Faisal Basri dan pertaruhan kursi gubernur Jakarta

faisal basri
Keterangan gambar, Faisal Basri menyebut pertarungannya merebut kursi gubernur sebagai pertaruhan.

Faisal Basri, analis ekonomi dan aktivis politik yang selama ini dikenal kritis dan selalu menjaga jarak dengan kekuasaan, kini mencalonkan sebagai kandidat Gubernur Jakarta.

Melalui jalur independen, Faisal dan pasangannya Biem Benyamin, resmi mendaftar sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sabtu (11/02) lalu.

Faisal Basri mengatakan, dia bersedia dicalonkan sebagai kandidat 'orang nomor satu' di Jakarta dari jalur independen, karena menyadari ini merupakan momentum yang tepat di tengah sikap masyarakat yang disebutnya jengah terhadap perilaku partai politik.

"Kesadaran bahwa (jalur independen) ini adalah momen yang mungkin tidak dua kali datangnya, tatkala keyakinan masyarakat terhadap partai-partai mencapai titik nadir, kemudian solusi-solusi yang ditawarkan makin radikal," kata Faisal Basri dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Kamis (02/02) lalu.

Dari kesadaran seperti itulah, Faisal akhirnya tidak bisa menolak ketika kawan-kawan serta simpatisannya mendorongnya untuk maju dalam bursa gubernur Jakarta.

"Jadi, jangan dilihat semata-mata kursi gubernur," kata Faisal berulang-ulang,"tapi ini cara kita untuk melakukan sesuatu, untuk meningkatkan mudah-mudahan keseimbangan politik yang lebih berkualitas".

Keseimbangan politik yang dimaksud lelaki kelahiran Bandung, 6 November 1959 ini adalah kehadiran calon independen sebagai pengimbang calon-calon lain yang diajukan oleh partai-partai politik.

Pilihan Faisal untuk terjun merebut kursi gubernur tidak terlepas pula dari keyakinannya bahwa perubahan politik di Indonesia harus melalui proses demokratis.

Kalimat ini muncul dari mulut Faisal, setelah dia ditawari untuk bersama-sama menggulingkan kekuasaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Saya juga ditawarkan untuk ikut barisan untuk menggulingkan pemerintah, atau melakukan koalisi spektrum luas untuk menjatuhkan (rezim yang berkuasa)..."

"Tapi akhirnya saya menyadari, proses politik di Indonesia ini harus dilakukan dengan cara-cara yang disepakati, yaitu proses demokrasi," tandas Faisal yang mengaku lebih sebagai aktivis politik ketimbang analis ekonomi.

Sebuah pertaruhan

Keikutsertaan Faisal dalam percaturan politik perebutan kursi gubernur Jakarta, sebetulnya sudah dia cicipi lima tahun lalu, ketika namanya masuk dalam bursa kandidat calon gubernur yang diajukan PDI Perjuangan.

Namun namanya akhirnya tenggelam setelah partai berlogo kepala banteng itu mencalonkan nama lain.

Faisal Basri dielukan simpatisannya usai mendaftar sebagai
calon gubernur Jakarta.

Sumber gambar, faisalbiem.com

Keterangan gambar, Faisal Basri dielukan simpatisannya usai mendaftar sebagai calon gubernur Jakarta.

Rupanya, salah-seorang deklarator Partai Amanat Nasional (PAN) ini belajar dari kenyataan politik kepartaian seperti itu, padahal dia sudah meyakini bahwa perubahan harus dilakukan dari dalam.

"Pilihan-pilihannya sangat terbatas. Kita masuk partai, juga kita tidak kuat. Mau bikin partai baru, hampir mustahil," papar Faisal, yang pernah meraih penghargaan Pejuang anti Korupsi 2003, yang diberikan Masyarakat Profesional Madani, MPM.

Tetapi kesempatan itu akhirnya datang juga, ketika calon independen tidak dilarang untuk ikut berkompetisi dalam pemilu kepala daerah.

