Gempa Maroko : 'Saya bermimpi tentang gempa bumi setiap malam, menakutkan' - kisah anak-anak penyintas melawan trauma bencana

- Penulis, Sally Nabil
- Peranan, BBC Arabic, High Atlas Mountaiuns, Morocco
Gempa bumi yang menewaskan lebih dari 3.000 orang di Maroko telah sepekan terlewati. Namun, kerusakan mental dan fisik yang diderita para korban selamat akan memakan waktu lama untuk pulih, khususnya bagi penyintas anak-anak.
"Saya ingin keluar dari sini, saya sulit bernafas," kata Malak, 12 tahun. Anak perempuan itu termasuk di antara banyak anak Maroko yang masih tinggal di tenda darurat.
Malak adalah anak tertua dari empat bersaudara, tidak satu pun dari mereka kini bersekolah setelah sebagian besar kampung halaman mereka di Amizmiz, jantung Pegunungan Atlas Tinggi, hancur menjadi puing-puing dihantam gempa.
Desa-desa terpencil merupakan daerah yang paling terkena dampak bencana alam ini. Proses pengiriman bantuan ke daerah-daerah ini menjadi tantangan yang sulit karena banyak jalan tertutup tanah longsor yang terjadi setelah gempa bumi.
'Saya rindu sekolah'

Saat berjalan di sekitar Amizmiz, 50 km barat daya Marrakesh, kami melihat area luas yang dipenuhi tenda-tenda plastik sederhana, yang hampir tidak menyediakan tempat berlindung layak bagi keluarga-keluarga yang mengalami kesulitan.
Para pengungsi itu bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan ketika musim dingin segera tiba.
"Kami menginginkan makanan, uang, dan yang terpenting, kami menginginkan rumah," kata Malak.
Malak merasa frustrasi karena kerusakan akibat gempa membuat ia tidak bisa kembali ke sekolah. "Masa depan saya terancam di sini," katanya kepada saya, sambil menambahkan bahwa dia ingin menjadi seorang dokter gigi.
"Ibuku telah melakukan banyak hal untukku dan saudara-saudaraku."
"Dia telah bekerja keras untuk membesarkan kami. Aku berharap bisa dewasa dan bekerja, untuk membalas semua kebaikannya," ungkap Malak dengan mata penuh kesedihan.
Mimpi buruk
Saya menghabiskan beberapa waktu di tenda plastik kuning, yang disediakan oleh pemerintah Maroko, berbicara dengan anggota keluarga Malak lainnya.
Saya melihat jelas bahwa adiknya, Doaa, mengalami trauma.
"Saya bermimpi tentang gempa bumi setiap malam, menakutkan sekali," katanya kepada saya, wajahnya pucat.
"Saya terkadang terbangun, dari mimpi saya, dan mendapati tanah berguncang."
Pengalaman Malak dan Doaa juga dialami oleh banyak keluarga pengungsi yang saya ajak bicara di daerah tersebut.
Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mengatakan hampir 100.000 anak terkena dampak gempa dahsyat ini.
Laporan ini memperingatkan bahwa gempa susulan kemungkinan akan terus terjadi dalam beberapa hari dan minggu ke depan, sehingga menempatkan anak-anak dan keluarga pada risiko lebih lanjut untuk mengalami cedera fisik dan trauma mental.
'Kami butuh toilet'
Di sisi lain tenda, Jamila sedang membersihkan piring. Putri bungsunya, Ikhlas sedang sibuk membuat teh.
"Ini sulit," kata Jamila pada saya, sambil berusaha menahan air matanya. Ia menjelaskan, sebagian besar bantuan yang sampai di kamp pengungsian, telah dibagikan oleh para relawan.
"Tidak ada toilet di sini," tambahnya.
"Saya khawatir suatu saat kami akan jatuh sakit, kami semua kelelahan."
Baca juga:
Banyak keluarga di kamp itu yang miskin dan sudah berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Gempa bumi berkekuatan 6,8 skala Richter hanya menambah penderitaan orang-orang ini.
Saat Jamila berbicara kepada saya, Ikhlas yang berusia 10 tahun mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia menawarkan untuk mengantar saya ke sekolah terdekatnya, yang hancur.
'Kiamat'

