Robyn Crawford mengatakan bahwa hubungannya dengan Whitney Houston 'cinta - terbuka dan jujur'

Sumber gambar, ROBYN CRAWFORD/PENGUIN RANDOM HOUSE
- Penulis, Mark Savage
- Peranan, Reporter musik BBC
- Waktu membaca: 8 menit
Robyn Crawford adalah sahabat Whitney Houston. Orang kepercayaan Whitney sedari kecil hingga akhirnya menjadi asisten dan mitra kreatifnya. Mereka juga, dalam waktu singkat, sepasang sekasih.
Selama bertahun-tahun, romansa di antara keduanya menjadi bahan rumor dan spekulasi. Dua film baru-baru ini yang mengangkat kisah hidup sang diva, Whitney: Can I Be Me dan film yang disetujui keluarganya, Whitney, mengguncang bara hubungan mereka - menunjukkan bahwa Crawford adalah cinta sejati dalam hidup Whitney.
Crawford selalu menolak untuk mengomentari hidupnya bersama Whitney -ia muncul dalam kedua film tersebut dalam bentuk rekaman arsip, tapi tidak pernah bersedia untuk diwawancara.
Tetapi sekarang, setelah semua orang berbicara, Crawford memutuskan untuk menceritakan kisahnya. "Kenapa sekarang?" tanyanya dalam pengantar memoar barunya, A Song For You.
"Percayalah, saya mencoba sebaik mungkin untuk menghindari sorotan (tetapi) saya yakin merupakan tugas saya untuk menghormati teman saya dan untuk mengklarifikasi banyak ketidakakuratan tentang diri saya dan siapa Whitney itu."
Ia mengonfirmasi, untuk pertama kalinya, kisah romantisnya bersama Houston, yang dimulai sejak mereka masih remaja dan bertahan selama dua tahun.
"(Hubungan) itu bukan tentang kami tidur bersama," ia menekankan dalam buku tersebut. "Kami dapat memercayakan rahasia, perasaan dan siapa kami kepada satu sama lain. Kami adalah teman, kami adalah kekasih. Kami segalanya bagi satu sama lain. Kami tidak jatuh cinta. Kami sudah saling mencintai. Kami memiliki satu sama lain. Kami adalah satu: seperti itulah rasanya."
Whitney memutuskan hubungan mereka setelah ia menandatangani kesepakatan rekaman, lalu memberikan Crawford kitab Injil dan mengatakan padanya bahwa ia takut akan diketahui publik.

Sumber gambar, Roy Rochlin/Getty Images
Crawford tetap menjadi teman setia dan benteng emosionalnya, menambatkan Whitney ke masa lalunya, dan menenangkan bahtera kehidupan pribadinya yang kerap bergejolak.
Secara terang-terangan ia menggambarkan penggunaan narkoba yang mereka lakukan dan bagaimana dirinya menyaksikan, dengan tanpa daya, ketika kebiasaan temannya lepas kendali.
"Tidak peduli apa aturan yang kami buat tentang penggunaan narkoba yang bertanggung jawab, ia terus melanggarnya dan menggunakannya kapan pun ia mau," tulisnya.
Pada saat Crawford keluar dari tim Whitney pada tahun 2000, sang bintang membatalkan banyak pertunjukan dan melewatkan banyak sesi rekaman. Ia menduga Whitney dilecehkan secara fisik oleh suaminya, Bobby Brown, dan menemukan sendok-sendok yang terbakar di dapurnya.
Kisah Crawford sendiri tidak lebih membahagiakan - ia adalah putri dari seorang ibu tunggal, yang meninggalkan suaminya setelah disiksa bertahun-tahun, dan kehilangan dua anggota keluarga terdekatnya akibat AIDS.
Tetapi buku itu sendiri tidak terlalu suram: Setelah lepas dari dunia Whitney, Crawford perlahan membangun kembali hidupnya, dan kini telah menikah dan bahagia dengan dua anak adopsinya. Ia pernah bekerja sebagai seorang wartawan, mewawancarai orang-orang seperti Jessica Biel dan Kristen Bell, dan saat ini menjadi seorang pelatih kebugaran.
