Pemindahan napi terorisme ke Nusakambangan dianggap berpotensi masalah

    • Penulis, Ayomi Amindoni
    • Peranan, BBC Indonesia

Perlawanan para napi teroris di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, akhirnya dipatahkan, Kamis (10/05) pagi, setelah 36 jam proses penyanderaan.

Drama yang mencekam itu menewaskan lima aparat kepolisian dan satu tahanan teroris sementara seorang aparat polisi lainnya yang sempat disandera dibebaskan dalam keadaan cedera.

Setelah insiden usai, tampak sembilan bus ke luar dengan kecepatan tinggi dari Mako Brimob, membawa sekitar 145 narapidana terorisme -yang terlibat kerusuhan- ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Namun, pemindahan ke lapas yang didominasi oleh napi teroris kasus ISIS ini bukan tidak mungkin justru menimbulkan persoalan baru.

Ahli kontra terorisme dari lembaga Certified Counter Terrorism Practioner, Rakyan Adibrata memandang pemindahan ini memunculkan tantangan baru karena di Lapas Nusakambangan terdapat napi terorisme kasus ISIS.

Sementara napi terorisme yang ditahan di Mako Brimob kebanyakan merupakan jaringan Jamaah Islamiyah.

"Harus dipahami juga ada dinamika menarik dari narapidana kasus ISIS dan narapidana kasus terorisme dalam kasus Jamaah islamiyah. Karena dua kelompok itu tidak bersahabat di dalam penjara," ujar Rakyan kepada BBC Indonesia.

"Bahkan, beberapa kasus serangan fisik pun terjadi antara napi kasus ISIS dan napi kasus Jamaah Islamiyah. Artinya, tantangan yang harus dihadapi adalah bagaimana memfasilitasi siapa yang termasuk dalam kasus ISIS dan kasus Jamaah Islamiyah, supaya tidak menimbulkan gejolak di dalam lapas," imbuhnya.

Namun, Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM, Sri Puguh Budi Utami memastikan bahwa tahanan teroris akan ditempatkan di dua lapas untuk narapidana risiko tinggi di Nusakambangan, dengan pengamanan super ketat supaya gesekan tak terulang.

"Dimungkinkan satu orang satu sel, kemudian nanti kita lihat setelah dilakukan assessment, kita lihat perubahan kelakuan mereka, mudah-mudahan mereka sadar baru kita tempatkan di tempat yang lebih medium tingkat keamanannya, jadi tidak di tempat high-risk."

Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengatakan 'negara dan seluruh rakyat tidak pernah takut' pada terorisme, seiring dengan berakhirnya kerusuhan di Mako Brimob, pada Kamis (10/05).

Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan HAM, Wiranto, menyatakan perlawanan para napi teroris telah berakhir pada Kamis (10/05) pagi, setelah drama 36 jam penyanderaan berlangsung.

Dia menampik adanya negosiasi antara pemerintah dan napi teroris dalam penyanderaan karena seluruh napi teroris, menurutnya, telah menyerah tanpa syarat setelah didahului ultimatum bahwa aparat keamanan akan melakukan penyerbuan.

Sebelum penyerbuan yang dijadwalkan dilakukan pada saat fajar menyingsing, dilaporkan sebanyak 145 dari 155 ke luar satu per satu untuk menyerah tanpa syarat.

"Masih ada 10 yang menyatakan tidak menyerah, maka aparat melakukan serbuan di lokasi mereka. Tadi kita saksikan, bunyi bom, bom asap, gas air mata. Ternyata dalam serbuan tersebut, sisa 10 teroris menyerah."

"Maka lengkap 155 tahanan teroris telah menyerah kepada aparat kepolisian Indonesia," paparnya di Mako Brimbob usai penanggualangan insiden tersebut," tambah Wiranto.

Wakapolri Komjen Syafruddin mengatakan 10 narapidana terorisme yang terlibat kerusuhan saat ini masih ditahan di Mako Brimob untuk dimintai keterangan terkait insiden tersebut.

Sepuluh narapidana ini diduga sisa narapidana terorisme yang sempat bertahan meski polisi telah mengeluarkan ultimatum.

Insiden terencana?