Dalam perjalanan kami ke sekolahnya, Ikhlas bercerita tentang malam gempa melanda.
"Saya berlari ke ayah saya untuk bersembunyi dan terus membaca ayat-ayat Al-Quran.
"Itu seperti hari kiamat."
Dia sangat ketakutan dengan gempa susulan yang terjadi baru-baru ini: 'Saya langsung keluar dari tenda ketika hal itu terjadi.'
Tidak ada yang tersisa dari sekolah Ikhlas, kecuali dinding retak dan ruang kelas rusak berat. Skala kehancurannya sungguh tragis.
Seperti Malak, Ikhlas rindu sekolah.
"Saya ingin bertemu guru dan teman-teman saya."
Kemewahan yang sederhana
Saat kami hendak meninggalkan kamp, seorang perempuan bertanya kepada saya dengan pelan: "Apakah kamu punya lipstik atau parfum? Aku ingin mencium yang wangi."
Kata-katanya mengharukan.
Permintaan ini mungkin terdengar sedikit mengejutkan, namun perlengkapan mandi dan kosmetik jarang disertakan dalam paket bantuan apa pun yang diberikan kepada keluarga yang terkena dampak di Maroko.
Bahkan perempuan mungkin malu untuk memintanya. Namun masyarakat membutuhkan lebih dari sekedar makanan atau selimut, mereka perlu merasa menjadi manusia.
Persoalan ini seringkali terabaikan dalam pemberian bantuan kepada korban berbagai bencana, khususnya di dunia Arab.
Pihak berwenang Maroko mengatakan mereka terus melakukan yang terbaik untuk meringankan penderitaan para korban, namun hal ini memerlukan waktu karena besarnya skala gempa.
Ruang kelas darurat telah didirikan di beberapa daerah yang terkena dampak.
Raja Maroko telah mengumumkan rencana rekonstruksi atas 50.000 bangunan yang rusak sebagian atau seluruhnya.
Bantuan keuangan juga akan diberikan kepada para korban.
Namun belum ada jangka waktu pasti yang diberikan untuk rencana ini, karena hal ini akan memerlukan sumber daya yang sangat besar.
Maroko juga sejauh ini sangat selektif dalam menerima bantuan luar negeri, hanya menyetujui menerima bantuan dari empat negara, termasuk Inggris.
Terlalu trauma untuk bicara

Relawan lokal memperingatkan saya bahwa bantuan harus fokus lebih dari sekedar bangunan dan uang.
Kesehatan mental para korban, terutama anak-anak seperti yang saya ajak bicara, harus menjadi perhatian.
Di tenda sederhana yang terbuat dari terpal plastik dan dilengkapi beberapa meja dan kursi untuk diduduki anak-anak, sekelompok relawan mencoba membantu generasi muda mengatasi trauma mereka melalui menggambar dan menulis.
"Mereka menggambar rumah-rumah yang hancur, dan hewan-hewan mati," kata seorang sukarelawan perawat bernama Mohamed Amin kepada saya.
Dia melakukan perjalanan lebih dari 300 km dari ibu kota Maroko, Rabat, ke daerah yang terkena dampak bersama sekelompok sukarelawan, untuk membantu keluarga yang membutuhkan.
"Saat kami pertama kali tiba, anak-anak tidak mau berbicara dengan kami, mereka terlalu trauma," ujarnya.
Butuh waktu berhari-hari bagi mereka untuk membuka diri dan mulai menerima apa yang mereka alami.
Diperlukan waktu yang lebih panjang untuk memulihkan trauma mental dan fisik akibat bencana ini.