Tujuannya menulis buku itu adalah untuk menghapus kenangan akan kematian tragis Whitney, yang tenggelam di dalam bak mandi menjelang malam penghargaan Grammy 2012, dan untuk mengingatkan dunia bahwa Whitney adalah seorang yang "berhati besar, tidak mementingkan diri sendiri, jenaka" dan amat sangat berbakat - baik ketika ia menyanyi di panggung Super Bowl, belajar berakting dalam The Bodyguard, atau bernyanyi di gereja (di mana beberapa umat paroki kewalahan oleh vokalnya sampai-sampai mereka pingsan).
"Saya ingin meninggikannya. Saya ingin mengangkatnya sehingga ia dapat mengangkat warisannya jauh ke atas," kata Crawford kepada BBC, ketika ia menceritakan pembuatan memoarnya.

Sumber gambar, ROBYN CRAWFORD/PENGUIN RANDOM HOUSE
Bagaimana rasanya menghidupkan kembali semua kenangan lama ini saat Anda menulis buku?
Saya menghabiskan sebagian besar dari dua setengah tahun terakhir merasakan dan menghidupkan kembali masa tahun 80-an dan 90-an hingga pada titik anak saya berkata pada suatu hari, "Saya akan senang ketika Ibu selesai menulis buku ini, sehingga ia bisa bermain lagi dengan saya".
Itu memang benar, Anda tahu? Terkadang mereka akan mengganggu saya dan saya sedang memikirkan sesuatu, maka reaksi saya akan terlambat, atau saya mungkin membentak mereka. Jadi saya benar-benar bukan sosok Ibu seperti sebelumnya, yang memperhatikan setiap hal kecil.
Dan proses penulisannya seperti mengaduk-aduk emosi. Permulaannya, ketika kami berbinar-binar, suka bertualang, penuh keberanian; lalu semua masa-masa liar untuk mencapai segala yang kami telah bicarakan; lalu keluarga saya dan tantangan di sana. Jadi ada tangisan bahagia, air mata kesedihan, dan ketegangan.
Anda berbicara tentang menonton Whitney di studio, dan bagaimana ia bisa memberi napas kehidupan pada suatu lagu; tapi saya penasaran seperti apa rasanya mendengarkan dirinya bernyanyi secara pribadi, di rumah atau di dalam mobil?
Saya biasanya menyebutnya pra-konser! Kami memiliki sebuah rumah di New Jersey dan, dalam sebuah ruangan besar, ada sebuah kubah. Dia akan pergi ke ruangan itu dan bernyanyi - gospek, jazz, Al Jarreau, apapun yang ia rasakan - karena akustik ruangan itu sungguh-sungguh brilian. Saya ingat suatu malam ia di ruangan itu menyanyikan Fly Me To The Moon, terdengar sungguh mudah sampai-sampai rasanya ia memang terbang.

Pada masa-masa awal, sepertinya kalian bersenang-senang. Bermain perang air di koridor hotel dan menjelajah dunia bersama-sama.
Satu hal tentang Whitney yaitu ia seperti anak kecil. Ia ingin sebisa mungkin bersenang-senang.
Saya ingat Whitney akan menyewa arena Universitas Lehigh di Pennsylvania untuk mempersiapkan tur, dan kami selalu bermain football di luar, di lapangan. Suatu kali, untuk permainan terakhir, kami mengatakan padanya, 'OK, seluruh baris akan berjalan ke kanan dan kami akan membentuk blokade untukmu. Kamu berhenti sebentar, sedetik, dan menembak ke kanan di belakang kami.
Ia bilang, 'OK, OK, OK'. Tetapi ketika kami semua mengarah ke kanan, ia justru berlari ke kiri. Ia berlari tepat menuju seorang pria, mereka bertepuk lutut dan ia terguling. Selama sisa latihan gladi resik, ia tidak bisa memakai sepatu haknya. Jadi tidak ada lagi bermain football bagi kami. Itu semua sudah habis. Setelahnya, kami malah main ping pong.
Orang-orang akan tertarik membaca kisah hubungan romantis Anda dengan Whitney. Cara Anda menggambarkannya sungguh lembut dan menggetarkan - tapi di saat bersamaan itu bukan masalah. Anda mengatakan bahwa Anda "tidak pernah membicarakan label, seperti lesbian atau gay," hubungan itu ya hubungan percintaan saja.
Mmm-hmm, ya seperti itu saja.
