Dampak kenaikan listrik bagi Anda

Kabel listrik
Keterangan gambar, Dana subsidi akan dialihkan untuk investasi melayani pelanggan-pelanggan baru.

Pemerintah telah mengumumkan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) rata-rata 15% yang mulai diberlakukan per 1 Januari 2013 dan kenaikan akan dilakukan secara bertahap per tiga bulan.

Dengan demikian harga listrik tahun 2013 akan naik empat kali. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik mengatakan kenaikan rata-rata TDL per tiga bulan sebesar 3,75%.

Dia mengatakan kenaikan diberlakukan secara bertahap untuk mengurangi beban masyarakat dan industri.

Namun strata kenaikan bagi setiap kelompok pelanggan berbeda-beda bahkan ada yang tidak naik sama sekali.

Kelompok pelanggan yang diperkecualikan dari kenaikan adalah pelanggan rumah tangga dengan daya 450 watt dan 900 watt.

Pelanggan rumah tangga dengan daya 6.600 watt, pelanggan bisnis dengan daya 6.600 watt ke atas, dan instansi pemerintah dengan daya 6.600 watt ke atas diharuskan membayar dengan harga keekonomian atau harga tanpa subsidi pemerintah.

Kalangan industri menyatakan kenaikan tarif listrik akan meningkatkan ongkos produksi dan selanjutnya akan mendorong kenaikan harga produk di pasar.

Pemerintah berharap kenaikan tarif tenaga listrik bisa menghemat subsidi hingga Rp14 triliun dan anggaran subsidi akan dialihkan untuk investasi.

Komentar

<italic>Bagaimana pendapat Anda tentang kenaikan tarif listrik?</italic>

<italic>Apakah ada jalan lain mengurangi subsidi listrik tanpa menaikkan harga?</italic>

<italic>Bagaimana dampak kenaikan listrik ini bagi perekonomian Anda berdasarkan pengalaman ketika diberlakukan kenaikan TDL sebelumnya?</italic>

<italic>Meskipun pelanggan rumah tangga kelas bawah tidak dikenai kenaikan tarif, dampak apa saja yang mungkin mungkin terjadi? </italic>

Pendapat Anda kami nantikan untuk Forum BBC Indonesia yang disiarkan di radio setiap Kamis pukul 18:00 WIB dan juga dapat disimak melalui internet BBCIndonesia.com.

Tulis komentar Anda di kolom yang disediakan di bawah ini. Jangan lupa cantumkan nama dan asal kota Anda.

Jangan lupa tulis nomor telepon bila Anda bersedia dihubungi BBC apabila komentar Anda terpilih.

Ragam komentar

"Tidak rasional. Itulah mungkin kata-kata yang ada di kepala masyarakat Kalsel khususnya dan Pulau Kalimantan pada umumnya. Di tengah byar pet yang kebangetan, eh... malah dinaikin tarifnya. Bayangkan Kalsel salah satu (di Pulau Kalimantan) lumbungnya energi. Namun bya rpet dalam satu hari 2-5 jam dengan alasan macam-macam dan biasanya terjadi beberapa kali dalam satu minggu. Yang jadi pertanyaan adalah dikemanakan energi yang ada di pulau ini? Apakah Kalimantan hanya sebatas sapi perah saja?" Zainul, Banjarmasin.

"Mengapa rakyat yang selalu jadi sasaran dari birahi penguasa? TDL naik jelas menyesengsarakan rakyat jelata ... Coba Anda duduk dan merenung tentang kehidupan kami di pedesaan yang pendapatan rata-rata maksimal Rp 450.000/bulan, jangan lah terus menerus Anda menginjak kami dalam lobang kecil dan berlumpur ini. Chiar, Bireuen.

"Listrik di Indonesia bisa tidak naik kalau pembangkit sudah memakai batu bara, gas dan air. Dan itu berlimpah di Indonesia. Saya sekarang di Qatar. Di Qatar listrik Rp200/kwh, sementara di rumah saya di Indonesia Rp900/kwh." Idrus, Doha, Qatar.

"Meski kenaikan tarif hanya diberlakukan pada pelanggan tertentu, tetap itu akan berdampak langsung bagi masyarakat. Sejumlah industri yang menggunakan listrik sebagai tenaga penggerak tentu ini akan berpengaruh besar pada kualitas dan kuantitas barang yang dihasilkan. Tarif dasar listrik (TDL) naik, secara tak langsung harga barang pun akan ikut naik. Rakyat kecil pun akan menjadi sasaran dari kebijakan yang asal-asalan. Jika memang biaya produksi listrik mahal, itu kesalahan pemerintah yang telat memanfaat teknologi nuklir. Warga ketakutan akan bahaya nuklir itu pun akibat kurang sosialisasi. Pemerintah harusnya berguru kepada Iran dan Jepang soal pemanfaatan nuklir sebagai penghasil tenaga listrik." Sugiharto Purnama, Bandung.

"Subsidi bukan sama rasa, sama rata. Yang mempunyai kemampuan ekonomi lebih seharusnya tidak menikmati subsidi. Pelanggan rumah tangga dengan daya 450 watt, dan 900 watt bahkan lebih hemat pemakaian listriknya. Hasil penghematan subsidi listrik dimanfaatkan pada bidang lain seperti meningkatkan sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, pelatihan kewirausahaan atau pembangkit listrik didaerah terpencil." Wahjoe, Nganjuk.

"Harapan pemerintah memang penting (apalagi kalau langsung terealisasi), tapi lebih penting lagi harapan rakyat (sejahtera, sentosa dan lain-lain walaupun masih jauh)." Erwandi Lubis, pematangsiantar, Sumatera Utara.

"Sudah seharusnya subsidi itu jadi tanggung jawab pemerintah untuk membuat rakyat sejahtera, tujuan hidup bernegara adalah hidup sejahtera, dengan tarif listrik yang naik bisa menjamin kesejahteraan rakyat? Menurut saya ini semua hanya demi kepentingan pemerintah semata, bukan atas kepentingan rakyat. Sekali lagi saya menegaskan sangat tidak setuju dengan kebijakan ini." Permana, Tangerang.

"Kenaikan tarif dasar listrik tentu akan berpengaruh terhadap kenaikan harga-harga. Hal ini yang akan memberatkan masyarakat semua kalangan, terutama sekali rakyat kecil. Harga sembilan bahan pokok akan naik dan tentu diikuti bahan-bahan sekunder. Apalagi nantinya (dunia pendidikan) menerapkan kurikulum 2013 yang berbasis IT, yang memerlukan listrik tidak sedikit dan juga kalau tidak diimbangi dengan layanan prima maka daya listrik akan drop/ mati, ini akan mengganggu proses KBM." Lartri Utomo, Yogyakarta.

"Ironis, rakyat makin susah, TDL tak perlu naik jika pemerintah, DPR dan lembaga lain lebih hemat anggaran, triliunan rupiah diboroskan jalan-jalan ke luar negeri yang tidak urgent untuk kepentingan rakyat. PLN lakukan efisiensi, pakai panas bumi/LNG/panas matahari untuk energi pembangkit listrik PLN, jangan "instan" tergantung BBM. Kado tahun baru SBY yang 'menyengsarakan rakyat". AG Paulus, Purwokerto.