"Kalau calon independen di tempat lain, barangkali saya tidak sanggup, karena cakupan wilayahnya sangat luas. Nah, Jakarta merefleksikan sedikit banyak tentang perpolitikan nasional. Jadi efek di Jakarta, akan sampai ke level nasional," jelasnya, saat saya menanyakan nilai strategis posisi gubernur Jakarta.

Dosen pada beberapa perguruan tinggi ini kemudian menyebut pilihannya itu sebagai sebuah pertaruhan.

"Istilahnya sekarang ada momen, ada kesempatan, kemudian ada sumber daya yang memungkinkan kita melakukan ini semua," katanya,"dan saatnya sekarang untuk mempertaruhkan itu".

"Kan kalau tidak ada yang mempertaruhkan, tidak ada yang bisa memenangkan. Tidak mungkin kemenangan itu dicapai, kalau kita tidak mempertaruhkan".

Basis politik

Kalangan pengamat mengkhawatirkan, tanpa basis politik yang kuat, pasangan independen Faisal Basri-Biem Benyamin akan kesulitan menjalankan programnya di tengah dinamika partai politik, jika kelak dia terpilih.

"Dari sisi gagasan, dia bisa saja memformulasikan ide-de yang menurutnya ideal," kata Guru Besar FE Unibraw Profesor Doktor Ahmad Erani, "tapi ketika diimplementasikan kan harus melewati proses politik (di DPRD Jakarta), kemudian bersinggungan dengan kepentingan birokrasi dengan segala keterbatasannya".

Faisal Basri menyatakan siap berkompromi dalam batas tertentu.
Keterangan gambar, Faisal Basri menyatakan siap berkompromi dalam batas tertentu.

"Nah, pertarungan-pertarungan kepentingan seperti itulah, rasanya harus juga dimenangkan Faisal Basri untuk memastikan bahwa gagasan itu bisa betul-betul dijalankan di lapangan," papar Ahmad Erani.

Ketika persoalan ini saya tanyakan, Faisal Basri memberikan jawaban: "Intinya adalah sepanjang kita laksanakan agenda-agenda rakyat, siapapun tidak bisa menghambat".

Karena itulah, mantan Sekjen Partai Amanat Nasional (1998-2000) ini yakin kelak programnya akan didukung partai-partai di DPRD Jakarta.

"Kecuali kalau agenda yang saya jalankan, adalah agenda saya pribadi, penuh vested interest, mengedepankan pihak tertentu, saya pasti dijegal oleh kekuatan politik lain," katanya, diplomatis.

Dia menjanjikan, untuk mengajak para politisi di DPRD Jakarta untuk "berpolitik yang bermartabat", apabila terpilih kelak.

Saya lantas bertanya lagi: apakah Anda siap kecewa berkecimpung di politik praktis, mengingat Anda pernah menjadi pengurus PAN, dan kemudian keluar karena kecewa terhadap realitasnya?

"Kalau untuk Jakarta, kita punya kesempatan untuk menerapkan melaksanakan program kita secara utuh, karena kekuatan mengeksekusi itu sempurna ada di tangan kita," tandas peraih Master of Arts di bidang ekonomi dari Vanderbilt University, Nashville, Tenessee, AS (1988) ini.

"Jadi", kata Faisal, "kita punya keleluasaan untuk melaksanakan gagasan-gagasan kita secara penuh, apalagi kita independen".

Menurutnya, dia tidak terikat oleh konsesi-konsesi partai dan tidak terikat oleh dukungan "cukong seperti yang banyak terjadi pada pilkada".

Menjawab pertanyaan apakah dia siap berkompromi jika terpilih sebagai gubernur Jakarta, Faisal menyatakan siap. "Tapi kompromi tanpa harus menginjak-injak nilai-nilai dasar".

Dituduh neoliberal

Ketika pemilihan presiden digelar dua tahun lalu, beberapa ekonom sempat dituduh sebagai penganut mazhab neoliberal.

