Perjuangan para keluarga melawan debu beracun yang berasal dari pabrik baja di Italia

Sumber gambar, EPA
- Penulis, Denise Hruby & Thomas Cristofoletti
- Peranan, Taranto, Italia
Seorang ibu sedang menggendong bayinya. Dari mata sang ibu terpancar kasih sayang, namun payudaranya berubah menjadi cerobong asap dan yang keluar bukan ASI tapi asap beracun.
Lukisan ini adalah karya Carla Lucarelli yang diciptakannya setelah putranya, Giorgio, meninggal dunia pada usia 15 tahun.
Cerobong asap itu, menurut Carla, merupakan perlambang cerobong Ilva—pabrik baja terbesar di Eropa yang terletak di Taranto, kota pesisir bagian selatan Italia.

Sumber gambar, Thomas Cristofoletti/Ruom
"Kami hidup di sebelah pabrik kanker," ujarnya.
Lukisan-lukisannya bukan hanya cara menyalurkan dukanya, melainkan juga bentuk protes terhadap pabrik tersebut, terhadap pemerintah yang mengizinkannya beroperasi, dan terhadap pemiliknya, ArcelorMittal—produsen baja terbesar di dunia.

Sumber gambar, Thomas Cristofoletti/Ruom
Tiga tahun lalu, Giorgio didiagnosa mengidap jenis kanker yang langka.
"Mereka tidak akan pernah mengatakan bahwa penyakit itu disebabkan polusi," kata Carla merujuk para dokter di rumah sakit.
Namun, setelah mengetahui bahwa Giorgio dibesarkan di Taranto, lanjut Carla, pandangan mata mereka "membuat saya paham semuanya".

Sumber gambar, Thomas Cristofoletti/Ruom
Sejak 1970-an, kajian sains telah mengaitkan emisi dari pabrik baja Ilva, yang didirikan pemerintah, dengan masalah-masalah kesehatan yang dialami penduduk setempat.
Salah satu laporan terkini dan komprehensif diterbitkan kelompok peneliti epidemiologi, Sentieri. Mereka menemukan bahwa antara 2005 dan 2012, terdapat lebih dari 3.000 kematian yang terkait langsung dengan "paparan lingkungan terbatas" terhadap polutan.
Untuk jenis kanker tertentu, jumlah pengidap di Taranto lebih tinggi 70% dari rata-rata kawasan sekitar. Penyakit pernapasan, jantung, dan ginjal juga melampaui rata-rata kawasan sekitar. Bahkan, anak-anak dilaporkan punya peluang lebih besar lahir dengan disabilitas.
"Kami selalu terpapar," cetus Celeste Fortunato, ibu dari bocah laki-laki berusia enam tahun.
Sekolah anaknya berada tepat di samping pabrik baja, terpisah "bukit ekologi"—penghalang alami yang berperan membentengi warga setempat dari debu beracun. Akan tetapi, tahun lalu diketahui bahwa bukit tersebut dibuat dari limbah beracun pabrik.

