You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Robert Pattinson: 'Twilight adalah film seni!"
- Penulis, Nicholas Barber
- Peranan, BBC Culture
Dalam The Lighthouse, Robert Pattinson berperan sebagai penjaga mercusuar yang cabul dan irit kata-kata. Karakter ini adalah salah satu lakon paling ganjil yang pernah dimainkannya, kata Pattinson pada Nicholas Barber.
The Lighthouse adalah film drama horor hitam-putih yang berkisah tentang dua penjaga mercusuar di abad ke-19. Pekerjaan mereka sehari-hari adalah mengusir burung camar, putri duyung, dan kegilaan-kegilaan yang muncul karena terlalu banyak minum rum di sebuah pulau kecil, di lepas pantai New England.
Dengan kata lain, film ini khas Robert Pattinson. Sekitar satu dekade lalu, aktor Inggris ini meroket setelah memerankan vampir rupawan dengan kulit berkilauan dan taring kecil lancip dalam seri Twilight. Sebelumnya, ia berhasil membuat dada remaja berdebar-debar sebagai Cedric Diggory dari Hufflepuff dalam Harry Potter and the Goblet of Fire.
Namun sejak dua film itu, Pattinson diketahui menolak peran-peran 'tampan' dan waralaba beranggaran besar, dan lebih memilih terlibat di film-film indie dan eksperimental. Semakin aneh, sepertinya semakin ia suka.
Sungguh, pekerjaan agen Pattinson di sepuluh tahun terakhir ini pastilah sangat berat. Mereka pasti telah berusaha mati-matian meyakinkan Pattinson untuk mengambil peran di film komedi romantis atau menjadi agen rahasia, apa saja, asal bukan seorang penjaga mercusuar yang doyan masturbasi dan belepotan air comberan.
Pattinson tertawa. "Saya rasa mereka sudah tahu selera saya sejak awal. Agen saya selalu bilang, jika mereka suka sebuah naskah, dan karakternya normal-normal saja, mereka akan menyunting naskah tersebut hingga deskripsi pertama karakter utamanya adalah, 'John, 31 tahun - seorang psikopat.'"
Pattinson, 33 tahun, sama sekali tidak seperti psikopat saat saya bertemu dengannya di suatu siang di bulan Desember.
Berpakaian hitam-hitam, dari ujung sepatu hingga topi baseball di kepalanya, aktor yang dulu populer dengan nama R-Patz itu duduk bersandar di sofa rendah sebuah kamar hotel di London.
Sebelah lengannya menyangga dagu, dan ia mengobrol dengan santai, sesekali menyelipkan anekdot dan pendapat pribadi dengan amat terbuka.
Pilihan-pilihan beraninya pasca-Twilight, ujarnya bersikeras, sesungguhnya tidak terlalu berani: mencoba memanjat naik ke kelas-A Hollywood "itu lebih berbahaya" ketimbang memilih beralih ke film-film independen.
"Anda bisa melihat banyak contoh orang-orang yang gagal melakukannya," tukasnya, tanpa menyebut nama, "jadi saya merasa, bermain di film laga yang besar atau semacamnya adalah gagasan konyol."
Dia juga menyadari bahwa statusnya sebagai selebritis tingkat atas bisa sewaktu-waktu menghujam ke bumi.
"Saya selalu berpikir bahwa film apapun yang Anda perani, bisa jadi itu adalah film terakhir yang mungkin Anda dapatkan. Saya tak mau mengakhiri karir membintangi film 'transisi'."
Pemeran film-film berseni
Maka, ia mendedikasikan diri membintangi film-film dengan karakter menantang. "Saat saya mulai suka menonton film, DVD film yang selalu saya beli adalah yang ceritanya agak aneh, dari Cannes atau semacamnya. Dan saya berpikir… Saya tidak mau merasa, ada orang yang sedang berusaha menghibur saya."
"Seperti ketika Anda pergi ke sebuah pesta, dan ada satu orang yang berusaha untuk menghibur semua orang. Anda mungkin menertawakan mereka, tapi Anda tahu bahwa mereka hanyalah orang yang tidak berguna dan tidak memiliki kedalaman."
Dia tersenyum, menyadari betapa kejam kalimat yang baru diucapkannya - namun ia tetap melanjutkan, "Tapi jika Anda bertemu seseorang yang menjadi diri mereka sendiri dan memiliki pandangan-pandangan pintar dan independen, maka dia adalah orang yang menarik untuk diajak ngobrol. Saya melihat film dengan cara sama."
Pandangan inilah yang menghasilkan pujian untuk Pattinson di Festival Film Cannes, dan banyak festival film internasional lainnya.