Tuduhan ini semula diarahkan kepada calon wakil presiden saat itu Boediono, tetapi belakangan Faisal Basri juga dianggap berada dalam barisan ekonom yang menyokong neoliberal -- meski istilah neoliberal sendiri dianggap problematik, sejauh ini.

Faisal Basri mengaku penganut sosial demokrasi.

Sumber gambar, faisalbiem.com

Keterangan gambar, Faisal Basri mengaku penganut sosial demokrasi.

Sejak awal, Faisal Basri -- dan terutama kalangan dekatnya yang mengenal sikap dan pemikiran ekonominya -- mempertanyakan tuduhan tersebut.

Analis ekonomi yang juga guru besar FE Unibraw Ahmad Erani mengatakan, di tengah tarik-menarik antara peran pasar dan pemerintah, pemikiran Faisal Basri disebutnya berada di tengah-tengah.

"Jadi tidak terlalu alergi dengan mekanisme pasar. Tetapi di sisi lain dia menganggap peran pemerintah penting dalam mempengaruhi aktivitas ekonomi," kata Erani saat saya hubungi melalui telepon. "Itu sikap yang secara umum dia tunjukkan".

"Tetapi kalau mau lebih spesifik," lanjutnya," dia (Faisal Basri) itu 'tengah kanan'... Jadi kepercayaannya terhadap mekanisme pasar itu relatif lebih besar ketimbang menyerahkan sebagian urusan ekonomi kepada pemerintah".

Terhadap berbagai anggapan dan analisa terhadap pemikiran ekonominya, Faisal Basri memberikan jawaban sebagai berikut:

"Saya harus menyatakan kepada publik, bahwa saya penganut sosial demokrasi," tegas anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sejak tahun 2000 ini.

(Suatu saat, Faisal Basri bersama KPPU mengeluarkan semacam rekomendasi pelarangan jaringan minimarket karena dianggap melakukan ekspansi yang merugikan pasar tradisional. "Sayangnya, keputusan ini tidak bisa dieksekusi.. Karena yang mengeluarkan ijin adalah pemda," kata Faisal).

Artinya, "(Saya) menghargai prinsip-prinsip demokrasi, tapi bukan liberal demokrasi. Menghargai prinsip -prinsip pasar tapi bukan pasar bebas," jelasnya.

Faisal Basri kemudian mengilustrasikan posisinya itu dalam pengertian yang lebih praktis: "Pasar itu harus dibingkai. Ada pasar, (maka) ada jaring-jaring pengaman pasar. Itu dua hal yang harus ada pada saat yang sama".

Artinya, peran negara harus diperbesar? Tanya saya.

"Peran negara harus diperbesar, sejalan dengan semakin besarnya peran pasar. Ini untuk menjamin agar pasar tidak anarkis, untuk menjamin agar pasar tidak menimbulkan jurang antara yang super kaya dan yang miskin," jelasnya.

Keberpihakan ala Adam Malik

Suatu hari, ketika masih berstatus mahasiswa, Faisal Basri dirundung sedih yang menyayat menyusul kematian ayahnya, Hasan Basri.

Di salah-satu ruangan rumah orang tuanya ("yang berlantai kayu dan beratap seng," begitu Faisal, suatu saat menggambarkan rumah masa kecilnya), di kawasan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan, jenazah mendiang ayahnya disemayamkan dan disholatkan, ketika itu.

Sebelum meninggal, ayahnya bekerja di sebuah perusahaan percetakan, yang menurut Faisal, pendapatannya pas-pasan.

Adam Malik (1966), saat menjadi wakil presiden, disebut Faisal Basri peduli terhadap kaum papa.

Sumber gambar, tpi.blogspot

Keterangan gambar, Adam Malik (1966), saat menjadi wakil presiden, disebut Faisal Basri peduli terhadap kaum papa.

