Piala Oscar: 'Perempuan Tanah Jahanam' jadi film horor pertama yang mewakili Indonesia di Academy Awards, hapus 'kasta' dalam genre film

    • Penulis, Ayomi Amindoni
    • Peranan, BBC News Indonesia
  • Waktu membaca: 6 menit

Film karya sutradara Joko Anwar, Perempuan Tanah Jahanam, terpilih sebagai wakil Indonesia di ajang Academy Awards. Film ini sekaligus menjadi film horor pertama yang mewakili Indonesia dalam ajang penghargaan film bergengsi tersebut.

Sutradara Joko Anwar, yang telah malang melintang di dunia film, menyebut terpilihnya Perempuan Tanah Jahanam mewakili Indonesia dalam ajang penghargaan film internasional sebagai "angin segar" bagi genre film horor yang selama ini dipandang sebagai "kasta rendah" oleh sineas Indonesia.

"Dengan terpilihnya Perempuan Tanah Jahanam mereka sudah menganggap semua film, genre apapun sama asal dikerjakan dengan baik, hasilnya baik dan dianggap setara dengan film dari berbagai genre," ujar Joko kepada BBC News Indonesia, Kamis (12/11).

Sineas Garin Nugroho, yang sekaligus merupakan ketua komite seleksi film Indonesia untuk ajang Academy Awards, mengakui adanya "kasta" dalam industri film itu dan menegaskan "sudah saatnya ada demokratisasi dalam genre film".

"Karena kebanyakan kita dari dulu film-film horor dan film action dianggap selalu kelas kedua kan dan oleh karena itu kita komite seleksi selalu memberikan landasan bahwa tidak ada suatu stereotip terhadap genre," jelas Garin.

Komite seleksi film Indonesia untuk ajang Academy Awards menetapkan Perempuan Tanah Jahanam menjadi wakil Indonesia di ajang Academy Awards dari 59 film yang masuk dalam daftar seleksi.

Jumlah ini dua kali lipat lebih sedikit ketimbang daftar seleksi sebelumnya, disebabkan pandemi Covid-19 yang membuat produktivitas dan film yang ditayangkan di bioskop jauh film berkurang.

Setelah terpilih, Perempuan Tanah Jahanam masih harus melalui sejumlah tahapan sebelum akhirnya ditetapkan sebagai nominasi kategori film fitur internasional terbaik pada Academy Awards 2021.

'Merepresentasikan mistisme'

Garin mengungkapkan, selain untuk menghapus stereotip tentang film horor, komite seleksi menganggap Perempuan Tanah Jahanam memilik "unsur-unsur yang menjadi syarat-syarat profesionalisme film-film internasional", baik dari sisi sinematografi dan artistik.

"Di sisi lain, kita juga lihat dari sisi penyutradaraaan, meskipun dikemas dalam suatu unsur-unsur yang komunikatif sebagi film hiburan, tetapi Perempuan Tanah Jahanam tetap memiliki estetika personal seorang sutradara, yakni Joko Anwar," jelas Garin.

"Dan mistisme adalah bagian dari apa yang disebut sebagai kecenderungan dunia dan Perempuan Tanah Jahanam merepresentasikan mistisme dari kebudayaan dan kesenian Jawa dengan sangat kuat," ujarnya kemudian.

Joko Anwar pertama kali mengumumkan terpilihnya Perempuan Tanah Jahanam mewakili Indonesia melalui akun Twitternya, pada Selasa (10/10).

Menanggapi penilaian komite seleksi, dia menuturkan pengakuan terhadap karya film horor baik untuk edukasi publik.

Alasannya, meskipun publik telah familiar dengan genre film horor sejak 1970-1980an, tapi "di mata masyarakat yang lebih besar belum dianggap sebagai sesuatu yang setara".

