Pamor paspor Indonesia meningkat, apa maknanya bagi para pelancong Indonesia?

paspor, wisatawan, berlibur, Indonesia

Sumber gambar, Antara

Keterangan gambar, Paspor Indonesia naik peringkat

Pamor paspor Indonesia meningkat dalam rilis Global Passport Index. Secara keseluruhan, peringkat paspor Indonesia terkuat ke-59 di dunia pada tahun 2019, naik dari peringkat ke-61 setahun sebelumnya. Namun para pelancong menyambutnya dengan pesimistis.

"Saya pernah mengajukan visa ke Australia dan Selandia Baru, saya sudah mengumpulkan dokumen sampai tiga bulan sebelumnya. Visa saya selesai hampir sebulan setelah pengajuan. Selama itu saya kepikiran terus sampai terbawa mimpi, mungkin visa saya ditolak karena kita kan tidak tahu prosesnya seperti apa," kata Eka Marta, pelancong yang sudah bepergian ke sekitar 50 negara.

Ia mengaku sering merasa khawatir usai mengajukan pengurusan visa.

Eka juga pernah mendapatkan pengalaman tak nyaman dari petugas imigrasi di Belarusia, salah satu negara bebas visa bagi warga Indonesia.

Ia tertahan selama 30 menit oleh petugas imigrasi di sana.

"Petugas imigrasi membolak-balik paspor saya dan memindainya berulang kali, ini membuat saya merasa kecil. Dia tidak bilang alasannya apa. Suara saya mengeras, saya bilang ke dia, 'saya di sini turis, saya masih harus mengambil bagasi. Coba saja periksa paspor saya, ada visa dari negara A, B, C, D.' Baru setelah itu saya diperbolehkan masuk," kata Eka.

paspor, wisatawan, berlibur, Indonesia

Sumber gambar, Famega Syavira

Keterangan gambar, Pengalaman pelancong, harus mengurus visa on arrival ke kedutaan besar Georgia di Armenia untuk berwisata ke Georgia

Pengalaman tak enak lain seputar visa on arrival juga dialami Famega Syavira yang kerap travelling.

Pada tahun 2016, Famega bermaksud memasuki Georgia, sebuah negara di perbatasan benua Eropa dan Asia, lewat jalan darat.

Ia ditolak masuk oleh petugas perbatasan meskipun telah mengantongi e-visa negara tersebut.

"Paspor Indonesia dinyatakan harus dengan visa yang dikeluarkan oleh kedutaan besar Georgia di Armenia. Jadi saya harus kembali lagi, menempuh perjalanan sembilan jam ke Armenia untuk membuat visa agar saya bisa lewat," kata Famega.

"Ini masalah paling menyebalkan ketika saya bepergian, dan saya cuma bisa iri dengan teman-teman dari Singapura, Eropa, yang bisa masuk dengan bebas sementara saya harus mengurus visa satu per satu."

paspor, wisatawan, berlibur, Indonesia

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Peningkatan peringkat paspor dinilai pelancong tak serta merta mempermudah pengurusan visa

Sulitnya mendapat visa kunjungan luar negeri terasa nyata pula bagi Ivan Ronaldo Tedjanegara, warga Indonesia yang telah berdomisili di Cayman Islands.

Ia pernah diundang oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Havana, ibukota Kuba, untuk ambil bagian dalam perjalanan ke Bahamas guna mempromosikan pariwisata Indonesia.

Bahamas mensyaratkan visa bagi warga negara Indonesia. Untuk mendapatkan visa tersebut, Ivan harus pergi ke perwakilan negara Bahamas di luar Cayman Islands, mengingat kepulauan tersebut tidak memiliki perwakilan negara asing.

"Saya terbang dari sini ke Jamaika untuk urus visa Bahamas, sedangkan warga Indonesia tidak bebas visa ke Jamaika. Jadi saya harus urus visa Jamaika untuk urus visa Bahamas.