(Itulah sebabnya, ketika ayahnya meninggal, Faisal yang saat itu menginjak semester 3, menghentikan kegiatan organisasi dan menjadi asisten peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, LPEM, Universitas Indonesia. "Saya harus mengongkosi kuliah sendiri, ayah sudah wafat..." ujar Faisal, dalam sebuah wawancara).

Dan kembali lagi ke suasana duka ketika ayah Faisal Basri meninggal. Ketika keluarga dekat, tetangga, serta kerabat berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa, tiba-tiba di tengah keheningan di dalam ruangan itu, para tamu dikejutkan kehadiran seorang tamu -- yang sosoknya sangat dikenal.

Dengan sedikit menerawang, Faisal Basri kepada saya kemudian menjelaskan: "Kami dari keluarga yang sangat miskin...Adam malik datang dua kali ke rumah. Kaget semua orang..."

Adam Malik, sosok tamu itu, tidak lain adalah Wakil Presiden Indonesia (periode 1978 - 1983), yang juga kakek Faisal Basri dari garis keluarga ibunya.

Peristiwa kunjungan Wapres Adam Malik ini, rupanya, begitu membekas pada Faisal. "Jadi justru yang dia sapa adalah yang papa. Itu yang saya tidak bisa saya lupakan".

Dan, lanjutnya, sikap seperti itu berulangkali dilakukan sang kakek.

"Adam Malik," kata Faisal," langsung memberikan contoh kepada saudara-saudaranya. Tatkala bibi yang buta huruf datang, dengan kain yang lusuh, tidak ada yang mengantar ke airport, dia yang mengantar sampai bibi duduk di pesawat".

Ayah tiga anak itu kemudian teringat, perhatian Adam Malik kepada kaum papa tidak sebatas pada keluarganya semata.

"Kawannya di LKBN Antara yang meninggal dunia di Rengas Dengklok, pun dia datangi dengan naik ojek, karena nggak bisa dilalui kendaraan roda empat, "ungkapnya, bercerita.

Juga sebuah kejadian ketika Adam Malik menerima beberapa orang suku Badui yang bertelanjang kaki, datang ke rumahnya.

Dari pengalamannya menyaksikan langsung atau mendengar sepak-terjang Adam Malik itu, Faisal Basri belakangan menafsirkannya sebagai sebuah sikap keberpihakan.

Sebuah sikap yang kelak diakui Faisal ikut mempengaruhi perjalanan hidupnya.

"Keberpihakan, itu terutama," ujarnya.

Tas ransel 'kantong Doraemon'

Tas ransel warna hitam itu masih setia menemaninya -- seperti halnya kemeja biru pucat dan sepatu sandal kulit yang acap dia kenakan dalam berbagai acara.

Kebiasaannya kemana-mana menenteng tas ransel itu, memang, merupakan salah-satu pertanyaan yang (selalu) ingin saya ajukan kepada Faisal Basri, bilamana ada kesempatan untuk mewawancarainya.

Faisal Basri hampir selalu membawa tas ransel hitamnya kemanapun dia pergi.

Sumber gambar, faisalbiem.com

Keterangan gambar, Faisal Basri hampir selalu membawa tas ransel hitamnya kemanapun dia pergi.

Karena itulah, ketika mendapat kepastian jadwal untuk mewawancarainya di sebuah hotel di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta Selatan (saat itu dia dan tim suksesnya tengah menggelar rapat di sudut kafe hotel itu), saya pastikan agar tidak terlupa untuk mengajukan perihal tas ransel tersebut.

Kalau terpilih menjadi gubernur, Anda tetap pakai sepatu sandal dan tas ransel? Tanya saya, seraya tertawa ringan.

"Ya, iyalah... sepanjang tidak dilarang," kata Faisal Basri, menjawab pertanyaan, sambil memiringkan badan dan tangannya mulai membuka ristleting tas ransel hitam yang dia letakkan di sisi kanannya.

"Kan ini isinya macam-macam," tambahnya.