"Di Indonesia memang kita secara industri masih sangat muda, baru mulai lagi awal 2000-an, jadi pembuat sama penontonnya masih sama-sama belajar dan tentunya kalau ada film yang dikerjakan dengan baik dan mendapat recognition (pengakuan) bahwa ini telah dikerjakan dengan baik, itu akan baik untuk edukasi publik," kata dia.

Pengamat film Hikmat Darmawan memandang terpilihnya Perempuan Tanah Jahanam sebagai film horor pertama yang mewakili Indonesia di ajang Piala Oscar sebagai "terobosan", namun menurutnya "ada sejumlah catatan".

"Film ini dikatakan hendak jadi wajah film Indonesia, secara teknis ini wajah yang meyakinkan yang menunjukkan kemajuan atau kapasitas yang bagus bagi perfilman Indonesia untuk berlaga di ajang internasional," kata dia.

Akan tetapi, dia menyoroti penggambaran negatif dalam film itu yang menunjukkan penduduk desa sebagai sumber masalah.

"Mungkin akan perlu konteks atau perlu catatan di dalam mengenalkan film ini agar kemudian tidak seolah-olah wajah Indonesia yang penduduk desa itu adalah wajah yang horor," jelas Hikmat kemudian.

Sebelum menjadi wakil Indonesia di Piala Oscar, Perempuan Tanah Jahanam sudah meraih berbagai prestasi internasional, seperti mengikuti ajang Internasional Premiere di festival bergengsi Sundance Film Festival pada Januari 2020.

Film ini juga meraih Melies Award for Best Asian Film di Bucheon Internasional Fantastic Film Festival 2020 di Korea Selatan.

Di dalam negeri, film ini meraih 17 nominasi Piala Citra di ajang Festival Film Indonesia yang akan digelar pada Desember dan menjadi film dengan jumlah nominasi terbanyak sepanjang sejarah gelaran Piala Citra.

'Film horor lebih susah ketimbang genre lain'

Perempuan Tanah Jahanam atau Impetigore yang dirilis pada akhir 2019 merupakan film horor kedua yang disutradarai oleh Joko Anwar.

Sebelumnya, sineas yang lama berkecimpung di genre film drama, thriller dan komedi tersebut membuat film horor Pengabdi Setan pada pada 2017 yang merupakan pembuatan ulang (remake) dari film berjudul sama pada 1980 silam.

Film ini menjadi film terlaris pada tahun itu dengan 4 juta lebih penonton di bioskop.

Kepada BBC News Indonesia, Joko Anwar mengaku lebih sulit membuat film horor ketimbang film genre lainnya.

Joko menjelaskan "ada pandangan awam yang memandang film horor kastanya rendah" karena ketika industri perfilman nasional bangkit pada awal 2000-an, "banyak diisi oleh film horor yang dibuat serampangan".

Kebanyakan film bergenre horor yang dibuat kala itu, kata Joko, dibuat dengan produksi dan cerita yang tidak bagus dan dikerjakan oleh "orang-orang yang berpikir bahwa 'Oh bikin film horor aja gampang, asal ada hantu-hantunya orang akan nonton'".

"Itu salah. Saya pernah bikin film dari berbagai genre tapi saya merasa film horor justru film dengan genre paling sulit untuk dikerjakan, semuanya harus presisi karena kalau kita ngomong film horor ada pakem-pakem cara bercerita," jelas Joko.

Cara-cara untuk menampilkan adegan seram, lanjutnya, juga harus dibuat sedemikian rupa karena "sudah tereksploitasi dengan sangat sering".

"Secara teknis susah karena melibatkan elemen-elemen, kadang-kadang nggak jarang ada visual effect digital. Jadi secara teknis susah, secara story telling juga susah karena harus presisi sekali," kata dia.