Tahun demi tahun, dia berjalan di atas karpet merah berbagai festival film indie untuk mempromosikan drama yang mungkin tidak akan punya dana bila tanpanya.
"Saya mencoba membuat film-film independen masuk bioskop dan membuat mereka ditonton orang," ujarnya. "Jika sineas-sineas sinting tak bisa berkarya karena kalah dengan konglomerat, maka akan sangat mengerikan."
Pattinson mengontak Robert Eggers, penulis naskah dan sutradara The Lighthouse, setelah melihat debut film supernaturalnya, The Witch.
"Meskipun itu adalah film pertamanya, Anda bisa melihat betapa ambisius film itu," tukasnya. "Sangat detail dan padat dan akademis, namun juga sangat menyeramkan, dan Anda bisa lihat, banyak yang dia lakukan dengan anggaran rendah."
Eggers dan Pattinson dengan cepat mendiskusikan kemungkinan berkolaborasi, namun Eggers terus memaksanya memainkan peran aristokrat Inggris yang bertekad dihindarinya.
"Di akhir salah satu pertemuan kami saya berkata: 'Saya hanya mau peran yang sangat, sangat, sangat gila.' Dia berpikir sejenak lalu berkata: 'Saya sedang menulis sesuatu dengan saudara laki-laki saya, dan bila naskah ini tidak cukup gila, saya tidak tahu lagi!'"
The Lighthouse terbukti cukup gila. Dengan bahasa khas pelaut di zaman itu, visualisasi gambar dan bayangan seperti pada lukisan, dan plot cerita yang melelahkan, Eggers menciptakan sebuah drama yang menakutkan sekaligus, secara mengejutkan, gothic dan lucu.
Film ini sangat sulit dikategorikan, sampai-sampai para staf di distributornya, A24, menggeret lengan Pattinson ke luar tempat pengambilan gambar dan memperingatkan bahwa film ini mungkin tidak akan ditonton banyak orang.
Nyatanya, The Lighthouse menuai banyak ulasan positif saat debutnya di Cannes pada Mei lalu. Para penonton dan kritikus film (termasuk saya) menobatkannya sebagai salah satu film paling cemerlang di 12 bulan terakhir.
Ini menimbulkan perbincangan, sepertinya tingkat kebintangan Pattinson kembali melonjak ke level saat dia berperan dalam Twilight.
"Saya mengawali tahun ini tanpa pekerjaan," aku Pattinson, merujuk pada tahun 2019. "Saya ingat agen saya berkata, 'Kamu tidak ada di daftar siapapun. Film-filmmu menerima ulasan bagus, tapi tidak ada yang sukses besar.' Seminggu kemudian saya menerima telepon yang berkata: 'Apakah kamu mau membintangi film Chris Nolan?' Saya berpikir: 'Tunggu - apa yang baru saja terjadi?'"
Selain muncul dalam film thriller tentang perputaran waktu, Tenet, yang rilis pada Juli, Pattinson juga akan mengenakan kostum kelelawar yang ditinggalkan Ben Affleck dalam The Batman besutan sutradara Matt Reeves.
Namun ia bersikeras tidak akan jatuh ke arus utama Hollywood. Nolan, ia membantah, adalah sineas indie yang kebetulan memiliki dana kolosal untuk dihabiskan. Sementara Batman adalah karakter yang "gila dan sinting", sama seperti karakter-karakter yang senang ia perankan selama ini.
"Dari semua peran-peran besar yang pernah ada," ujarnya merenung, "ada sesuatu yang istimewa dengan yang satu ini."
Mungkin Pattinson bisa mengajarkan kita semua sebuah pelajaran tentang keberanian untuk menjaga keyakinan kita. Dengan tetap berpegang pada selera khasnya pada film, dia menjadi salah satu penyelamat sinema-sinema seni - sambil tetap bisa mengencani bintang film papan atas dan menjadi pahlawan Gotham City.
Siapa lagi yang punya karir seperti dia? Satu-satunya aktor yang terlintas dalam pikiran saya, anehnya, adalah lawan main sekaligus mantan kekasihnya di masa Twilight, Kristen Steward.
Dia meringis lebar mendengar perbandingan tersebut, sampai matanya tinggal segaris. "Itu karena tidak ada yang menyadari bahwa Twilight adalah film seni. Dalam beberapa tahun ke depan, orang-orang akan sadar - ah, benar juga, Twilight adalah film seni!"
Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul Robert Pattinson: 'Twilight was an arthouse movie!' pada laman BBC Culture.