Milenial Muslim bicara soal makna jihad: 'Menghidupkan peradaban, bukan mematikan', 'layani warga hingga ke pelosok'

Milenial; Muslim

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Tiga perempuan muda Muslim, Ajeng Ayuningtyas (kiri), Nadia Rahmawati (tengah), dan Gracety Shabrina (kanan) berbagi soal makna jihad yang mereka yakini.
    • Penulis, Callistasia Wijaya
    • Peranan, Wartawan BBC News Indonesia

Tiga perempuan muda Muslim membagikan pengertian mereka soal makna ibadah termasuk 'jihad' dalam konteks yang mereka pahami.

Pada bulan Maret dan April lalu, sejumlah anak muda yang masuk kelompok umur milenial disebut polisi sebagai pihak yang terlibat dalam serangan terorisme di Gereja Katedral Makassar dan rencana penyerangan di Mabes Polri.

Salah satunya Zakiah Aini, 26, yang dilaporkan hendak melakukan aksi teror demi apa yang dia sebut "jihad".

Namun, tiga perempuan muda yang diwawancarai BBC tak sependapat dengan pemahaman jihad seperti itu.

Ajeng Satiti Ayuningtyas, 30, misalnya, memilih untuk berjihad dengan membagikan ilmu bagi para anak-anak jalanan.

"Saya sebagai perempuan, terlepas kita ibu atau bukan, kita punya rahim. Saya percaya Allah memberi kita kekuatan untuk menghidupkan peradaban, bukan mematikan peradaban.

"Itu yang saya yakini, kita bisa melahirkan kebaikan di mana saja," ujarnya.

Baca juga:

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan perempuan serta mereka yang berusia milenial lebih berpotensi terpapar radikalisme.

bbc

Jadi Kamtib hingga Satpol PP

Ajeng Satiti Ayuningtyas memahami jihad sebagai cara melakukan kebaikan di jalan Tuhan.

"[Jihad] tidak melulu dilekatkan dengan permusuhan, peperangan. Jihad itu tidak berarti pakai pedang dan senjata, tapi bisa pakai ilmu," ujar Ajeng.

Ia memilih untuk berjuang dengan memberikan kesempatan bagi anak-anak jalanan untuk mengembangkan diri, melalui gerakan yang didirikannya Sekolah Cinta Anak Indonesia (Sekoci- sebelumnya bernama Sekolah Kolong Cikini).

sekoci

Sumber gambar, Ajeng Ayuningtyas

Keterangan gambar, Menurut Ajeng, jihad bisa dilakukan melalui penyebaran ilmu.

Di sekolah itu dia mencoba membuka mata anak jalanan bahwa mereka pun berhak bercita-cita tinggi.

Jika di sekolah formal, anak-anak biasa bercita-cita menjadi dokter, arsitek, atau pilot, di Sekoci, cita-cita anak-anak yang diasuhnya lebih beragam.

"Ada yang mau jadi [petugas] kamtib, satpol PP, ada yang mau jadi kenek bus. Ya nggak bisa disalahkan, karena sehari-hari lekat dengan profesi tersebut.

"Jadi kami berikan perspektif berbeda. Ada berbagai profesi lainnya yang bisa kalian lihat. Harapannya mereka punya daya atau kemampuan untuk mencapai cita-cita itu," ujar Ajeng.

sekoci

Sumber gambar, Sekoci

Keterangan gambar, Salah satu kegiatan Sekoci yakni membuat kubus, balok dan piramida dari karton.

Mereka yang diajar di Sekoci kebanyakan anak-anak pekerja informal di Jakarta, seperti pedagang asongan, supir kendaraan umum, hingga pemulung.

Anak-anak ini menghabiskan waktu di jalanan, kebanyakan sebagai pengamen.

Meski tidak kalah pintarnya dengan anak-anak lain, mereka yang besar di jalanan seringkali tak bisa mencapai cita-cita yang tinggi karena sejumlah hal, salah satunya karena putus sekolah, kata Ajeng.

Sekoci

Sumber gambar, Sekoci

Keterangan gambar, Kegiatan belajar mengajar Sekoci sebelum pandemi.

Salah satu anak didik Sekoci, misalnya, yang akan diikutkan olimpiade matematika di sekolahnya, tiba-tiba putus sekolah tanpa alasan jelas.

"Kami sampai datangi sekolahnya. Ini anak kemana? Sekolahnya malah mau mengeluarkan anak ini. Kami cari anak itu kemana-mana," ujar Ajeng.

Baru belakangan, ia tahu anak seorang pengemudi bajaj itu dibawa oleh ibunya ke kota lain secara tiba-tiba.

Alhasil, fasilitas pendidikan Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang diterimanya putus.

