Ingat kasus ganja untuk istri? Buntoon Niyamapha di Thailand juga mencoba 'obat ganja'

Masih ingat Fidelis Ari Sudarwoto? Pegawai negeri di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, itu diganjar hukuman delapan bulan penjara karena menanam ganja yang digunakan sebagai obat bagi istrinya.

Yeni yang mengidap Syringomyelia -penyakit di sumsum tulang belakang- akhirnya meninggal dunia pada 25 Maret lalu setelah Fidelis ditangkap dan ditahan sehingga tidak ada lagi yang memasok 'obat ganja' untuknya.

Terlepas dari niatnya saat menaman ganja itu, Fidelis tetap saja dinyatakan bersalah oleh pengadilan.

Kisahnya mirip dengan seorang mantan polisi di Thailand yang awalnya menggunakan ganja untuk obat bagi saudara perempuannya namun belakangan melayani sejumlah orang lain.

Bedanya, Buntoon Niyamaph belum pernah didatangani oleh polisi Thailand, setidaknya sampai berita ini diturunkan.

Saat ini, lebih dari 20 negara sudah melegalkan penggunaan ganja atau marijuana namun Thailand -seperti Indonesia - masih melarang orang menghisap ganja, apalagi menanamnya.

Wartawan BBC Thailand, Thiti Meetam dan Thitipol Panyalimpanun, menurunkan laporan tentang kemungkinan ganja untuk digunakan sebagai obat.

Walau pemerintah Thailand sedang mengkaji UU untuk memungkinkan penelitian yang lebih banyak tentang marijuana, sekelompok pasien dan dokter sudah melangkah lebih maju dalam beberapa tahun belakangan.

Buntoon Niyamapha -yang juga dikenal sebagai 'Paman Too'- mulai menghisap ganja pada tahun 1970-an, ketika belum ditetapkan sebagai pelanggaran hukum. Begitu Undang-undang Narkotika melarang ganja tahun 1979, dia ke luar dari polisi dan mendirikan penyilangan wiski kecil.

Kepada BBC Thai, dia mengatakan bahwa saudara perempuannya didiagnosa menderita kanker rahim tahun 2012 dan dia mulai belajar tentang marijuana lewat internet. Menurutnya, sari yang dibuatnya pada masa-masa awal bisa meyelamatkan saudara perempuannya, yang saat itu menjalani operasi dan terapi radiasi.

"Begitu lembaga kanker di sejumlah negara mengukuhkan bahwa kanker bisa diobati paling efektif dengan marijuana, saya tidak menunggu lembaga kanker Thiland. Saya mencari di internet sampai saya temukan petunjuk oleh Rick Simpson, warga Amerika yang membuat sari ganja untuk mengobati dirinya sendiri, dan saya jalan terus," jelasnya di rumahnya di pinggiran Bangkok, yang semerbak dengan aroma ganja.

Dia mengaku Rick Simpson yang membuka matanya dan yakin bahwa undang-undang harus diubah demi menyelamatkan nyawa manusia.

"Kalau saya takut dengan undang-undang yang ketinggalan zaman, maka semua yang saya cintai sudah meninggal."

Setiap hari di ruangan berwarna ungu di rumahnya, Niyamapha menyambut pasien tetap maupun baru, yang membeli botol-botol kecil berisi sari marijuana. Sebagian dari uang yang masuk dia gunakan untuk membantu ibu-ibu yang memiliki anak penderita gangguan otak namun tak mampu membayar pengobatan.

"Melelahkan... dibanding menjadi polisi sekalipun. Anda tidak punya waktu untuk tidur. Saya lelah menjelaskannya kepada masyarakat. Saya harus melakukan banyak perjalanan untuk memberi penjelasan atau menindaklanjutinya dengan para pasien."

"Seandainya GPO (Organisasi Farmasi Pemerintah) mengambil alih dari saya, begitulah mestinya. Tanggung jawab seharusnya di pemerintah, bukan orang kecil seperti saya," tambahnya.

Apa kata para dokter Thailand?

Somnuk Siripanthong adalah satu dari sekitar 30 dokter Thailad yang bekerja bersama Niyamapha untuk mendiagnosa para pasien dan memberi resep sari marijuana.

