak film Asia, misal, yang bisa tayang di Amerika? Bukan hanya lolos dalam festival film, tapi bioskop, itulah yang penting," tambahnya.
Bagi Tin, yang juga merupakan dosen tamu pada Academy of Film di Hong Kong Baptist University, film Bollywood jarang terlihat di bioskop negara-negara Barat ketimbang film-film eksperimental Asia, karena cara kerja sistem bisnis.
Kuncinya, menurutnya, adalah terbukanya jaringan distribusi dan ragam kebudayaan global.
"Pada akhirnya, ini bukan hanya soal bagaimana film Asia bisa masuk ke industri Amerika tetapi juga bagaimana film Afrika ke Amerika, atau sebaliknya," ucapnya.
Baca juga:
Pun, ada hambatan budaya.
Dalam pidato kemenangannya, Bong Joon-ho mengatakan: "Ketika Anda berhasil mematahkan hambatan terjemahan dalam bahasa, Anda akan lebih mengetahui banyak film-film menakjubkan."
"Ini membutuhkan waktu untuk film-film Asia agar dihargai oleh mayoritas audiens di Amerika," katanya.
Menurutnya, ini adalah upaya bersama oleh pekerja industri perfilman, termasuk distributor film, kritikus film berbahasa Inggris, dan media untuk membuat film Asia lebih mudah diakses audiens, dalam konteks bisnis dan kultur.
Dalam konteks ini, Zhao berhasil merepresentasikan keduanya.
Lahir di China dan menyelami pendidikan di Inggris dan kini tinggal di Amerika, Zhao belum membuat debut film berbahasa China. Proyek selanjutnya yang sedang ia garap yakni Blockbuster dari Marvel.
Sejumlah penggemarnya membandingkan Zhao dengan Ang Lee, sineas Taiwan yang memenangkan dua piala Oscar, yang memulai debutnya dengan membuat film berbahasa Mandarin sebelum menggarap Brokeback Mountain, Life of Pi, dan Billy Lynn's Long Halftime Walk.
"Zhao dapat memposisikan dirinya dalam ekosistem Hollywood," ujar Tin sembari menambahkan, hambatan kultur muncul dalam bentuk lainnya.
Terlepas dari jalan karier yang ditempuh keduanya, kritikus film ini mengungkapkan, kebangkitan kekuatan Asia dalam Oscar menjadi sebuah anugerah.
"Jika boleh diartikan, ini saatnya sineas Asia untuk lebih menantang diri mereka, untuk mencoba," tutupnya.