'Mengangkat pamor film horor'

Lebih jauh, Joko menjelaskan bahwa pandangan publik terhadap film horor sudah mulai bergeser, ditunjukkan dengan penghargaan kepada film Get Out karya sutradara Jordan Peele yang mendapat memenangi Piala Oscar pada 2017 untuk naskah terbaik, dan dinominasikan dalam sejumlah kategori, termasuk kategori film terbaik.

Tahun ini, ada tiga negara yang mengirim film horor untuk kategori film fitur Internasional terbaik.

Selain Perempuan Tanah Jahanam dari Indonesia, ada La Llorona dari Guatemala dan Roh dari Malaysia.

Garin Nugroho yang juga lama berkecimpung di dunia film, menyebut film horor adalah "genre langka" yang masuk ke nominasi Oscar.

Akan tetapi, Garin melihat belakangan kultur horor dalam sinema Asia menjadi salah satu ekspresi yang paling dilihat dunia, seperti film-film horor dari Thailand, Jepang, dan kini Indonesia.

"Jadi kultur horor ini jadi bagian dari yang disebut sebagai kekuatan sinema Asia karena kultur horor tidak hanya masalah horor, di dalamnya ada unsur tradisi, mistisme, juga sastra dan seni pertunjukkan," jelas Garin.

Pengamat film Hikmat Darmawan menjelaskan bahwa sejak 2010-an genre film horor di dunia tidak lagi menjadi kasta rendah.

Kala itu, banyak sineas muda yang mengangkat film horor secara serius menjadi film arthouse, bahkan tidak lagi menjadi underdog di Box Office.

Namun di Indonesia, kata Hikmat, masih ada bayang-bayang bahwa film horor adalah "kampungan" dan "kelas bawah" .

"Mungkin perspektif negatif tentang film horor juga lebih banyak ada di penonton Indonesia sebetulnya. Jadi ini memang dengan sendirinya turut membantu naiknya pamor atau pesepsi positif terhadap film horor," jelas Hikmat.

Butuh dukungan pemerintah

Sejak 1987, Indonesia telah berpartisipasi mengikui ajang Piala Oscar untuk kategori film fitur Internasional terbaik, yang sebelumnya berjuluk kategori film berbahasa asing terbaik.

Hingga tahun ini, ada 22 film mewakili Indonesia di kategori itu, namun tak ada satupun yang masuk dalam nominasi penghargaan tersebut.

Sutradara Garin Nugroho mengungkap alasan mengapa tak ada film Indonesia yang lolos nominasi Piala Oscar, sejauh ini.

"Ada beberapa aspek, terutama tentu saja apa yang disebut dengan kualitas dan kemampuan berbicara di internasional dalam kancah pandang Academy Awards, itu pasti syarat pertama," jelasnya.

Selain itu, kemampuan managemen promosi juga diperlukan agar publik dan juri Academy Awards agar tertarik dengan film yang diusung tersebut.

"Dan itu memerlukan dana dan managemen yang cukup kuat dan canggih untuk mampu bersaing dengan manajemen dari negara-negara lain yang ikut berkompetisi di Oscar," ungkap Garin.

Dia mengatakan butuh dukungan pemerintah untuk mendapatkan Piala Oscar.

Masalah minimnya dana untuk promosi, diakui oleh Joko Anwar.

"Kita nggak ada campaign untuk itu. Nggak ada bujetnya, jadi dibiarin aja," ujarnya sambil tertawa.

"Untuk masuk Oscar itu harus ada kampanyenya. Jadi ada bujet untuk memperkenalkan film tersebut kepada anggota Academy yang nanti akan memvoting dan mengundang para anggota Academy untuk menonton filmnya."

Di sisi lain, pengamat film Hikmat Darmawan menyoroti minimnya perhatian pemerintah agar film Indonesia bisa bersaing dengan film-film dari negara lain.

"Negara mengirim filmnya, mengumkan secara resmi, tapi pada saat yang sama tidak melakukan hal-hal yang harus dilakukan untuk bisa secara serius bertanding di ajang Oscar," kata dia.