Masihkah ASEAN memiliki efektifitas?

Para menteri laur negeri Asean

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Keeratan antarpemerintah memang sudah bagus, tetapi masih jauh di tingkat masyarakat Asean

Saat ini Indonesia sedang sibuk menyelenggarakan rangkaian pertemuan puncak ASEAN di Jakarta. Indonesia sendiri sedang menjadi ketua bergilir himpunan ini.

Di tengah perhelatan besar regional ini, salah satu pertanyaan yang selalu mengemuka adalah apakah blok kawasan itu masih memiliki efektivitas.

Jurubicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Michael Tene, merasa ASEAN tidak hanya efektif melainkan akan semakin diperlukan.

"Saya kira bukan hanya masih efektif tapi akan semakin relevan ke depannya," ujar Michael. Dia menyebutkan beberapa contoh kontribusi yang telah ditunjukkan ASEAN.

"Sejak didirikan, negara-negara ASEAN berhasil secara bersama-sama menjaga, menciptakan, mempertahankan stabilitas dan perdamaian kawasan ini Asia Tenggara ini sehingga anggota-anggota ASEAN baik secara nasional melalui program negara masing-masing dalam rangka kerja sama regional, bisa langsung membangun perekonomian dan bisa langsung membangun perekonomian mereka, meningkatkan kesejahteraan mereka."

"Inilah kontribusi ASEAN yang sangat mendasar," tambah Michacel Tene lagi.

Komunitas ASEAN

Menurut Michael Tene lagi, salah satu program besar ASEAN yang sedang dilaksanakan saat ini adalah pembentukan ASEAN Community yang akan menjadi ajang untuk mempererat dan memperkuat kerja sama diantara masyarakat kawasan Asia Tenggara di tiga bidang penting yaitu politik, ekonomi dan sosial-budaya.

Sukses lain, katanya, bisa dilihat melalui kerja sama ASEAN-Plus One, ASEAN-Plus Three, ASEAN-Plus Six, ASEAN-Plus Eight, dan sebagainya, yang merupakan forum-forum kerja sama ASEAN dengan banyak negara besar di dunia.

Namun jurubicara kementerian luar negeri Indonesia itu mengakui bahwa ASEAN masih dirundung banyak kekurangan.

"Tentu sudah banyak sekali kontribusi ASEAN. Tetapi, semua yang saya katakan itu bukan berarti ASEAN sudah sempurna."

"Sebaliknya masih banyak hal-hal bisa dikembangkan, kita perbaiki, kita sempurnakan di ASEAN khususnya bagaimana kelompok ini bisa benar-benar relevan, bisa benar-benar menjadi lembaga yang people-oriented (berorientasikan rakyat)," tambah Michael Tene.

Salah seorang pembicara forum rakyat ASEAN, Erna Witoelar, yang juga mantan menteri kabinet Presiden SBY, berpendapat bahwa ASEAN akan terus diperlukan tetapi dia menyarankan agar pembinaan hubungan antarmasyarakat lebih diutamakan.

"Soal masyarakatnya yang Anda tanyakan, apakah masih relevan untuk masyarakatnya atau tidak, gitu kan."

"Harus dibuat relevan karena tidak bisa kalau hanya pemerintah. Jadi, pemerintah-pemerintah ASEAN harus membuat agar masyarakatnya berjejaring.

"Karena ada hal-hal yang bisa diselesaikan secara bersama, misalnya masalah pekerja migran, masalah HIV/Aids dan air bersih," ujar Erna Witoelar.

Perdamaian negatif

Menlu Marty dan dua menlu dari Thailand dan Kamboja

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Menlu Thailand dan Menlu Kamboja bertemu di Jakarta tetapi sengketa mereka belum selesai

Sementara itu, mantan diplomat senior Indonesia, Wiryono Sastrohandoyo, berpendapat bahwa di atas kertas konsep-konsep integrasi masyarakat ASEAN memang sudah bagus namun yang menjadi masalah adalah implementasinya.

"Secara tertulis sudah cukup, sudah banyak. Tetapi, implementasinya yang sudah. Jadi, saya kira ASEAN sudah berhasil dalam arti avoidance the conflict (penghindaran konflik)," kata Wiryono.

"Tetapi bukan penyelesaian masalah atas pertikaian-pertikaian yang terjadi.

Seperti masalah Kamboja dan Thailand saat ini. Nantinya sulit untuk diselesaikan," kata Wiryono.

Sebab, dia menambhakan, sifat penyelesaiannya hanya didasarkan pada keinginan agar tidak terjadi perkelahian. Dari sudut ini, ASEAN memang berhasil, katanya lagi.

Padaha, "Berkelahi juga kecil-kecilan, " kata mantan dubes Indonesia untuk Australia itu.

"Kita dalam perdamaian negatif, bukan perdamaian positif. Bukan seperti yang dicita-citakan di dalam piagam ASEAN yaitu caring and sharing society," ujar Wiryono menambahkan.

Datang ke ASEAN

Dengan segala kekurangannya, ujar Wiryono, ASEAN sebetulnya semakin diperhitungkan oleh dunia internasional. Mereka yang sekarang mendatangi ASEAN, kata Wiryono.

"Pada waktu ini di rumah ASEAN-lah negara-negara Asia-Pasifik bertemu. Negara-negara non-ASEAN datang ke ASEAN untuk membicarakan berbagai masalah di kawasan," katanya.

Wiryono melihat ini sebagai perkembangan yang besar meskipun banyak orang yang masih belum puas.

"Boleh saja kita mengatakan itu belum apa-apa tetapi itu adalah capaian yang khusus."

"Kita tidak bertemu di Beijing, kita tidak bertemu di Tokyo, tidak di Amerika Serikat tetapi di ASEAN. Mereka datang ke rumah ASEAN."

Jadi, menurut Wiryono, keberhasilan ini perlu dihargai.

Namun demikian, dia mengakui bahwa jika dibanding dengan blok-blok lainnya seperti Uni Eropa, tentulah ASEAN masih jauh dari segala segi, khususnya pengintegrasian masyarakatnya.