Keris Pangeran Diponegoro: Perjalanan pusaka yang sempat hilang ratusan tahun lalu, ditemukan di Belanda dan kembali ke Indonesia

    • Penulis, Jerome Wirawan
    • Peranan, BBC News Indonesia
  • Waktu membaca: 5 menit

Keris milik Pangeran Diponegoro yang sempat hilang ratusan tahun lalu telah ditemukan di Belanda dan resmi diserahkan ke Museum Nasional Indonesia di Jakarta, Kamis (05/03).

Penyerahan keris Kiai Naga Siluman itu dilakukan Duta Besar Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja dan diterima langsung oleh Kepala Museum Nasional Indonesia Siswanto.

"Hari ini merupakan momentum yang bersejarah dengan kembalinya keris Pangeran Diponegoro sejak keluar dari tanah air kita 150 tahun lalu," kata I Gusti Agung Wesaka Puja sebagaimana dikutip laman Historia.

Seorang sejarawan Belanda, Caroline Drieenhuizen mengatakan Belanda selalu ragu terkait pemulangan artefak-artefak Indonesia.

"Belanda sangat ragu untuk mengembalikan artefak dan kalaupun dikembalikan, mereka melakukannya seperti keinginan baik mereka, bukan karena Indonesia punya hak untuk mendapatkan barang itu kembali. Mereka tidak merasa itu," kata Caroline kepada wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin, Kamis (05/03).

Keris Pangeran Diponegoro ini dikabarkan sempat hilang dan Caroline menyatakan museum-museum itu tidak mencari dengan benar.

"Mereka tidak merasa itu adalah hak Indonesia untuk mendapatkan barang-barang itu kembali. Mereka merasa dapat menyimpan barang-barang itu dengan benar dan museum-museum di Indonesia, menurut mereka, tidak punya prasarana untuk menyimpan artefak-artefak," tambahnya.

Ia mengatakan pada akhirnya Belanda mencarinya karena "Indonesia terus memintanya."

Banyaknya artefak-artefak dan ditambah dengan daftar inventaris yang tidak lengkap menambah sulit pencarian barang-barang tertentu yang diminta Indonesia, kata Caroline.

"Jadi bukan hanya masalah politik saja tapi juga masalah penyimpanan yang tidak rapih."

Sempat hilang

Keris Kiai Naga Siluman diberikan Pangeran Diponegoro kepada utusan Jenderal Hendrik Merkus de Kock, Kolonel Jan-Baptist Cleerens, setelah dirinya ditangkap pada 28 Maret 1830.

Oleh Cleerens, keris itu dihadiahkan kepada Raja Willem I pada 1831. Keris itu kemudian disimpan di Koninklijk Kabinet van Zeldzaamheden (KKZ) atau koleksi khusus kabinet Kerajaan Belanda.

Setelah KKZ bubar, koleksinya tersebar ke sejumlah museum.

Namun banyak informasi mengenai koleksi ikut hilang, termasuk keris Kiai Naga Siluman yang diserahkan kepada Museum Volkenkunde di Leiden.

Pencarian kembali keris Kiai Naga Siluman dimulai pada 1984 oleh Peter Pott, kurator Museum Volkenkunde dan kemudian menjadi direktur museum.

Namun, penelitian Pott kemudian terhenti. Pencarian kembali dilakukan Prof. Susan Legene dari Vrije Universiteit Amsterdam, Johanna Leigjfeldt (2017) dan Tom Quist (2019).

Proses verifikasi

Kepastian bahwa keris Diponegoro ada di Belanda dibuktikan dari tiga dokumen penting.

Pertama, korespondensi antara De Secretaris van Staat dengan Directeur General van het department voor Waterstaat, Nationale Nijverheid en Colonies antara tanggal 11-15 Januari 1831.

Dalam korespondensi itu disebutkan bahwa Kolonel J.B. Clerens menawarkan kepada Raja Belanda Willem I sebuah keris dari Diponegoro.

Keris itu kemudian disimpan di Koninkelijk Kabinet van Zelfzaamheden (KKVZ). Setelah itu, pada 1883 keris ini diserahkan ke Museum Volkenkunde Leiden.

Dokumen kedua adalah kesaksian dari Sentot Prawirodirjo, mantan perwira perang Diponegoro, yang ditulis dalam bahasa Jawa kemudian diterjemahkan dalam bahasa Belanda.

Dalam surat itu Sentot menyatakan bahwa ia melihat sendiri Pangeran Diponegoro menghadiahkan Keris Kiai Naga Siluman kepada Kolonel Clerens.

Dokumen ketiga adalah catatan dari Raden Saleh, pelukis yang pernah tinggal di Belanda dan melukis penangkapan Pangeran Diponegoro. Catatan Raden Saleh ini dituliskan di bagian sisi kanan surat kesaksian Sentot Prawirodirjo.

Dalam catatan itu Raden Saleh yang telah melihat dengan mata kepala sendiri keris itu di Belanda menjelaskan makna Keris Kiai Naga Siluman dan ciri-ciri fisik keris itu.