Seperti diberitakan, kerusuhan di kompleks Mako Brimob yang terjadi mulai Selasa (08/05) malam dipicu oleh amukan seorang narapidana soal titipan makanan.

Napi itu lalu melakukan provokasi sehingga para napi teroris lainnya ikut melakukan perlawanan dan menguasai tiga blok sel serta 30 pucuk senjata.

Meski berhasil menguasai rutan semalam, ahli kontra terorisme Rakyan Adibrata memandang aksi yang dilakukan ratusan tahanan kasus terorisme itu tak direncanakan.

"Mereka melihat ada opportunity (kesempatan), dan mereka mengambil kesempatan itu."

Bahwa kemudian para napi bisa menguasai rutan, menurut Rakyan, adalah hal yang biasa terjadi di lapas dengan jumlah napi yang melebihi kapasitas.

"Ini kan terjadi dimana pun, petugas jaga atau petugas lapas pasti jumlahnya lebih sedikit dari narapidana dan itu yang terjadi di Mako Brimob, ketika malam itu petugas jaganya lebih sedikit dari jumlah napi," tuturnya.

Kelebihan kapasitas di rutan itu karena kebanyakan yang ditahan masih dalam proses pengadilan, sehingga -tambah Rakyan- 'dititipkan' di Mako Brimob sepanjang melalui proses pengadilan hingga adanya keputusan berkekuatan hukum tetap untuk dipindahkan ke LP Nusakambangan.

"Jadi tidak ada pilihan lain, selain ditaruh di sana. Ini adalah pelajaran berharga yang harus dipetik bersama-sama, bagaimana SOP untuk menjamin bahwa hal sama tidak terjadi di masa depan," ujarnya.

Sementara itu Wakapolri Komjen Syafruddin memastikan bahwa akan ada evaluasi pengamanan di rutan tersebut pascakerusuhan di Mako Brimob namun akan membicarakannya terlebih dulu dengan Kemenkum HAM sebagai penanggungjawab rutan.

"Karena berada di dalam Kompleks Brimob, pengamanannya tentu dari pihak Brimob sebagai bantuan kepada Kemenkum HAM. Ini sudah dikoordinasikan secara seksama mulai dari beberapa bulan lalu. Karena memang ini kondisinya sudah sangat overload seperti rumah tahanan yang lain," kata dia.

Dia menambahkan seluruh tahanan teroris tersebut akan dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan, Jawa Tengah.

Namun, apakah dengan mengisolir para napi teroris ini akan menyelesaikan masalah?

Menurut Rakyan, dalam hal pengamanan, sudah pasti Lapas Nusakambangan memiliki tingkat pengamaman yang lebih ketat sehingga potensi kerusuhan seperti di Mako Brimob tidak ada.

"Misalnya, jika terjadi sebuah riot, tidak mungkin napi bisa memperoleh senjata dengan tingkat seberbahaya di kasus Mako Brimob, dengan membobol gudang barang bukti untuk mendapatkan senjata api," ungkapnya.

Waspadai konflik antar napi

Namun potensi terbesar yang mungkin terjadi pascapemindahan tahanan teroris ke Nusakambangan ialah konflik yang mungkin terjadi adalah penyanderaan sipir atau petugas lapas dan konflik antar napi.

Dituturkan oleh Rakyan bahwa napi kasus terorisme dari jaringan ISIS biasanya 'lebih bermasalah' ketimbang napi yang terkait dengan Jamaah Islamiyah.

"Dalam dua tahun terakhir, sudah terlalu banyak kasus narapidana ISIS berbuat onar di dalam penjara, menyerang sipir dan menyerang sesama napi. Itu cukup sering terjadi." ungkapnya.

Dan kecenderungannya napi kasus ISIS menolak program deradikalisasi -yang memang tidak bisa dipaksakan.

"Sedangkan kalau orang-orang dari kasus Jamaah Islamiyah masih mau ikut program deradikalisasi. Meskipun dominannya dikarenakan untuk mengejar remisi."

"Kita tahu ada karakter yang berbeda antara kasus ISIS dan kasus Jamaah Islamiyah, jadi penangannya harus secara khusus dilakukan," tegas Rakyan.

Adapun napi terorisme kini tersebar di beberapa Lapas di Nusakambangan, dan sebagian besar ditahan di Pasir Putih serta Kembang Kuning.