(Ketika kalimat itu meluncur dari mulutnya, saya teringat julukan "kantong Doraemon" yang pernah disematkan para koleganya terhadap tas ransel hitam milik Faisal).

Secara cermat, tangan Faisal kemudian merogoh dan mengeluarkan benda-benda keseharian dari dalam 'kantongnya' itu: mulai sikat gigi ("Siapa tahu, saya harus menginap di rumah warga..."), botol air minum ("Kan saya anti minuman dalam kemasan..."), buku catatan, rokok, kaca pembesar, hingga tas belanja ("Kalau belanja di supermarket, saya nggak pakai kresek, tinggal saya buka tas ini... Saya harus memberi contoh pada warga untuk ramah lingkungan...").

"Segala macam ada di sini," katanya lagi, seraya mengeluarkan stapler (alat penjepit kertas) warna merah, dari salah-satu kantong kecil di dalam tasnya.

"Kalau saya nggak bawah (stapler) ini, (nanti saya minta) tolong dong, bawain (stapler)... Banyak sekali minta tolongnya, itu ciri-ciri pemimpin yang ingin dilayani terus," tandas Faisal, kali ini dengan mimik serius.

Ingin bisa menyanyi

Ketika wawancara berlangsung, suara Faisal Basri terdengar serak, dan sesekali terbatuk.

Beberapa kali dia menyeruput air jeruk hangat di hadapannya, seraya membetulkan letak krah jaket hitamnya.

Kesibukannya mempersiapkan pendaftaran calon gubernur Jakarta, rupanya, menyita sebagian besar aktivitas kesehariannya -- termasuk waktu untuk keluarganya.

"Sudah pasti ada waktu untuk keluarga berkurang sekali ya," kata suami Syafitrie dan ayah tiga anak ini, agak lirih.

Faisal Basri menyenangkan orang banyak dengan ingin dapat menyanyi.

Sumber gambar, faisalbiem.com

Keterangan gambar, Faisal Basri menyenangkan orang banyak dengan ingin dapat menyanyi.

Namun demikian, Faisal mencoba untuk menyisihkan waktu untuk keluarganya, meski terbatas.

"Seperti pagi tadi, anak saya sedang sakit, saya (memilih) lebih lama di rumah. Saya ajak dia cari sarapan bubur di pingir jalan," ungkapnya.

"Kemudian sedapat mungkin hari minggu, ikut car free day."

"Setahun sekali selalu berlibur dengan anak-anak, paling tidak seminggulah. Keluar dari kerutinan. Mudah-mudahan bisa kita pertahankan itu".

Walaupun demikian, di tengah kesibukan itu, Faisal menyempatkan untuk menyalurkan kesukaannya, yaitu membaca buku.

Saya tanya buku apa yang dia baca belakangan, mantan Rektor STIE Perbanas (1999-2003) ini menyebut buku Mismeasuring Our Lives, Why GDP Doesn't Add Up, karya Joseph E. Stiglitz, Amartya Sen, dan Jean-Paul Fitoussi.

Menurutnya, isu buku tersebut "sejalan dengan mencari vision buat Jakarta yang (saya inginkan) tidak bertolak pada modernitas dalam bentuk gedung-gedung pencakar langit. Tetapi kita ingin mewujudkan Jakarta itu kampung kita bersama, kota kita bersama. Seharusnya ada indikator-indikator yang baru buat Jakarta".

Jika Anda bisa mengulang waktu, apa yang hendak Anda lakukan? Saya bertanya, lebih lanjut.

"Nggak terpikirkan," sergahnya seraya tertawa ringan.

"Tapi," imbuhnya cepat-cepat,"saya ingin pandai menyanyi, agar bisa menyenangkan banyak orang".

"Sekarang saya nggak bisa menyanyi. Kalau saya disuruh menyanyi, paling parah... Dan itu memalukan. Saya ingin lebih menyenangkan dengan bisa menyanyi juga..."