Film Parasite sabet Oscar: 'Sebelumnya dunia abai terhadap bakat-bakat budaya Korea Selatan, mereka kini tahu'

    • Penulis, Laura Bicker
    • Peranan, BBC News, Seoul

"Keajaiban telah terjadi," kata kritikus film Korea Selatan, Ha Sung-tea.

"Saya menangis," cuit ahli sinema Korea Jason Bechervaise, yang menonton penghargaan Oscar bersama anaknya.

Selagi acara penghargaan Oscar belangsung, media sosial di Korea Selatan sangat ribut membanggakan film itu di lini masa Twitter saya.

Dan saat Parasite diumumkan sebagai film terbaik, memenangkan Piala Oscar keempatnya, suara-suara riuh di seluruh Korea mencapai puncaknya dengan kegembiraan.

Ini peristiwa bersejarah. Film komedi-trhiller karya Bong Joon-ho ini merupakan film yang bukan berbahasa Inggris pertama yang menang sebagai film terbaik.

Namun bagi Korea Selatan, penghargaan ini adalah sebuah terobosan budaya.

Selama satu dekade, Korea Selatan telah mencurahkan yang ke apa yang disebut sebagai "gelombang Korea" atau Hallyu: K-drama, K-pop dan sinema Korea.

Penghargaan Academy ini merupakan bukti bahwa gelombang budaya ini telah tiba di Hollywood.

Meski begitu, Bong Joon-ho percaya bahwa pengaruhnya masih jauh dibandingkan dengan ideola K-pop, BTS.

"Menurut saya, pengaruh dan kekuatan BTS itu 3.000 kali lipat daripada saya. Korea menghasilkan banyak seniman karena masyarakat kami dinamis secara emosi," katanya kepada wartawan yang menunggunya di luar perhelatan Oscars.

Selama 15 tahun, sinema Korea Selatan menjadi kekuatan sendiri, kata Bechervaise, guru besar di departemen hiburan dan seni di Soongsil University.

"Namun dibutuhkan waktu lama untuk bisa diakui oleh lembaga pemberi penghargaan di Amerika, dan bahkan festival seperti Cannes. Baru tahun ini mereka memberi penghargaan Palm d'Or kepada film Korea."

"Rasanya tinggal soal waktu saja mereka akan perhatikan. Tahun lalu Burning hampir dapat penghargaan. Juga The Handmaiden menang di Bafta tahun2018."

Bafta adalah penghargaan tertinggi sinema di Inggris.

Bibit-bibit sukses Korea Selatan sudah ditanam lama. Bangsa Korea adalah penggemar film dan industri filmnya merupakan yang kelima terbesar di dunia dalam hal penjualan tiket.

Bakat sutradara Bong Joon-ho juga sudah lama diakui.

Film-film dia seperti Memories of Murder, The Host, Snowpiercer dan Okja dipuji banyak kritikus dan memenangkan penghargaan.

"Cara bercerita Bong Joon Ho inovatif dan liar, tak terduga dan sangat menghibur," kata Prof Bechervaise, yang mempelajari karya-karya Bong selama 15 tahun terakhir.

"Ia bisa membuat sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh banyak sineas lainnya: peralihan seketika dari momen humor ke horor tanpa terasa aneh".

Parasite membuat terobosan global bagi Bong, dan banyak alasan untuk itu.

Film ini bercerita tentang pertentangan kelas - tentang orang kaya dan miskin - sebuah tema yang akrab dengan penonton di seluruh dunia.

Visi Bong bisa diwujudkan oleh para bintang berpengalaman yang mampu membawa kita mengarungi kelokan jalan cerita dan terus menerka hingga akhir film.

Distributor film ini, Neon, juga sangat paham strategi distribusi, kata Prof Bechervaise.

"Mereka merancang strategi edar yang efektif dengan mengedarkan di sejumlah kecil layar pada bulan Oktober. Lalu ini tersebar dari mulut ke mulut, membuat orang berdatangan menonton."

"Penghargaan ini akan menambah sukses penjualan tiket," katanya.

Ada tokoh lain di balik kesuksesan Parasite yaitu produser Miky Lee.

Perempuan ini adalah direktur di kelompok konglomerat Korea Selatan CJ Group.

Nyaris tak ada hal yang terjadi di film dan TV Korea Selatan tanpa keterlibatannya.

Katanya, sebagai seorang yang fanatik pada film, ia telah mendukung beberapa film Bong.

Tampaknya ironis bahwa satire tentang perang kelas ini terwujud berkat pertolongan salah satu perusahaan terkaya Korea Selatan.

Faktor-faktor inilah yang berhasil mewujudkan kesuksesan Parasite.

Penonton telah berhasil mengatasi perasaan takut mereka pada "rintangan teks terjemahan" (sebagaimana dinyatakan Bong Jon-hoo dalam ajang Golden Globes).

Namun bisakah sukses Parasite ditiru, terutama mengingat adanya dukungan dari konglomerat terhadap film ini?

Presiden Moon Jae-in mengatakan pemerintahnya akan mendukung sinema Korea saat ia membuka rapat kabinet yang diiringi tepuk tangan selamat untuk Parasite.

"Parasite telah menggerakkan hati orang di seluruh dunia dengan cerita Korea yang unik," katanya. "Ini mengingatkan kita bahwa film bisa begitu menyentuh dan kuat".

Tahun ini Dewan Film Korea (KOFIC) telah mengalokasikan 100 milyar won (sekitar Rp70 milyar) untuk pengembangan film.

Dana ini meningkat 32% dari tahun lalu.

Namun meneruskan sukses ini tidak akan mudah, kata kritikus Ha Sung-tea.

"Menghasilkan Bong Joon-ho baru akan menjadi proyek jangka panjang industri film Korea. Bong Joon-ho seorang sutradara yang unik."

"Kini pemerintah, industri dan konglomerat besar harus bekerja bersama untuk mempromosikan beragam seniman dengan visi yang unik."

Profesor Bechervaise setuju.

"Kesempatan generasi yang lebih muda tidak sama dengan pendahulu mereka karena studio sekarang lebih berkuasa".

"Meski begitu, sinema Korea berada dalam posisi kuat untuk maju, dan infrastrukturnya sudah ada untuk meneruskan sukses ini".

Ketika menerima penghargaan untuk skenario terbaik, Bong berkata, "kami tak pernah menulis untuk merepresentasikan negara kami".

Namun kemudian ia katakan, "ini merupakan Piala Oscar pertama untuk Korea Selatan".

Kemenangan ini terasa personal bagi negeri ini.

Sejak semenanjung Korea terbelah di penghujung Perang Dunia Kedua, ada rasa tidak aman yang mendalam.

Perasaan bahwa orang hanya bisa mengenali Korea di peta karena letaknya bersebalahan dengan diktator yang punya senjata nuklir di utara.

Piala Oscar ini adalah pengakuan bahwa Korea Selatan adalah tempat pertumbuhan budaya, dan kini diakui dalam sejarah dunia.

Jika sebelumnya dunia abai terhadap bakat-bakat budaya di negeri ini, mereka kini tahu.