Naga siluman

Dalam pemaparan laman Historia, yang diberikan akses menyaksikan wujud keris Kiai Naga Siluman, senjata itu berbahan dasar besi berwarna hitam dengan ukiran berwarna emas.

Terdapat wujud naga yang tubuhnya memanjang di sekujur bilah keris. Tubuh naga ini dulunya dilapisi emas namun sekarang hanya beberapa jejak emas yang tersisa.

Ada satu lagi wujud naga yang membuat keris ini dinamai Kiai Naga Siluman. Ukiran naga itu tersembunyi di bagian bawah bilah keris yang berdekatan dengan gagang keris. Sosok naga ini hanya bisa terlihat dari posisi tertentu.

Bukti-bukti tersebut telah dikonfirmasi oleh Ketua Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada, Sri Margana yang tergabung dalam tim ahli dari Indonesia.

Pada 24 Februari lalu, Margana datang ke Belanda untuk memastikan keaslian keris tersebut.

Sri Margana, dalam keterangan tertulisnya yang disampaikan kepada BBC News Indonesia, mengaku memiliki sedikit perbedaan pendapat dengan tim peneliti Belanda tentang salah satu dari tiga binatang yang diukirkan pada keris itu.

"Tim sebelumnya menyatakan bahwa binatang ketiga itu adalah singa, harimau atau gajah. Namun setelah saya melihat langsung objeknya, saya dapat memastikan bahwa binatang yang diinterpretasikan sebagai gajah, singa atau harimau itu sebenarnya adalah Naga Siluman Jawa," papar Margana.

"Dari ukiran Naga Siluman Jawa ini saya berkeyakinan bahwa keris ini adalah keris Pangeran Diponegoro yang dinamai Naga Siluman itu," tulisnya.

Akan dipamerkan di Museum Nasional

Margana menambahkan, keris Kiai Naga Siluman tidak lebih penting dari keris Kiai Ageng Bondoyudo yang dikubur bersama jasad sang Pangeran di Makassar.

"Namun keris ini tampaknya keris yang biasa dipakai untuk bertempur, khusus jika dilihat secara fisik keris ini sudah mulus dan utuh," sebut Margana.

Menurut sejarawan Peter Carey, yang banyak menulis buku soal Pangeran Diponegoro, Naga Siluman sepertinya bukan salah satu pusaka utama sang pangeran.

Pangeran Diponegoro tidak menyebutnya dalam otobiografinya setebal 1.100 halaman, Babad Diponegoro (1831-32).

Keris itu juga tidak termasuk dalam daftar keris dan tombak pusaka yang dibagi-bagikan ke keluarganya setelah dirinya ditangkap.

Jenderal Hendrik Merkus de Kock pun tak pernah menuliskannya dalam laporan rinci pertemuannya dengan sang pangeran pada Maret 1830.

"Bagaimana keris itu bisa sampai ke tangan Kolonel Jan-Baptist Cleerens (1789-1850) masih menjadi misteri," kata Carey.

Namun, Carey menengarai bahwa Pangeran Diponegoro bisa saja memberikan keris tersebut kepada Cleerens mengingat perwira itu adalah pembuka 'perundingan damai' dan sang pangeran percaya padanya.

"Kang tyas pan langkung pitajengipun," sebut Diponegoro dalam otobiografinya. Kalimat itu bermakna Cleerens adalah "orang yang hatinya bisa dipercaya".

"Amat mungkin keris itu diberikan untuk memastikan janji Cleerens bahwa Belanda akan berunding dengan iktikad baik. Tentu saja itu tidak terjadi," kata Carey kepada BBC News Indonesia.

Diponegoro lanats ditangkap dan dibuang ke Sulawesi.

Semasa hidupnya, Pangeran Diponegoro memiliki sejumlah senjata berupa keris dan tombak. Sebagian besar pusakanya diberikan kepada putra dan putrinya.

Selain keris Kiai Naga Siluman, sang pangeran memiliki keris Kiai Bromo Kedali, keris Kiai Blabar, keris Kiai Wreso Gemilar, dan keris Kiai Hatim.

Keris yang turut dikubur bersama jasad Diponegoro adalah Kiai Ageng Bondoyudo.

Sejarawan Peter Carey mendata pusaka tersebut dalam biografi Pangeran Diponegoro, Kuasa Ramalan bagian apendiks XI.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid yang dikutip laman Historia menyebut keris itu rencananya akan dipamerkan saat pertemuan Raja Belanda Willem-Alexander dengan Presiden Joko Widodo, 10 Maret mendatang.

Selain itu, keris Naga Siluman akan dipamerkan secara khusus di Museum Nasional agar publik dapat menyaksikannya.

Dalam pameran yang sama juga akan ditampilkan sejumlah benda pusaka Diponegoro yang telah dikembalikan pada 1978, yakni tombak, pelana kuda dan payung kehormatan, serta tongkat Kyai Cokro yang telah dikembalikan pada 2015.