Benarkah NII KW-9 didalangi?

Situs NII Crisis Centre

Sumber gambar, niicrisiscentre

Keterangan gambar, Situs NII Crisis Centre membantu para korban pengrekrutan NII KW-9

Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan tentang gerakan NII KW9 yang dituduh melakukan penyesatan dan penipuan, muncul tudingan bahwa gerakan yang berbasis di pesantren Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat, itu merupakan gerakan yang dilindungi oleh oknum aparat intelijen.

Begitulah kata pengamat masalah gerakan radikal yang juga dosen Univristas Malikus Saleh, Lhokseumawe, Al Chaidar.

Menurutnya, NII KW-9 dibiarkan melakukan kegiatan-kegiatan yang menghalalkan segala cara agar orang-orang yang berpotensi untuk direkrut menjadi anggota gerakan-gerakan pembentukan negara Islam di masa-masa mendatang, menjadi jera.

Al Chaidar menyebut strategi intelijen itu sebagai taktik defeksi atau menyimpangkan arah.

"Rencannya, program defeksi ini akan membuat mereka kapok atau jera dengan ide negara Islam tetapi ternyata ada hasil defiasi atau menyimpang, yaitu membuat mereka menjadi lebih radikal," kata Al Chaidar.

Agar dihentikan

Al Chaidar meminta agar permainan yang dianggapnya membahayakan ini segera dihentikan. Sebab, bisa merusak rakyat Indonesia, katanya.

"Inilah yang sering saya suarakan di berbagai media bahwa program defeksi ini harus dihentikan karena menyiksa rakyatnya sendiri.

"Negara menyiksa rakyatnya sendiri dan negara ini telah memberikan kontribusi bagi tumbuhnya bibit-bibit terorisme," ujar Al Chaidar.

Bukan Al Chaidar saja yang menyebut adanya peranan oknum intelijen.

Mantan anggota jemaah NII KW9, Ken Setiawan yang sekarang memimpin lembaga yang membantu para korban pengrekrutan kelompok itu, yaitu NII Crisis Centre, yakin dugaan itu ada benarnya.

"Saya yakin ada. Tetapi kita melihat dalam beberapa hari ini intelijen selalu membantah keterlibatannya dalam (kegiatan) kelompok NII itu sendiri.

"Tapi itu hak mereka untuk berpendapat tentang analisis mereka sendiri. Tetapi, semua orang kan hari ini sudah bisa melihat realitas.

Ken Setiawan mengatakan, gerakan ini adalah gerakan yang nyata dan intelijen mempunya alat yang sangat canggih untuk melacak kegiatan NII.

Di menambahkan, "Jadi sangat mustahil intelijen tidak mengetahui gerakan ini. Jadi peran-peran tokoh di balik layar yang mempunyai akses yang kuat untuk melindungi gerakan ini."

Tidak masuk akal

Akan tetapi, mantan wakil kepala Badan Intelijen Negara (BIN), As'ad Said Ali yang sekarang menjadi salah seorang petinggi Nahdlatul Ulama (NU), menegaskan bahwa teori itu sangat tidak masuk akal. Sebab, NII KW9 tidak dianggap ancaman.

"Saya kira impossible (tak mungkin) itu ya karena gerakan itu sudah lama melakukan pengrekrutan dan pengaduan-pengaduan sudah lama ada dari dulu kok.

Hanya saja, kata As'ad Said Ali, tidak pernah bisa dibawa ke pengadilan karena bukti-bukti yang tidak cukup.

Menurutnya, "Dari sudut pandang intelijen, yang berbahaya kan bukan kelompok ini karena mereka berubah menjadi gerakan pendidikan. Yang berbahaya adalah kelompok-kelompok yang melakukan kekerasan."

"Entah itu JI, entah itu yang lainnya yang melakukan teror itu," ujar As'ad mencontohkan kelompok-kelompok yang berbahaya.

"Berlebihan kalau intelijen dianggap berbuat dalam hal kegiatan NII," tegas As'ad Said Ali mantan wakil kepala Badan Intelijen Negara atau BIN.