Kematian presenter TV perempuan yang menginspirasi para jurnalis di Afghanistan, 'Saya melihat nyawanya hilang di depan mata saya'

Sumber gambar, Family photo
- Penulis, Kawoon Khamoosh dan Hafizullah Maroof
- Peranan, BBC World Service
- Waktu membaca: 6 menit
"Saya bahkan belum sempat duduk ketika saya mendengar suara tembakan. Adik saya dan saya berdua bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi," kata Hamad Hillal kepada BBC.
"Ketika saya keluar, saya melihat pengemudinya tak bernyawa di belakang kemudi dan Malala masih hidup, tetapi ia bermandikan darah. Saya menggendongnya dan ia meninggal dalam pelukan saya - saya melihat nyawanya hilang di depan mata saya."
Kakak perempuan Hamad adalah Malala Maiwand, seorang presenter TV berusia 26 tahun, yang ditembak mati di depan rumahnya di provinsi Nangarhar, Afghanistan timur pada 10 Desember lalu.
Dia baru-baru ini menjadi korban dari gelombang baru aksi pembunuhan yang menyasar jurnalis dan aktivis di Afghanistan.
Tidak lama sebelum pembunuhannya, Malala menemui adik laki-lakinya, Hamad dan mengatakan kepadanya - dengan penuh percaya diri seperti ia biasa dikenal - bahwa dia harus siap untuk mengambil lebih banyak tanggungjawab, karena dia merasa dia adalah 'target'.
Hamad memberi tahu saudara perempuannya bahwa ia memiliki waktu hidup yang lama. Hamad tidak ingin mendengarnya, tetapi sekarang ia ingat bahwa saudara perempuannya benar - dia selalu begitu. Dia takut para ekstremis tidak senang melihatnya di TV.
Sopir Malala, Mohammad Tahir, yang terbunuh dalam serangan yang sama, biasanya menjemputnya pada jam tujuh pagi untuk acara hariannya yang disiarkan di Enikaas TV.
Malala ada presenter di program pagi stasiun TV itu, namun pagi itu program itu tak mengudara.

Sumber gambar, Family photo
Alih-alih, stasiun TV menyiarkan berita kematiannya: 'Orang-orang bersenjata membunuh Presenter Enikaas TV, Malala Maiwand dan sopir Mohammad Tahir dalam perjalanan ke tempat kerja.'
Hamad masih tercengang bagaimana peristiwa itu bisa terjadi di bagian kota yang dikenal sebagai 'zona hijau' Jalalabad.
Dia mengatakan para pembunuh tidak terburu-buru dan meninggalkan tempat kejadian dengan tenang.
Rumah mereka terletak di jalan yang ramai, penuh toko, tidak jauh dari kantor provinsi Badan Intelijen Afghanistan dan pos pemeriksaan polisi.
Bahkan, kantor polisi hanya berjarak 200 meter
Wajah tak kenal takut

Sumber gambar, Family photo
Bagi Hamad, luka dan duka akibat kehilangan kakak perempuannya tak terlukiskan.
"Ia bukan hanya kakak perempuan saya; ia teman saya dan seperti seorang ibu bagi saya. Ia selalu bilang, 'Saya tidak memiliki harapan buat diri saya - Saya hidup untuk keluarga saya," tuturnya.
Malala masih kecil ketika keluarganya pindah ke Pakistan untuk melarikan diri dari perang sipil yang memaksa jutaan orang Afghanistan meninggalkan negaranya - diperkirakan sekitar 1,5 juta orang melarikan diri ke Pakistan.
Pada 2004 setelah kejatuhan Taliban, keluarganya kembali ke Nangarhar, di mana ia menyelesaikan sekolah dan melanjutkan perguruan tinggi. Dia di tahun terakhinya menyelesaikan studi manajemen dan kebijakan publik.
"Ia memiliki mimpi besar," ujar ayahnya, Gul Mula, yang masih berduka kepada BBC.
Gul Mula mengatakan bahwa ia "100% peduli" dengan keselamatan putrinya.
"Kadang kala, saya memberitahunya untuk tidak menanyakan pertanyaan serius kepada pejabat tertentu, namun ia selalu menjawab bahwa adalah tugasnya untuk menanyakan pertanyaan kepada mereka."
Ibu Malala adalah seorang pemimpin masyarkaat sebelum ia dibunuh hampir 12 tahun lalu atas peran aktifnya di masyarakat.