Dia mengatakan banyak temuan penelitian yang memberi bukti bahwa marijuana berfungsi seperti TP53, atau gen antikanker di dalam tubuh yang tidak mengganggu kesehatan seseorang.

"Banyak pasien kanker yang menggunakan marijuana yang memeriksa darahnya pada saya dan ditemukan bahwa sel-sel kanker mereka berkurang. Mereka adalah orang yang menolak chemotherapy dan terapi radiasi. Banyak yang bertanya kenapa saya mengatakan hal itu ketika di Thailand tidak ada riset yang mendukungnya, jadi saya bilang datanglah dan lihatlah pasien-pasien ini."

Siripanthong menjelaskan ada dua substansi di marijuana yang bekerja bersama, yaitu Cannabidiol (CBD) dan Tetrahydrocannabinol (THC). Yang pertama mengurangi peradangan dan perkembangan tumor sementara yang kedua meningkatkan fungsi kognitif dan nafsu makan.

Dia juga mendesak agar lebih banyak dokter di Thailad yang muncul ke umum untuk mendukung marijuana sebagai obat namun Dewan Medis Thailand masih belum siap untuk itu.

"Penelitian kami belum memenuhi kualifikasi sebagai obat. Kami di sini bukan orang jahat, namun bukti-bukti yang kami miliki belum cukup. Jika lebih banyak studi di masa depan, hal itu bisa berubah," jelas juru bicara Dewan Medis, Chanwalee Srisukho, kepada BBC Thai.

Srisukho mengutip prinsip dokter untuk 'tidak membahayakan' sebagai alasan Dewan tidak mendukung marijuana sebagai obat.

"Kami minta orang untuk tidak mengabaikan pengobatan konvensional, karena ada rincian riset menyeluruh untuk mendukungnya. Bagi sebagian kanker, (pengobatan konvensional) memiliki tingkat penyembuhan sampai 90%."

Berubahnya cara pandang dunia atas marijuana

Marijuana sudah menjadi obat sah di sejumlah negara, seperti Belanda, Kolombia, Uruguai, Kanada, dan Australia. Di Amerika Serikat, California merupakan negara bagian keenam yang mengizinkan penggunaan ganja untuk bersenang-senang, sekitar 20 tahun setelah melegalkan marijuana sebagai obat.

Oktober lalu, Peru mensahkan undang-undang untuk memungkinkan ganja sebagai obat, menyusul penggrebekan polisi atas sebuah laboratorium buatan yang digunakan para kaum ibu untuk menghasilkan marijuana sebagai obat bagi anak-anak mereka yang sakit.

Di Thailand, marijuana didokumentasikan sebagai unsur dalam banyak pengobatan tradisional Thailand, sebelum dilarang tahun 1943, Undang-undang narkotika yang lebih ketat diperlakukan tahun 1979 dan tidak berubah banyak sampai sekarang.

Tahun 2013, Thailand menyatakan perang melawan narkoba, yang menyebabkan kematian 1.370 orang dalam waktu tiga bulan pertama penerapannya namun sampai sekarang terbukti sebagai langkah yang tidak efektif untuk mengatasi masalahnya.

Kepala Badan Pengendalian Narkotika Thailand, Sirinya Sitthichai, mengatakan kepada BBC Thai bahwa dunia kini sudah menyadari problem narkoba dengan cara berbeda dan negara itu sedang mempertimbangkan sebuah undang-undang baru yang memungkinkan lebih banyak penelitian tentang narkotika.

"Kami sudah membentuk komite untuk mempertimbangkan kembali status hemp (sejenis tanaman kanabis), marijuana, Kratom (daun yang juga bisa digunakan sebagai stimulan), dan methamphetamine, yang menurut studi-studi bisa memiliki manfaat medis," kata Sitthichai.

Sejak awal tahun ini, pemerintah Thailand sudah mengizinkan penanaman hemp untuk digunakan dalam pabrikan. Kini, sektor pertanian, bersama dengan para pasien Niyamapha berharap marijuana juga akan mengikuti langkah itu.

"Undang-undang baru akan memungkinkan penggunaan marijuana secara saintis dan medis, untuk menemukan manfaatnya," jelas Sitthichai. "Jika riset menemukan bahwa itu bisa digunakan untuk tujuan medis, maka akan bermanfaat bagi manusia secara umum."