"Putus lagi sekolah… Ini seperti rantai yang tak putus," kata Ajeng.

sekoci

Sumber gambar, Sekoci

Keterangan gambar, Selama pandemi, kegiatan Sekoci dilakukan secara jarak jauh.

Kini, anak itu telah kembali bersekolah, tapi Ajeng masih berupaya mengaktifkan kembali KJP anak itu.

Ia juga berupaya membantu anak-anak putus sekolah lainnya mengikuti program kejar paket.

Sekoci, yang menyelenggarakan sejumlah kegiatan seperti membaca, menghitung, hingga bermain, didirikan Ajeng di tahun 2015.

Sebagian besar dari anak didik Sekoci menjalani sekolah formal, sehingga kegiatan Sekoci diperuntukkan untuk melengkapi pendidikan anak-anak tersebut.

Gerakan itu juga memberi penekanan khusus pada perilaku, mengingat jalanan bukan tempat yang ramah anak.

Ajeng bercerita Sekoci didirikannya karena ia merasa resah dengan apa yang didengarnya tentang anak jalanan.

Sekoci

Sumber gambar, Sekoci

Keterangan gambar, Kegiatan membaca puisi yang diadakan sebelum pandemi Covid-19.

Ibunya dulu tinggal di kawasan padat penduduk di Jakarta Pusat yang kerap menyaksikan bagaimana anak jalanan terlibat kekerasan dan narkoba.

Saudaranya sendiri pernah mengalami perlakuan kasar dari anak jalanan.

Atas dasar itu, ia memutuskan bergerak untuk menjangkau dan mengedukasi anak-anak jalanan.

Di masa pandemi Covid-19, anak-anak itu menghadapi tantangan lebih berat karena Pembelajaran Jarak Jauh, khususnya yang orang tuanya tak memiliki ponsel.

Namun, meski sulit, belajar jarak jauh tetap dilakukan.

Sekoci

Sumber gambar, Sekoci

Keterangan gambar, Kegiatan Sekoci sudah meluas ke pendidikan orang tua anak-anak yang besar di jalanan.

Kini, kegiatan Sekoci pun sudah diperluas ke pendidikan pengasuhan anak, atau parenting, yang diberikan kepada sejumlah pekerja informal di Jakarta, seperti tukang sapu, penjaga keamanan, hingga para pengamen.

Ajeng mengatakan meski penuh tantangan, ia yakin apa yang diperbuatnya adalah salah satu wujud ibadahnya.

"Di agama diajarkan berbuat baik nggak usah jauh-jauh, yang deket-dekat ini sudah ibadah," pungkasnya.

bbc

'Gigi bengkak bukan kutukan'

Bagi Gracety Shabrina, 28, jihad adalah perjuangan untuk melayani sesama.

"Kita bisa berjuang sesuai kemampuan kita atas keilmuan dan kesempatan yang kita miliki, untuk dimanfaakan sebaik-baiknya untuk masyarakat.

"Untuk kebermanfaatan seluas-luasnya agar bisa menjadi amal jariyah kita," ujarnya.

Sebagai dokter gigi, yang dilakukannya adalah mengupayakan kesehatan gigi masyarakat melalui program yang dibentuknya sejak kuliah, Dentist Day Out.

drg

Sumber gambar, Gracety Shabrina

Keterangan gambar, Gracety Shabrina mendirikan Dentist Day Out saat ia masih berkuliah.

Melalui program itu, dia telah bepergian ke sejumlah daerah pelosok di Indonesia untuk memberi penyuluhan terkait kesehatan gigi warga, juga pemeriksaan gigi warga secara gratis.

Salah satunya adalah ke Baduy Dalam, Provinsi Banten, yang warganya menyikat gigi dengan sabut kelapa.

Yang mengejutkan, kata Grace, gigi mereka sangat baik.

Hanya, saja, katanya, ada beberapa warga yang giginya bengkak karena cara menyikat gigi yang tak benar.

drg

Sumber gambar, Dentist Day Out

Keterangan gambar, Dalam sejumlah kegiatan yang dilakukan Dentist Day Out, warga diberikan pemeriksaan gigi gratis.

Di daerah itu pula gigi bengkak dipercayai merupakan sebuah kutukan, hal yang kemudian diluruskannya kepada warga.

"Kami tidak melakukan interfensi agar mereka menggunakan sikat gigi seperti yang kita lakukan karena ada adat yang melarang mereka untuk menggunakan hal-hal modern.

"Sehingga kami melakukan pendekatan, tidak masalah mereka gunakan sabut kelapa, tapi dengan teknik dan cara yang benar," ujarnya.

Di lain waktu, Grace dan kawan-kawannya menyambangi pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT), ke sebuah desa yang mayoritas beragama Kristen.

drg

Sumber gambar, Gracety Shabrina

Keterangan gambar, Gigi warga yang difoto dalam kunjungan Dentist Day Out ke kawasan Ijen tahun 2016.