Bisa bayangkan berapa banyak biaya yang harus saya keluarkan, mulai dari akomodasi, penerbangan, hanya untuk mengurus visa yang tidak ada jaminan akan diterima. Akhirnya saya tidak jadi pergi," kata Ivan.

Pengalaman seperti ini yang membuat pelancong seperti Ivan menilai kenaikan peringkat paspor Indonesia dalam daftar yang disusun Global Passport Index tidak akan berpengaruh jika pergerakan wisatawan Indonesia lebih sering terbatas ketimbang bebas.

Seperti apa kekuatan paspor Indonesia?

paspor, wisatawan, berlibur, Indonesia

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Peringkat paspor Indonesia naik dimaknai pengamat hukum internasional sebagai naiknya tingkat kepercayaan negara-negara terhadap Indonesia

Rilis Global Passport Index pada akhir tahun 2019 menempatkan Indonesia pada peringkat enam dari sepuluh negara di dunia yang mengalami kenaikan jumlah negara pemberi bebas visa kunjungan dan visa on arrival.

Sebanyak sepuluh negara membuka pintunya bagi wisatawan Indonesia sepanjang 2019, seperti St. Kitts & Nevis, Barbados, Sri Lanka, Sierra Leone, Kazakhstan, dan Timor Leste.

Ini artinya, kini ada 85 negara bebas visa dan visa on arrival, yang dalam rilis Global Passport Index disebut sebagai skor mobilitas, bagi wisatawan Indonesia.

"Ini adalah hasil yang positif karena Indonesia mulai dipercaya oleh negara-negara tersebut untuk bebas visa kunjungan, walaupun untuk negara-negara di Eropa dan untuk Amerika Serikat sepertinya kita masih belum diberikan bebas visa," kata Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia kepada BBC Indonesia.

Meski demikian, Indonesia masih kalah dari negara-negara tetangga seperti Thailand, yang skor mobilitasnya 89; Timor Leste dengan skor 101; dan Malaysia yang bebas visa kunjungan ke 165 negara.

Stigma 'sarang teroris'

Menurut Hikmahanto Juwana, salah satu penghambat mobilitas wisatawan Indonesia adalah masih melekatnya stigma negatif negara-negara Barat terhadap Indonesia, yang dianggap sebagai 'sarang teroris'.

"Kalau Timor-Leste mungkin dianggap tidak menjadi ancaman bagi negara mereka. Dengan Indonesia berbeda, kita mayoritas Islam, mungkin saja negara-negara tertentu khawatir, jangan-jangan ada warga kita yang berminat melakukan terorisme dan sebagainya," ujar Hikmahanto.

"Indonesia sendiri daya belinya di luar negeri [lebih besar] dari Timor-Leste, tapi mungkin pertimbangan keamanan lebih dikedepankan ketimbang ekonomi di negara-negara yang tidak memberikan bebas visa ke Indonesia."

Namun Teuku Faizasyah, juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia menampiknya, 'mengenai stigma itu tidak tepat'.

"Kalau kita melihat dari sisi teknis, ada beberapa kendala terkait paspor kita yang harus memenuhi standar ICAO (Organisasi Aviasi Sipil Internasional), tidak semua paspor kita bisa memenuhi standar itu."

"Kalau kita bicara mengenai terorisme di satu negara, ancaman terorisme bisa saja terjadi di negara tersebut seperti penembakan, tidak selalu bersumber dari negara lain.

Masalah kekerasan dalam satu negara bisa terjadi dari warga negaranya sendiri. Namun sebuah negara akan membuat profiling berdasarkan kejadian di masa lalu, hal ini tidak selalu terstruktur tapi random," tegas Teuku Faizasyah.

Para pelancong berharap Indonesia dapat seperti negara lain seperti Uni Emirat Arab, pemegang paspor terkuat tahun 2019, juga Taiwan dan Ukraina yang dalam beberapa tahun terakhir gencar berdiplomasi guna mengupayakan pembebasan visa kunjungan bagi warga negaranya.

"Kalau ada kemauan politik, paspor kita bisa menjadi salah satu paspor terkuat di dunia," kata Ivan Ronaldo.