Sumber gambar, Malala Maiwand/Facebook
Malala dikenal atas wawancaranya yang menantang.
Shukrollah Passon, kepala berita di Enikaas TV, mengatakan bahwa kematiannya adalah 'kehilangan besar'. Tak hanya bagi keluarga dan teman-temannya, tapi juga penontonnya.
Malala adalah salah satu dari sedikit jurnalis perempuan di stasiun TV itu.
"Saya pikir kami tidak bisa menemukan penggantinya. Ia adalah satu-satunya. Kami tidak memiliki orang lain lagi, dan kami harus meminta presenter pria untuk menjadi pembawa acara."
Tokoh publik lainnya juga menyesalkan kepergian Malala. Mariam Safi adalah direktur pendiri think-tank Organisasi Penelitian Kebijakan dan Pengembangan (DROPS), yang bekerja 'menciptakan platform untuk meningkatkan suara perempuan dalam wacana kebijakan'.
Melalui cuitan di Twitter, Safi berkata ia telah menyaksikan langsung betapa keras Malala berjuang untuk membawa perdamaian ke negara dengan menyoroti suara dan realitas Afghanistan.
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati X pesan
Target pembunuhan
Sehari setelah kematian Malala, polisi mengonfirmasi bahwa jurnalis Fardin Amini ditemukan di dekat bukit di Kabul, dengan kondisi lehernya dipotong.
Pada 26 November, mayat dua staf media ditemukan di pinggiran Kabul.
Dua minggu sebelumnya, Aliyas Dayee, seorang reporter perang tewas di Helmand, dan ini disusul dengan pembunuhan presenter TV terkenal Yama Siyawash di Kabul.
Daftar jurnalis yang terbunuh kian panjang. Kelompok kebebasan pers, NAI, mengatakan 70 jurnalis dan staf media telah terbunuh atau ditemukan meninggal dunia di Afghanistan sejak 2016.

Sumber gambar, AFP
Tak mudah bagi perempuan seperti Malala mencapai sukses dalam karir di masyarakat patriarkal dan sangat tradisional, terutama mereka yang tampil di layar TV.
Komite Keamanan Jurnalis Afghanistan mengatakan Malala adalah satu-satunya presenter TV perempuan di layar di bagian timur Afghanistan tempat ia tinggal dan setelah kematiannya, sebagian besar jurnalis provinsi di provinsi timur tidak muncul di tempat kerja.
Dalam dua bulan terakhir, setidaknya enam jurnalis telah terbunuh atau ditemukan tewas di Afghanistan dan kesamaan dalam kasus pembunuhan yang ditargetkan baru-baru ini telah mengirimkan pesan yang mengerikan kepada semua jurnalis.
Farahnaz Forotan, pembawa acara politik langsung di Kabul diberitahu bahwa dia 'mungkin target berikutnya'.

Sumber gambar, Farahnaz Forotan
"Untuk pertama kalinya saya merasa tak aman. Saya tidak merasa aman, bahkan di rumah saya sendiri," ujar Farahnaz kepada BBC.
Ia berkata bahwa ia tak pernah merasa takut sebelumnya sebab ancaman yang ia terima sangat umum, dan dia sangat siap secara mental 'jika dikorbankan demi kebebasan berbicara'.
Tapi ketika ia menjadi target pembunuhan, itu membuatnya berpikir ulang.
"Kematian seperti itu tidak mengubah apapun. Tidak ada tujuan positif apa pun. Itu hanya menambah kengerian dan teror dan memperburuk situasi. "
Ancaman pembunuhan
Namun ia bukan satu-satunya jurnalis yang menerima ancaman mengerikan seperti itu - sumber intelijen telah memberi tahu beberapa media lokal tentang ancaman langsung terhadap staf dan kantor mereka.
Pemerintah Afghanistan mengatakan Taliban menargetkan tokoh masyarakat terkenal untuk menciptakan iklim teror di Afghanistan.
Tapi jurnalis seperti Farahnaz mengatakan akhir-akhir ini mereka 'tidak bisa mempercayai siapa pun'.
Kelompok advokasi media mengatakan meski pemerintah dan Taliban saling menyalahkan, mereka belum berbuat cukup untuk membuktikan bahwa mereka melindungi kehidupan para jurnalis.

