Akademisi Turki ditangkap karena mengkritik pemerintah

Sumber gambar, Reuters
Turki menangkap belasan akademisi yang menandatangani petisi yang mengkritik operasi militer atas militan Kurdi.
Petisi berjudul 'Kami Bukan Bagian dari Kejahatan Ini' ditandatangani lebih dari 1.000 akademisi dan intelektual Turki bersama puluhan akademisi asing untuk mendesak pemerintah menghentikan yang mereka sebut sebagai 'pembunuhan massal'.
Mereka juga menyarankan agar perundingan damai dengan perwakilan Kurdi dilanjutkan kembali.
Namun Presiden Recep Tayyip Erdogan menuduh para penandatanganan petisi sebagi pengkhianat sambil menegaskan Turki tidak memiliki masalah 'Kurdi' namun 'masalah teroris'.

Sumber gambar, Reuters
Hari Kamis (14/01), jaksa penuntut melancarkan penyelidikan atas semua penandatangan petisi.
Para wartawan melaporkan bahwa penangkapan ini mencerminkan semakin memburuknya kebebasan mengungkapkan pendapat di Turki di bawah Presiden Erdogan.
Kecaman Presiden Erdogan atas para akademisi kembali diungkapkannya Jumat 15 Januari saat mengunjungi lokasi <link type="page"><caption> serangan bom di dekat Masjid Biru, Istanbul, yang menewaskan sedikitnya 10 orang. </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/01/160112_dunia_istanbul_bom_isis" platform="highweb"/></link>
"Mereka adalah orang-orang gelap. Mereka adalah para penjahat karena mereka yang berpihak kepada penjahat adalah penjahat itu sendiri," tuturnya.
Penangkapan para akademisi ini dikecam pemerintah Amerika Serikat yang menyatakan semua warga negara seharusnya bebas menyampaikan pandangan yang kontroversial maupun tidak populer.
Kelompok Pemberontak Kurdi, PKK -yang melancarkan perjuangan untuk memisahkan diri- dianggap sebagai organisasi teroris oleh Turki