Sumber gambar, Thomas Cristofoletti/Ruom
Sekolah tempat putra Celeste belajar, dan sekolah lainnya yang terletak berjajar, dipandang tidak aman oleh wali kota sehingga dia memutuskan untuk menutupnya pada Maret lalu. Akibatnya, sebanyak 700 murid harus pergi ke sekolah yang lebih jauh dan belajar bergiliran karena jumlah mereka terlalu banyak. Kesehatan mereka juga mesti diperiksa secara reguler.
"Tahun ajaran lalu sangat sulit bagi anak-anak kawasan ini dan orang tua mereka," ujar Celeste.
Bukit yang memisahkan pabrik baja dan permukiman telah dibersihkan, menurut pemerintah daerah setempat. Adapun sekolah-sekolah kembali dibuka ketika tahun ajaran baru berlangsung pada Rabu (18/09).
Bagaimanapun, banyak orang tua di Taranto sudah muak. Carla dan Celeste mendirikan kelompok akar rumput yang menuntut udara bersih untuk anak-anak mereka. Keduanya menggelar pawai, demonstrasi, dan melobi para pejabat pemerintah.
"Yang kami minta dari pemerintah adalah menutup semua sumber polusi," tegas Celeste.
Sejak 2011, Mahkamah Eropa (ECJ) telah berulang kali memutuskan pabrik Ilva telah melanggar standar lingkungan. ECJ lantas memerintahkan pemerintah Italia untuk bertindak—tapi tidak dipatuhi.
Dalam putusan terkini pada Januari lalu, ECJ mencatat kegagalan pemerintah Italia melindungi warganya dari polusi yang membahayakan kesehatan mereka.
Pengadilan Italia juga gagal memaksa pemerintah. Pada 2012, pengadilan memerintahkan penutupan bagian-bagian pabrik yang paling banyak menyebabkan polusi, tapi ditepis oleh pemerintah di Roma.
Menteri Kesehatan saat itu berdalih bahwa sebanyak 20.000 pekerjaan bergantung pada pabrik tersebut dan kehilangan pekerjaan juga akan berdampak kuat pada kesehatan individu.

Sumber gambar, Thomas Cristofoletti/Ruom
Pejabat setempat mengamini bahwa seharusnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk melindungi warga lokal. Namun, menurut mereka, wali kota tidak punya kewenangan untuk menutup pabrik Ilva. Hal paling baik, menurut pemkot, perbaikan dari pihak pabrik.
Itulah yang dijanjikan ArcelorMittal. Tatkala perusahaan itu mengambil alih pabrik pada November lalu, mereka bakal mengalokasikan €1,2 miliar dalam perencanaan lingkungan agar emisi dapat dipangkas menjadi nol, kata Henri-Pierre Orsoni, kepala teknik perusahaan.
"Targetnya adalah keunggulan," kata Orsoni, sembari menambahkan bahwa pabrik tersebut seharusnya punya standar lingkungan tinggi dari pabrik lain karena lokasinya begitu dekat dengan kota.
Pemerintah Italia telah berjanji kepada ArcelorMittal bahwa ketika perusahaan itu membeli pabrik Ilva, mereka tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas kerusakan lingkungan atau dampak kesehatan selagi menerapkan langkah pembersihan.
Pada Juni lalu, parlemen sepakat mencabut jaminan ini—namun aksi itu tidak diratifikasi.
Menteri Pembangunan Ekonomi yang baru, Stefano Patuanelli, mengatakan bulan ini bahwa dirinya siap memberikan jaminan kepada ArcelorMittal guna melanjutkan operasional pabrik selagi proses berlangsung.

Sumber gambar, Reuters
Penutupan operasional ketika pembersihan berlangsung, menurut Orsoni, bukanlah pilihan.
"Pabrik semacam ini ada begitu banyak peralatan yang bekerja 24 jam. Jika dihentikan, Anda menghancurkan pabrik."
Seraya memangkas emisi, perubahan visual paling besar adalah menutupi lokasi penyimpanan mineral di lapangan terbuka. Selama berpuluh tahun, angin dari utara menerbangkan debu dari lokasi ini dan menyebarkannya ke seantero kota sehingga bercak merah menempel di bangunan dan jemuran.
Kubah utama yang terbuat dari baja seberat dua kali bobot Menara Eiffel dan melingkupi kawasan seluas 23 lapangan sepak bola, dijadwalkan selesai November mendatang. Pada 2023, menurut Orsono, rencana lingkungan akan sepenuhnya rampung.
Para orang tua di Taranto khawatir rangkaian langkah itu terlalu sedikit dan telat, meski menyambut perbaikan yang berlangsung.
Celeste menilai pabrik Ilva tidak akan tutup dan perbaikan adalah langkah terbaik yang mereka bisa harapkan.
"Kepentingan ekonomi lebih penting dari nyawa kami".
Semua foto dilindungi hak cipta.









