Kenapa Emte terobsesi dengan piring kotor dan makanan yang tak habis

- Penulis, Pijar Anugerah
- Peranan, BBC News Indonesia
Acara makan-makan merupakan bagian dari pergaulan sosial di mana pun—terlebih di bulan Ramadan dengan dalih 'buka bersama'. Inilah yang menjadi inspirasi terbaru Muhammad Taufik alias Emte. Namun alih-alih aktivitas makan itu sendiri, sang seniman visual tertarik pada hal yang terjadi setelahnya .
Rangkaian lukisannya yang terbaru menggambarkan piring-piring kotor, makanan tidak habis, dan gelas setengah penuh ditumpuk atau tersebar berantakan di meja makan. Namun alih-alih terlihat jorok atau muram, obyek-obyek itu malah membentuk kombinasi bentuk dan warna yang menakjubkan—sekaligus menimbulkan pertanyaan.
Emte, 37 tahun, sehari-hari bekerja sebagai ilustrator lepas. Namanya melambung setelah berkolaborasi dengan sastrawan Aan Mansyur, sebagai ilustrator di buku-buku kumpulan cerpen dan puisinya. Seniman lulusan IKJ ini terkenal dengan lukisan bertema rumah atau keluarga.

Tapi kali ini Emte bermaksud menggambarkan intervensi teknologi terhadap kehidupan sosial. Ditemui di rumah sekaligus studionya di Cinere, Depok, menjelang akhir bulan Mei lalu, Emte menyoroti bahwa teknologi telah mengurangi kebutuhan manusia untuk bertemu secara tatap muka.
"Kalaupun sampai ketemuan pun, kualitas dan keintiman komunikasi itu jadi sedikit terganggu karena orang sekarang sangat distract ke banyak hal," tuturnya.
Komunikasi, bagi Emte, bisa diibaratkan sebagai kegiatan mengonsumsi informasi.
"Saya melihat makan bareng itu kan bentuk interaksi yang paling menyenangkan, paling nyantai, bisa dinikmati semua orang apapun latar belakangnya, apapun umurnya. Nah cuma karena memang proses itu juga jadi sering terganggu, saya melihatnya jadi... Ini enggak bisa utuh. Ini enggak habis."

Bukan hanya hilangnya keintiman sosial yang menjadi kegelisahan Emte. Di era berita palsu, hoaks, dan informasi viral, Emte belakangan menemukan makna lapis kedua dalam karya-karyanya.
"Makanan enggak habis itu kan menyimbolkan soal itu," kata Emte, "Kita dapat informasi tapi kita enggak telaah dulu, enggak disaring dulu sampai benar-benar habis, kita sudah keburu menyimpulkan."
Lebih jauh, ia juga menangkap fenomena media sosial. Kebanyakan lukisannya digambar dari sudut pandang atas, layaknya foto makanan cantik di lini masa Instagram.
Bedanya, di meja makan Emte sisa kuah, lauk-pauk, dan kopi yang tak habis seakan melompat dari wadahnya, memberikan kesan ada sesuatu yang tertinggal dan belum selesai.

Sang seniman mengaku bahwa ia memang lebih tertarik pada makanan sisa daripada makanan utuh, seraya menambahkan bahwa piring kotor "terlihat lebih punya emosi". Ia telah terobsesi dengan piring kotor dan makanan yang tak habis sejak pertengahan tahun lalu, ujarnya.
"Saya melihat piring yang sudah kotor dan numpuk di cucian piring itu menandakan makanan ini dinikmati, dan pasti yang makan ini menikmatinya sambil ngobrol, sambil membahas banyak hal. Dan menurut saya itu hal yang menyenangkan karena terlihat lebih hidup."
'Tetap cair'
Meski piawai dengan media lain, termasuk digital, Emte mengaku paling suka menggunakan cat air. Pada 2014 silam, dalam pameran tunggal bertajuk "Soft Violence" di Bandung, Emte berusaha mengembalikan cat air kepada "fitrah"-nya - leleh atau cair.
Karena itu, Emte menjelaskan, setiap gambarnya melumer di suatu titik. "Saya bikin semacam personal statement bahwa bentuk itu sebenarnya enggak sekokoh yang kita lihat."
Dalam rangkaian lukisan terbarunya tentang acara makan-makan ini, Emte menggunakan medium kanvas dan cat akrilik. Namun filosofinya masih sama, ujarnya.
"Saya tetap memposisikannya dia yang enggak saya kendaliin sepenuhnya. Jadi kayak dia... Enggak apa-apa dia punya karakter aslinya, dia cair."

Lukisan-lukisan Emte belakangan ini dipajang dalam pameran bertajuk "On Traces" (jejak) di Edwin's Gallery, Kemang. Pemilik galeri, Edwin Rahardjo, menilai bahwa sang seniman berusaha mengganggu para pembaca lukisannya.
"Warna-warni itu menarik kan, kalau kita lihat dari jauh. Bagus untuk kita pajang di rumah kan... Tapi kalau kita lihat lagi, piring kotor. Mungkin itu yang ia mau coba, melihat orang ketika melihat warna yang bagus tapi ini mengganggu sih," kata Edwin ketika ditemui di galerinya.
Bagi Andhini, seorang pengunjung pameran di Edwin's Gallery, lukisan Emte jelas mengganggu. "Terlihat kotor tapi artsy banget," ujarnya.
Meski begitu, Andhini merasa bisa memahami lukisan-lukisan tersebut karena nyambung dengan kehidupan pribadinya. Perempuan berusia 27 tahun itu menyebut lukisan yang menggambarkan tumpukan piring di wastafel sebagai favoritnya.
"Pertama, sangat related dengan keadaan di rumah saya. Kemudian saya suka warnanya, seperti ada sisa-sisa minyak, atau sabun cuci piring yang tumpah. Jadi warnanya sangat menyatu," tuturnya.
Jadi sepertinya, apapun interpretasi Anda tentang makna lukisan Emte, kita bisa sepakat dalam satu hal: ia membuat piring kotor terlihat indah.