Orang-orang menyebutnya sebagai sebuah hubungan - tetapi kami bertemu dan kami cocok dan kami menjadi teman. Kami membangun pertemanan itu atas dasar keterbukaan dan jujur kepada satu sama lain tentang segalanya. Ia berkata pada saya bahwa ia akan menandatangani kesepakatan (rekaman) dan ia akan membawa saya bersamanya keliling dunia. Dan seiring itu, kami memiliki pengalaman pertemanan fisik yang intim, penuh cinta dalam pertemanan itu sendiri. Itu adalah cinta dan itu terbuka dan jujur.
Whitney mengakhiri hubungan itu sesaat setelah menandatangani perjanjian rekamannya, mengatakan kepada Anda "hal itu akan membuat perjalanan kita semakin lebih sulit". Sesulit apa harus mengesampingkan perasaan itu dan hanya menjadi teman?
Ya, kami berteman - dan kami kenal satu sama lain dengan sangat baik.
Fokusnya selalu ke mana kita akan berjalan. Tak ada yang akan menghalangi itu. Whitney berbagi dengan saya keyakinannya bahwa, jika orang-orang mengetahui hubungan kami, mereka akan menggunakannya untuk merugikan kami. Dan itu era 80-an. Apakah Anda 'ini' atau 'itu'. Dan perempuan saat itu diperlakukan sedemikian rupa sehingga mereka menjadi saingan dan bukan kawan. Sungguh berat bebannya dan kami masih muda. Kami masih muda, tapi kami berani.
Di satu sisi, Kalian saling melindungi.
Hal itu sangat penting. Whitney berkata "Saya ingin kamu di sini. Kamu mengenalku. Kamu mengenalku sejak sebelum kita sampai di tujuan kita." Jadi kami adalah tim. Ia mengenal saya dan ia memercayai saya.
Artikel ini memuat konten yang disediakan Google YouTube. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Google YouTube kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati YouTube pesan, 1
Saya terkejut dengan pertemuan pertama Ibu Anda dengan Whitney, di mana ia mengatakan, "Kamu tampak seperti malaikat, tapi saya tahu kamu bukan". Lalu, beberapa hari kemudian, Whitney memberikan Anda selinting ganja untuk pertama kalinya.
Ibu saya benar tentangnya! Whitney punya aura malaikat dan lalu ia mengeluarkan selinting ganja dari saku dadanya seakan mengatakan, "Yeah, saya juga begini, OK?"
Kalian berdua sering mengonsumsi narkoba bersama, tapi akhirnya Anda mencoba membujuknya meninggalkan kebiasaan itu. Apa menurut Anda ia pernah mencoba dengan serius untuk meninggalkan hal itu?
Kami tidak pernah percaya kalau kokain itu baik; dan di masa-masa awal, ia suka bilang kepada saya: "Ini tidak boleh dibawa ke mana kita pergi". Jadi saya yakin betul bahwa Whiteny tahu bahwa ia butuh pertolongan dan ingin melakukannya.
Saya menulis tentang itu di buku, bahwa ia menghubungi seseorang untuk minta tolong.
Ya, itu tahun 2001 - ia menelepon seorang dokter untuk membicarakan soal rehabilitasi.
Ya, Dr Richard Frances. Ia menghubunginya sendiri. Dan ia mengatakan ia bukanlah orang yang ingin mati. Ia seseorang yang ingin hidup. Ia sungguh-sungguh.

Sumber gambar, Getty Images
Persepsi publik yaitu berbagai hal mulai menjadi kelam ketika Bobby Brown muncul. Itu tampak menjadi garis pemisah antara kehidupan dan karirnya.
Yah, saya pikir orang-orang merasa seperti itu karena hal itu diliput secara meluas dan terus-menerus muncul di tabloid dan media arus utama, jadi saya percaya itulah yang membuat publik mendapatkan narasi yang terlalu luas.
Apakah Anda setuju dengan narasi tersebut?
Ya... Jelas, saya masih ada di sana saat itu. Dan saya katakan, ada banyak 'gangguan' selama masa itu. Tapi Whitney masih tetap bekerja dan berprestasi pada masa-masa itu. Maksud saya, dia punya proyek film...
Ia membuat The Bodyguard dan Waiting To Exhale ketika ia bersama Bobby, kan?
