Belasan gempa susulan menghantam Lombok, pasien rumah sakit di Mataram dan Denpasar dievakuasi

Sumber gambar, AFP/Getty Images
Para pasien rumah sakit di RSUD Kota Mataram dan RS Sanglah Denpasar dievakuasi ke luar bangunan rumah sakit menyusul gempa bumi 6,9 pada skala Richter (SR) dan puluhan gempa susulan yang mengguncang Pulau Lombok sejak Minggu (19/8).
Sejauh ini tercatat setidaknya 10 oang tewas oleh berbagai sebab terkait gempa.
Di Kota Mataram, yang terletak lebih dari 100 kilometer dari pusat gempa, seluruh pasien rawat inap RSUD ditangani di lahan parkir rumah sakit tersebut.
Galuh, salah seorang karyawan RSUD Kota Mataram, mengatakan ada sebanyak 153 pasien rawat inap berada di tenda yang dilengkapi sejumlah peralatan medis.


Sumber gambar, AFP/Getty Images
Di antara para pasien, juga terdapat korban gempa.
"Pihak RSUD sudah menyiapkan tiga kontainer untuk ruang operasi, pusat penanganan stroke, dan unit penanganan intensif lengkap dengan genset," ujarnya kepada BBC News Indonesia.

Sumber gambar, AFP/Getty Images
Meski pusat gempa berada di Pulau Lombok, guncangan terasa hingga ke Bali. Untuk menghindari reruntuhan yang dipicu gempa, para pasien di RS Sanglah, Denpasar, Bali, juga diungsikan ke luar bangunan rumah sakit.

Sumber gambar, Antara/FIKRI YUSUF
'Seperti dihantui'
Sejak gempa 8,9 SR melanda pada Minggu (19/8) hingga Senin (20/8) pukul 10.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terdapat lebih dari 100 gempa susulan, dan sembilan di antaranya cukup besar dan guncangannya sangat terasa.
Hal membuat warga yang belum lagi lagi pulih dari trauma gempa terdahulu, dilanda panik dan cemas.

Sumber gambar, Antara/FIKRI YUSUF
Sunariah, seorang warga di Selong, Kabupaten Lombok Timur, mengaku dia dan keluarganya mengungsi di luar rumah karena khawatir tertimpa reruntuhan bangunan.
"Banyak jalan yang ditutup, warga kemudian mendirikan tenda di situ. Pokoknya kalau ada tanah lapang, kami ke situ," ujarnya.
Ia menambahkan, sejauh ini mereka mengusahkan sendiri tenda dan terpal untuk tempat sementara, dan belum mendapat bantuan dari pemerintah. T

Sumber gambar, AFP/Getty Images
Dia mengaku kini kesulitan mencari makanan karena distribusi logistik dari pemerintah dan lembaga-lembaga bantuan terhambat rusaknya prasarana.
"Orang-orang takut berkendara dan berkegiatan. Semua pada cemas, kayak dihantui karena sebentar-sebentar ada gempa, orang-orang teriak," katanya.
Bagaimanapun, menurutnya, banyak juga warga yang memberanikan diri beraktivitas. Apalagi setelah pasokan listrik kembali mengalir pada pukul 10.00 WITA sejak padam pada Minggu (19/8) malam.
Dari rentetan gempa yang melanda Lombok sepanjang bulan Agustus, yang terbesar adalah yang terjadi 5 Agustus lalu, yang menewaskan lebih dari 400 orang, melukai ribuan orang, dan membuat ratusan ribu orang jadi pengungsi karena rumah-rumah mereka hancur.