Sumber gambar, Nargis Hurakhsh
Nargis Hurakhsh, seorang koresponden TV di Afghansitan, sedang dalam perjalanan kembali ke kantornya dari sebuah wawancara ketika ia melihat di Twitter bahwa Malala Maiwand tewas terbunuh.
"Saya diam terpaku, khawatir, dan takut," ujar Nargis kepada BBC, menambahkan bahwa dia selalu bekerja dibawa tekanan dan stres ketika melaporkan tentang 'kematian yang menyedihkan' dari para koleganya selama beberapa bulan terakhir.
'Itu bertambah buruk dan saya mungkin menjadi target berikutnya - saya juga memikirkan keluarga saya yang tidak pernah saya temui selama empat tahun terakhir. Sungguh menakutkan memikirkan hal itu."
Nargis berada di bawah tekanan luar biasa dari keluarganya untuk berhenti dari pekerjaannya. Mereka melarikan diri ke negara lain untuk menghindari kekerasan Afghanistan lima tahun lalu.
Tidak ada titik balik
Nargis dan Farahnaz menghadiri konferensi Doha tiga bulan lalu, untuk meliput diskusi perjanjian damai dengan Taliban yang bertujuan untuk mengakhiri pertumpahan darah selama bertahun-tahun. Namun, kekerasan telah meningkat dan menyebabkan lebih banyak korban sipil.
Namun meski dalam keadaan ketakutan dan panik, jurnalis terus aktif meliput pembicaraan damai dan medan perang.

Sumber gambar, Farahnaz Forotan
Zaki Daryabi, pemimpin redaksi surat kabar Etilaat Roz mengatakan pembunuhan para jurnalis mengkhawatirkan namun mereka telah mencapai 'kondisi di mana tidak ada titik balik'.
"Ancaman dan pembunuhan bisa merugikan keluarga [jurnalis] media, tetapi tidak dapat mencegah kemajuan... tidak dapat menghentikan jurnalis untuk melaporkan."
Zaki dan rekan-rekannya baru-baru ini memenangkan Penghargaan Anti-Korupsi 2020 yang diadakan oleh Transparency International atas 'peran mereka dalam menantang korupsi pemerintah di Afghanistan'.
Surat kabar mereka baru berumur 10 tahun.
Sebuah inspirasi
Kolega Malala Maiwand juga meyakini meski kematiannya membuat jurnalis perempuan lainnya khawatir, hidup dan warisannya menginspirasi lebih banyak lagi yang akan muncul.

Sumber gambar, Family photo
Badam Ahmadzai mengenal Malala sejak 2006 - mereka sekolah di tempat yang sama, melanjutkan pendidikan di universitas yang sama dan bekerja di stasiun TV yang sama.
"Dia adalah idola bagi semua orang di daerahnya. Saya mendengar dari banyak wanita yang ingin menjadi dia, aktif seperti dia. Banyak orang terpengaruh olehnya."
Selain karirnya sebagai presenter, Malala juga seorang komentator kriket perempuan yang jarang ditemukan di Afghanistan dan hanya dua bulan yang lalu, dia pergi ke Kabul untuk memberikan komentar langsung untuk serangkaian laga pertandingan kriket Twenty20.
Hikmat Hassan, Manajer Media untuk olah raga kriket Afghanistan, mengatakan melihat seorang gadis melakukan komentar kriket adalah 'kejutan total'.
"Ada perlawanan terhadap perempuan dan orang-orang tidak ingin melihat perempuan melakukan itu - Anda tahu apa yang mereka unggah di media sosial. Saya tahu itu tidak mudah tetapi ketika saya melihat kepercayaan dirinya, saya tidak bisa begitu saja menolaknya, " dia berkata.

Sumber gambar, Hamad Hillal
Malala bergabung dengan Enikaas TV pada 2016 dan dia tak pernah ragu-ragu untuk berada di depan layar. Ia sangat menyadari bahwa kehadirannya sehari-hari di TV 'melanggar tabu' di mana perempuan hampir tidak terlihat di depan umum tanpa hijab dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Tetapi dia juga sangat menyadari pentingnya perannya dalam masyarakat sebagai perempuan. Di mana tidak ada suara perempuan, Malala ada di sana, menginspirasi perempuan lain.









