BBM disubsidi atau perbaikan layanan kesehatan?

Sumber gambar, Reuters
Polemik dan perdebatan tentang pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM) kembali ramai di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
Topik ini dilaporkan menjadi salah satu agenda pembahasan antara Presiden Yudhoyono, yang akan segera mengakhiri masa jabatan dan presiden terpilih, Joko Widodo, beberapa hari lalu.
Kalangan yang mendukung pencabutan beralasan subsidi BBM sudah terlalu besar dan makin membebani anggaran negara.
Untuk tahun 2013 nilai subsidi BBM mencapai sekitar Rp224 triliun.
Rata-rata pemerintah menghabiskan US$20 miliar per tahun untuk subsidi BBM ini.
Angka tersebut mestinya bisa dialokasikan untuk sektor lain, seperti perbaikan layanan kesehatan, pendidikan, atau untuk proyek-proyek infrastruktur yang sangat diperlukan.
Atau untuk pembangunan sektor pertanian dan penyediaan rumah dengan harga terjangkau.
Kalangan yang tidak setuju, sementara itu mengatakan bahwa pencabutan subsidi akan menaikkan harga kebutuhan, menambah kemiskinan, menambah pengangguran, dan akan membuat unit usaha kecil terpukul.
Pendapat Anda
Setuju dengan pencabutan subsidi BBM. Lebih baik harga BBM disesuaikan dengan harga minyak dunia. Selama ini subsidi BBM menjadi kepentingan politik dan kekuasaan. Tapi yang juga penting adalah rakyat miskin harus disubsidi, diberi jaminan sosial, pendidikan gratis, jaminan kesehatan, perumahan murah, harga pangan murah, layanan publik yang terjamin, air bersih terjamin, angkutan umum bersih dan nyaman. Juga pajak diringankan. Intinya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia terjamin seperti yang diamanatkan UUD. (Allys, Jakarta)
Saya setuju subsidi BBM dicabut asal uangnya di alokasikan ke sektor kesehatan dan pendidikan, agar tidak ada lagi orang sakit yang ditolak bila masuk rumah sakit, dan tidak ada lagi orang yang tidak sekolah karena mahal biayanya. (Yusuf, Bekasi)
Harga BBM boleh naik tapi tetap harus terjangkau oleh masyarakat lemah. Pengurangan atau pencabutan subsidi BBM memungkinkan penambahan pos anggaran untuk pendidikan dan kesehatan. Juga akan ada subsidi buat petani, nelayan, dan peternak. Dengan demikian akan ada peningkatan kesejahteraan, harga barang tetap stabil, dan ibu-ibu tetap bosa memasak buat keluarganya. (Agung Ayu Trie, Denpasar)
BBM bersubsidi harus dengan sasaran yang tepat. Layanan pendidikan dan kesehatan untuk rakyat menengah ke bawah harus menjadi prioritas utama pemerintah. Buat cara agar rakyat punya harga diri, tapi tidak berniat tinggi hati. Jiwa bangsa ini, yaitu gotong royong dan kesetiakawanan, harus dijaga, dipelihara, dan dilaksanakan. Jangan hanya sekedar wacana semu. (Esti Saptarini via Facebook)
Kalau harga BBM naik, saya tidak setuju karena semuanya pasti akan naik, terutama angkutan umum yang saya pakai setiap hari untuk pergi ke sekolah. Dipastikan itu akan menambah biaya pulang-pergi ke sekolah, sementara gaji ayah saya pas-pasan. Gaji ayah hanya cukup untuk makan dan biaya sekolah saja. Meski pasa-pasan saya tetap bersyukur. Tolong dipertimbangankan lagi sebelum menaikkan harga BBM. (Rossiatul Fitri via Facebook)
Saya sangat setuju dengan pencabutan subsidi BBM, tapi dengan syarat: 1. Bangun jalan kereta api atau transportasi massal yang bisa menjangkau setiap pusat kegiatan masyarakat. 2. Lalu lintas barang dari dan ke kota harus pakai transpotasi kereta api supaya tidak ada truk besar, sehingga memperpanjang umur jalan dan pasti mengurangi konsumsi BBM. 3. Semua pembangkit listrik yang menggunakan BBM harus diganti dengan pembangkit listrik ramah lingkungan. (Nuzra Fadli Akbar via Facebook)









