Paus Fransiskus serukan perdamaian di Afrika Tengah

Paus Fransiskus

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Paus mengatakan, kunjungannya ke Afrika membawa pesan perdamaian dan harapan.

Paus Fransiskus meminta faksi yang berseteru di Republik Afrika Tengah meletakkan senjata dan mempersenjatai diri "dengan keadilan, cinta, pengampunan, dan perdamaian".

Ia berbicara pada Misa di ibu kota Afrika Tengah, Bangui, yang merupakan tujuan terakhir dalam rangkaian kunjungannya ke Afrika.

Afrika Tengah dilanda konflik antara kelompok pemberontak Muslim dan militan Kristen.

Paus mengatakan, dia berharap pemilu yang diselenggarakan pada bulan depan di Afrika Tengah membuka "lembaran baru" bagi negara itu.

Presiden sementara Catherine Samba-Panza meminta "pengampunan" kepada Paus karena kekerasan atas nama agama yang terjadi di negerinya.

Ribaun orang berkerumun di jalan untuk menyambut Paus -dan mereka bersorak dan bernyanyi ketika Paus tiba di penampungan pengungsi.

Dalam pidato di istana presiden, Paus menyerukan persatuan dan mengajak hadirin menghindari "godaan rasa takut kepada (kelompok) lain, (kelompok) asing, yang bukan bagian dari kelompok etnik kita, pandangan politik kita, dan agama kita".

Kunjungi permukiman Muslim

Paus mengatakan sebelum memulai kunjungannya di Afrika, ia bertekad membawa pesan perdamaian dan harapan.

Selain Afrika Tengah, Paus juga mengunjungi Uganda dan Kenya.

Pada Senin (30/11), Paus berencana mengunjungi permukiman Muslim di Bangui, yang dinamakan PK5.

Anak-anak Bangui menyambut Paus

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Orang berkerumun di jalan untuk menyambut Paus.

Perang telah berkecamuk di Afrika Tengah selama puluhan tahun, tapi baru dua tahun lalu melibatkan agama.

Presiden Francois Bozize digulingkan dalam kudeta pada Maret 2013 dan kelompok pemberontak Seleka, yang sebagian besar Muslim, menduduki Bangui dan menguasai negara untuk sementara.

Mereka menyasar gereja dan komunitas Kristen, yang memicu pembentukan militan anti-Balaka -berarti anti-kekerasan- dan berujung pada tindakan saling melakukan kekerasan dan terus berlanjut.

Kota dan desa terpecah, dengan ratusan dan ribuan orang terpaksa pindah ke penampungan berdasarkan agama.