Kekhawatiran atas pengungsi 'bukan rasis'

Sumber gambar, Reuters
Pemimpin Gereja Anglikan Inggris, Uskup Agung Canterbury, mengatakan tidak tepat jika menuduh orang-orang yang khawatir atas pendatang sebagai rasis.
Dalam wawancara dengan sebuah majalah Inggris, Justin Welby mengatakan orang berhak untuk khawatir atas dampak besar dari kaum pendatang terhadap komunitas mereka.
Dia mengatakan arus masuk pengungsi yang besar menjadi tantangan yang hanya bisa diatasi di tingkat Eropa.
- <link type="page"><caption> Inggris akan tampung lebih banyak pengungsi anak-anak</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/01/160128_dunia_inggris_migran_perlindungan" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Rombongan pertama pengungsi Suriah tiba di Inggris</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/09/150923_dunia_migran_suriah_inggris" platform="highweb"/></link>
Uskup Agung Justin Welby menambahkan Inggris seharusnya ikut ambil bagian dalam menerima pengungsi.

Sumber gambar, Thinkstock
Menurutnya, kesepakatan Inggris untuk menerima 20.000 pengungsi asal Suriah tampak agak 'tipis' dibanding yang diterima di negara-negara lain.
Tahun lalu Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mendapat kecaman setelah mengatakan bahwa menampung lebih banyak pendatang bukan jawaban atas krisis pengungsi di Eropa, yang terbesar sejak Perang Dunia II.
Tak lama setelah komentar PM Cameron itu, awal September 2015, sebuah petisi internet yang menyerukan Inggris menerima lebih banyak pengungsi sudah ditandatangani lebih dari 100.000 orang sehingga harus dibahas di parlemen.
Dan Inggris memutuskan untuk menambah jumlah pengungsi yang akan ditampung, walau menurut Uskup Agung Justin Welby, masih 'tipis'.
Sepanjang tahun 2015, lebih dari satu juta migran -antara lain dari Suriah, Irak, dan Afghanistan- tiba di Eropa.









