Gempa Lombok: Nasib wisata Lombok, hoaks tsunami, dan eksodus ribuan turis

Sumber gambar, Garry Lotulung/NurPhoto via Getty Images
- Penulis, Heyder Affan
- Peranan, BBC News Indonesia
Industri perhotelan di Nusa Tenggara Barat terpukul akibat gempa sehingga dibutuhkan minimal tiga bulan untuk kembali normal seperti sedia kala, kata seorang pejabat Dinas Pariwisata.
Pemerintah dan kalangan industri berjanji mempromosikan Lombok "aman untuk dikunjungi kembali" setelah dihadapkan kenyataan sekitar 70% wisatawan meninggalkan wilayah itu menyusul gempa.
Hampir 20% bangunan hotel di Lombok Utara dilaporkan rusak parah, tetapi sebagian besar hotel lainnya dilaporkan "hanya retak-retak", ungkap asosiasi industri perhotelan.
"Terutama hotel yang ada di pesisir utara pulau Lombok, termasuk hotel di tiga gili (pulau) yang menggunakan konstruksi beton," kata Kepala Dinas Pariwisata provinsi Nusa Tenggara Barat, Muhammad Lalu Faozal kepada BBC News Indonesia, Rabu (08/08).
Ditanya berapa kerugian yang dialami dunia pariwisata NTB akibat dampak gempa, Faozal mengaku semua pihak "sedang menghitung."

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Rully Prasetyo
Saat ini pihaknya ingin memastikan bahwa fasilitas pariwisata yang rusak akibat gempa dapat kembali beroperasi secara normal.
Mereka juga mengecek fasilitas pariwisata, seperti rumah makan, restoran, toko cenderamata, hotel dan fasilitas lainnya, untuk memastikan tingkat kerusakannya, apakah rusak berat, sedang atau ringan.
"Misalnya ada hotel rusak berat, itu recoverynya (pemulihan) mulai dari nol, kemudian ada rusak sedang, dan ada pula yang tidak rusak. Nah, yang tidak rusak, kita pulihkan dulu agar dia bisa operasional," jelas Faozal.
Kapan industri perhotelan di Lombok diperkirakan pulih?
Pihaknya kemudian menargetkan dalam tiga bulan ke depan kondisi pariwisata di NTB dapat kembali berjalan normal.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
"Karena rata-rata untuk rusak sedang itu butuh waktu satu sampai dua bulan untuk mengembalikan fisiknya seperti semula. Nah, kan tidak ada perbaikan fisik itu satu atau dua minggu."
"Dibutuhkan setidaknya sebulan, karena konstruksi kan. Ya, hitung-hitungan dalam satu bulan, sudah ada yang mulai operasional," papar Faozal.
Berapa jumlah wisatawan yang eksodus?
Dihubungi secara terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, Lalu Abdul Hadi Faisal mengatakan jumlah wisatawan yang meninggalkan Lombok pasca gempa hampir 70%.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
"Sisanya 30% masih berada di sekitar Lombok," kata Abdul Hadi saat dihubungi BBC News Indonesia melalui sambungan telepon, Rabu (08/08).
Dia mengklaim sebagian besar turis yang meninggalkan Lombok merupakan wisatawan yang tinggal di kawasan Lombok Utara saat gempa mengguncang.
"Sekitar Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan dan kemudian di sekitar Senggigi, memilih keluar dari Lombok. Tapi wistawan di Lombok Tengah dan Mataram masih banyak menetap," kata Abdul Hadi.
Apa upaya agar wisatawan datang kembali ke Lombok?
Tentang kekhawatiran bahwa dampak gempa ini akan membuat wisatawan enggan datang ke Lombok, pihaknya berjanji untuk terus mempromosikan bahwa wisata Lombok tidak berbahaya pasca gempa.

Sumber gambar, Garry Lotulung/NurPhoto via Getty Images
"Kami akan menyampaikan bahwa kami siap untuk menerima mereka datang kembali," ujarnya.
Pihaknya kemudian mengharapkan kepada pemerintah untuk segera memperbaiki infrastruktur di kawasan lokasi wisata. "Termasuk memperbaiki lampu di jalan, karena itu jadi potret kesiapan kita menyambut tamu."
Pengelola hotel yakin pulih secepatnya
Trihartoto, general manajer Hotel Aruna Senggigi, Lombok, mengatakan struktur bangunan hotel yang dikelolanya masih tetap berdiri kokoh saat gempa mengguncang.

Sumber gambar, BBC NEWS Indonesia
Saat itu, Minggu (05/08) malam, ada 66 kamar dengan 144 tamu domestik dan manca negara. "Dan saat gempa, tidak ada tamu yang cedera atau meninggal," kata Trihartoto.
Saat kejadian dan sesudahnya, akunya, tidak semua tamu serta-merta meninggalkan hotel. "Karena tidak ada kerusakan berarti pada hotel kami."
Dan sampai Rabu (08/08) siang, masih ada 20 kamar dengan 36 orang. "Jadi kami masih menerima tamu yang mau menginap di hotel kami."
'Wisatawan harus diyakinkan'
Ditanya tentang kekhawatiran dampak gempa di Lombok dapat memukul industri pariwisata di wilayah itu, Trihartoto mengatakan, dunia perhotelan memiliki semangat untuk segera pulih dari kondisi seperti sekarang.
"Kami dari pelaku industri tetap akan memberikan energi positif bahwa area Senggigi, khususnya Lombok, ada beberapa area yang masih bisa dikunjungi oleh tamu," tandasnya.

Sumber gambar, Anton Raharjo/Anadolu Agency/Getty Images
Dia juga menyatakan keyakinannya bahwa industri pariwisata di Lombok akan segera pulih dengan dilakukannya upaya pemulihan. "Saya yakin akan ada arah recovery dari semua sisi."
Ditanya apakah gempa berimbas kepada intensitas kedatangan tamu ke hotelnya dalam waktu dekat, Toto mengatakan secara psikologis para wisatawan harus diyakinkan bahwa "di beberapa Lombok masih bisa dikunjungi".
"Kita harus tetap semangat bahwa hal ini pasti akan segera berlalu sehingga pemulihan menyeluruh bisa kita lakukan bersama-sama."
Industri pariwisata NTB 'cukup tangguh'
Dihubungi secara terpisah, Ketua PHRI NTB, Lalu Abdul Hadi Faisal mengatakan masyarakat pariwisata di NTB "cukup tangguh" menghadapi berbagai musibah dalam pengalaman selama ini.
"Sebelumnya ada erupsi Gunung Agung, dan sekarang ada gempa," kata Abdul Hadi.
Dia kemudian mengatakan gempa di wilayah NTB "jarang terjadi" sehingga para turis tidak terlalu mengkhawatirkannya.

Sumber gambar, Anton Raharjo/Anadolu Agency/Getty Images
"Gempa terakhir terjadi pada 1973, artinya itu sudah terjadi 45 tahun lalu dan sekarang ini ada lagi," katanya.
Dia juga menjelaskan bahwa gempa tidak berdampak langsung pada unggulan destinasi lainnya, terutama di Mataram, Lombok selatan dan wilayah Senggigi.
"Yang menjadi persoalan adalah murni hoaks tsunami, sehingga bukan saja wisatawan yang terdampak, tetapi juga masyarakat yang harus mengungsi," katanya. "Isu itu yang membuat orang (wistawan) eksodus."
Seperti diketahui, sebagian besar wisatawan manca negara kemudian memilih tinggal di bandara demi mendapatkan penerbangan secepatnya keluar dari Lombok.