Benar. Tapi yang saya akan katakan yaitu ia kelelahan.
Saya rasa ketika Anda bekerja keras, dan kehidupan di rumah bergolak, tidak ada istirahat.
Ya. Semuanya kembali padanya. Ia berurusan dengan semua itu dan ia tidak mendapatkan istirahat dan ketentraman yang dibutuhkannya.
Tapi hal yang sama juga terjadi pada Anda. Di saat bersamaan ketika Anda bekerja untuk Whitney, Anda juga mengurus dua anggota keluarga yang menderita AIDS. Apakah Anda punya waktu cukup untuk diri Anda sendiri?
Tidak, dan Anda kehilangan identitas Anda sendiri. Saya benar-benar tidak mengenal diri saya sendiri. Maka ketika semuanya selesai, saya menulis di buku tentang bagaimana saya harus menemukan kembali sosok Robyn.

Sumber gambar, ROBYN CRAWFORD/PENGUIN RANDOM HOUSE
Lisa Hintelmann, yang kini menjadi istri Anda, mengatakan ia tidak bisa menjalin hubungan dengan Anda kecuali Anda sepakat untuk melakukan terapi. Ia kedengarannya sangat bijak.
Oh ya. Lisa telah menjadi Rock of Gibraltar (andalan, red.) saya. Ia memberitahu saya bahwa ia cinta dan peduli pada saya, tapi juga mengatakan bahwa saya perlu menolong diri saya sendiri.
Ia memberi saya tempat berlindung dan bersembunyi, karena ketika kamu merasa seperti itu, Anda hanya ingin menyendiri. Jadi itu adalah masa-masa kelam bagi saya, tapi ia menyingkir dan membiarkan saya merangkak hingga akhirnya bangkit kembali.
Anda secara sadar meninggalkan industri hiburan, dan bekerja di klub tenis dan di perkebunan, di mana Anda memanen buah-buahan. Seperti apa rasanya?
Mengurus meja di klub tenis bukan untukku, kau tahu? Tetapi saya sangat menyukai perkebunan. Tak ada yang tahu siapa saya, dan saya suka berada di luar ruangan. Saya bekerja di sana sepanjang musim panas itu dan saya memanen banyak asparagus. Saya suka asparagus sampai sekarang!
Artikel ini memuat konten yang disediakan Google YouTube. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Google YouTube kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati YouTube pesan, 2
Sesaat sebelum Whitney meninggal, Anda memberikan beberapa kenangan waktu Anda bersamanya. Saya penasaran apa yang Anda berikan, dan apa yang Anda simpan?
Saya mempersembahkan banyak cakram emas dan platinum ke Akademi Seni Pertunjukkan Whitney Houston, yang merupakan sekolah tata bahasa yang ia ikuti. Tapi saya menyimpan plakat The Star Spangled Banner dan single pertamanya, You Give Good Love. Dan saya menyimpan surat-surat dari orang-orang di seluruh dunia, kepala negara seperti Nelson Mandela. Semua buku tur saya simpan, kau tahu, catatan-catatan berbeda, dan Injil yang Whitney berikan kepada saya, saya menyimpannya.
Apa Anda masih mendengarkan lagu-lagunya?
Setelah saya meninggalkan perusahaan itu, saya tidak lagi mendengarkan musiknya selama beberapa saat. Lalu suatu hari saya mendengarkan Exhale, yang mana merupakan salah satu kesukaan Ibu saya. Lalu saya memainkan The Greatest Love Of All untuk anak perempuan saya dan ia menyukainya. Maksud saya, saya melihatnya memainkan lagu itu di kamarnya lewat mesin Alexa-nya. Dan, belakangan, kau tahu, saya punya beberapa favorit termasuk lagu Preacher's Wife.
Jadi sebagian besar lagu-lagu gospelnya?
Oh, ya. Maksud saya, saya mendengar banyak musik gospel, dan bahkan meskipun bukan lagu Preacher's Wife, saya memainkan lagu-lagu gospel yang sering diputar Whitney - seperti Fred Hammond, Yolanda Adams, Persuaded, Through The Storm. Ia mencintai musik gospel. Itu adalah lagu-lagu yang paling sering ia nyanyikan.










