Pengobatan preventif agar Indonesia 'tak bangkrut'

Kampanye pengobatan preventif berisi pencegahan meluasnya penyakit metabolik, dipercaya pemerintah menjadi kunci keberhasilan mengendalikan besarnya anggaran kesehatan nasional.
Pemerintah berencana memperbesar kegiatan kampanye memperbaiki gaya hidup penduduk Indonesia untuk menghindarkan ledakan jumlah pasien akibat penyakit metabolik.
"Kita sudah lakukan analisis dan memang kita lihat ada shift dari penyakit sederhana: diare, ISPA dan seterusnya ke penyakit tidak menular," kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi kepada BBC.
Penyakit yang lazim disebut gangguan metabolik ini menempati urutan teratas penyebab kematian di Indonesia yakni <link type="page"><caption> stroke, jantung,</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/multimedia/2011/06/110613_videohealth.shtml" platform="highweb"/></link> ginjal, kanker dan diabetes.
Meski subsidi untuk pengobatan penyakit berat ini terbatas, tetapi dana negara untuk perawatan penyakit-penyakit ini dari tahun ke tahun jumlahnya terus melonjak.
Pada tahun lalu untuk <link type="page"><caption> skema Jamkesmas</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2013/05/130528_bagi_kartu_kjs.shtml" platform="highweb"/></link> anggaran perawatan lima penyakit berat ini mencapai lebih dari 83% dari total dana yang disediakan.
"Itulah yg paling banyak sedot biaya dalam anggaran (kesehatan) kita, " tambah Nafsiah.
Meski kebanyakan orang menyadari gaya hidup tak teratur dan jarang olahraga akan memicu penyakit, tetap saja pasien baru bermunculan.
Direktur Askes Dr Fahmi Idries mengatakan masyarakat seolah bersikap masa bodoh terhadap ancaman penyakit metabolik antara lain karena beranggapan 'sudah ada pengobatan gratis."
"Health care is not free, yang tidak mampu betul dibayar negara tetapi yang mampu tetap harus bayar sendiri," kata Fahmi.
Pesan ini menurut Fahmi, yang juga mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia, juga harus terus digemakan agar tak makin berat anggaran dipakai untuk mengobati pasien sakit berat.
Takaran gula dan garam
Salah satu data mutakhir tentang jumlah penderita penyakit metabolik di Indonesia menyebut pada tahun 2011, dari setiap 1.000 orang di Indonesia, terkena stroke.
Selain itu, stroke juga penyebab utama kematian pada semua umur dengan proporsi 15,4 persen. Setiap tujuh orang yang meninggal di Indonesia, satu di antaranya karena stroke.
Pangkal sebab stroke adalah tekanan darah tinggi (hipertensi), yang menurut WHO menyumbang 51% kematian melalui stroke dan 45% kematian melalui jantung koroner.
Di Indonesia data Kemenkes menunjukkan hipertensi adalah salah satu penyakit dengan prevalensi tertinggi: 31,7%.
Itu berarti 1 dari 3 orang Indonesia menderita penyakit ini.
Sementara dalam kasus penyakit jantung data sepuluh tahun lalu menyebut dalam setiap 1000 populasi sedikitnya 53 orang tewas akibat <link type="page"><caption> serangan jantung</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/multimedia/2011/06/110613_videohealth.shtml" platform="highweb"/></link> di Indonesia tiap tahun.
Ledakan jumlah penderita penyakit metabolik ini menurut Menkes Nafsiah erat kaitannya dengan tingkat gizi minimal saat bayi/balita.
"Kita tahu ada hubungan erat antara malnutrisi pada bayi dan over nutrisi pada usia remaja, dewasa dan lebih lagi lansia."
Kementerian telah mengeluarkan program CERDIK, kampanye khusus memerangi penambahan kasus penyakit metabolik.
Menkes mengatakan pemerintah juga akan mengeluarkan petunjuk gizi baru baru bagi dokter dan petugas medis tentang asupan makanan 'terutama untuk takaran gula, minyak goreng atau lemak dan garam' yang dituding jadi faktor pemberat munculnya hipertensi, jantung koroner dan diabetes.
Yang juga memberatkan anggaran adalah penyakit akibat merokok dan turunannya, termasuk jantung, kelainan pada paru serta kanker.
"Saya belum berhasil melarang pemberian jaminan Kesehatan untuk perokok. Bayangkan ada 66 juta di Indonesia."
Senam pagi

Di luar kasus-kasus metabolik, penyakit menular serta wabah terkait sanitasi lingkungan masih menyumbang angka kematian tiap hari.
Dr Seny Sumalgo sudah 26 tahun berdinas dari puskesmas ke Puskesmas, namun mengaku masih menemui kasus diare dan muntaber hampir setiap hari.
Pangkal peraoalannya menurut Seny adalah kesadaran tentang kebersihan dasar yang rendah.
"Kenapa ini kukunya panjang-panjang, hitam-hitam pula?" Seny memarahi ibu seorang pasien saat memeriksa pasien di Puskesmas Maccini Sawah, Makassar.
Si pasien, Muhammad Adli, baru dua tahun datang dengan keluhan buang-buang air besar dan demam. Ibunya, Anisah, mengaku si anak belum makan sejak sehari sebelumnya karena tak ada nafsu makan.
"Jangan kasih dia makan ciki-ciki (makanan ringan kemasan) saja, makan nasi yang betul," tambah dokter Seny.
Resep hidup bersih sederhana seperti cuci tangan dan mandi dengan teratur masih merupakan bahan kampanye penting di tingkat layanan kesehatan dasar seperti Puskesmas.
Puluhan juta warga miskin seperti Anisah, bersuami tukang becak dengan empat anak, sering kali dihadapkan pada perasoalan mendasar penyediaan makan layak dan air bersih.
"Kita tidak boleh bosan ngomong dan cerewet soal cuci botol susu yang betul, makan jangan jajan sembarangan, yang sepele-sepele itu," kata dokter ramah ini.
Kampanye dasar seperti ini sempat menjadi salah satu materi utama ajang PKK dan Posyandu di bawah era Orde Baru.
Kini Menkes Nafsiah Mboi mengatakan juga berniat meniru kampanye hidup sehat gaya lama yang menurutnya 'tak perlu rumit dan murah.'
"Mulai dari PAUD TK SD SMP dimasukkan agenda senam, dulu jaman dulu kami biasa senam kemudian ada pertandingan lagi ini dan itu.
"Dari kecil kita biasa bergerak, beda dengan sekarang semuanya berdasar permainan game, telepon genggam yang tidak bergerak," tegas Menkes.
Sayangnya, ia mengakui mencangkokkan senam pagi dalam agenda kegiatan sekolah ternyata tidak mudah.
"Ini yang saya belum berhasil sampai sekarang."