Lulusan pesantren Santri Siap Guna Daarut Tauhiid, Bandung, Jawa Barat, ini mengatakan, ia tergerak untuk membuat gerakan itu setelah menyambangi Karimun Jawa di tahun 2012.

Di situ dia melihat sulitnya warga untuk mendapat pelayanan gigi. Bahkan, ada warga yang harus menyewa kapal ke Jepara untuk menuju fasilitas kesehatan.

Saat ini, di tengah pandemi, meski tidak seaktif dahulu menyambangi daerah-daerah terpencil, kegiatan penyuluhan tetap dilakukan Dentist Day Out, baik secara online, maupun offline.

Sejumlah anggota gerakan itu pun masih mengabdi di daerah terpencil di Maluku maupun Kalimantan.

gigi

Sumber gambar, Dentist Day Out

Keterangan gambar, Bagi Gracety Shabrina, 28, jihad adalah upaya berguna bagi sesama.

Ia merasa apa yang dilakukannya kepada pasiennya adalah wujud ibadah dan caranya melaksanakan sumpah dokter.

"Semua orang sama, pasien kita juga. Mau di kota, di desa, yang kaya yang miskin, Islam, Hindu, Kristiani tetap pasien kita juga ada di sumpah dokter kita.

"Kalau di agama di bahasnya muamalah jadi dibolehkan, disarankan malah," ujarnya.

bbc

'Tak mengganggu orang lain'

Bagi Nadia Rahmawati, 17, jihad seharusnya tidak mengganggu orang lain.

Nadia

Sumber gambar, Nadia Rahmawati

Keterangan gambar, Sebelum belajar agama secara mendalam, Nadia menganggap agama lain adalah musuh.

Sebelum dididik di Pesantren Roudhotus Sholihin, Demak, Jawa Tengah, Nadia memandang agama lain sebagai musuh.

"Sebelumnya, saya beranggapan bahwa agama saya yang paling benar dan seharusnya yang disembah adalah Allah, bukan batu, matahari, atau lainnya," ujarnya.

gereja

Sumber gambar, NAdia Rahmawati

Keterangan gambar, Bagi Nadia, masuk ke rumah ibadah lain terasa sebagai "masuk ke rumah saudara".

Namun, setelah mendalami ilmu agama, pandangannya berubah.

"Pengurus pondok saya membekali santri-santrinya bahwa meski kita berbeda dalam kegamaan, tapi kita bersaudara. Berbuat baik tidak memandang agamanya apa," ujar Nadia.

Di pesantren itu juga Nadia mengikuti kegiatan kunjungan ke gereja dan tempat pendidikan pastor.

pondok damai

Sumber gambar, NAdia Rahmawati

Keterangan gambar, "Jihad itu artinya berpindah dari buruk ke baik. Kalau merusak orang lain, itu tidak diajarkan di agama kami," kata Nadia.

Di tahun 2019, dia bahkan pernah membacakan sebuah puisi di dalam gereja, tak lama setelah peristiwa pengeboman gereja di Sri Lanka.

Saat itu, dia sudah tak merasa risih sama sekali masuk ke rumah ibadah agama lain.

"Rasanya seperti masuk ke rumah saudara," ujarnya.

Nadia, yang sempat mengikuti kegiatan lintas agama- Pondok Damai 2021- mengatakan ia kini terus berupaya membagikan pemahamannya soal keberagaman pada junior-juniornya.

Baginya jihad adalah sesuatu yang tidak menyakiti orang lain, apalagi melakukan tindakan-tindakan yang disebut radikal.

"Jihad itu artinya berpindah dari buruk ke baik. Kalau merusak orang lain, itu tidak diajarkan di agama kami," katanya.

bbc

Perempuan, milenilal, gen Z sebagai sasaran

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2020 mengungkapkan bahwa perempuan lebih berpotensi terpapar paham radikalisme dibandingkan laki-laki.

Selain itu, kelompok umur milenial dan gen Z juga disebut berpotensi besar terpapar.

Abdul Qodir, pengasuh Pesantren Roudhotus Sholihin, Demak, yang aktif mengadakan kegiatan keberagaman bagi para santrinya, mengatakan untuk mencegah radikalisme, anak-anak muda perlu diberi pemahaman soal makna jihad.

"Jihad bukan mati di jalan Tuhan, tapi hidup di Jalan Tuhan, itu justru lebih sulit.

"Remaja perlu diedukasi untuk mengakses pengetahuan keagamaan dan informasi dari ustad-ustad yang santun, tinggalkan ustad-ustad yg mengajarkan kebencian. Intinya, jangan salah pilih guru ngaji," ujarnya.

Pesantren yang diurusnya sempat viral di tahun 2019 karena turut menyambut jemaat dalam Misa Natal di Semarang dengan bermain rebana.