Ancaman pembunuhan mahasiswa kulit hitam menyebar di media sosial

Mahasiswa mendirikan tenda dan menginap di kampus sebagai wujud protes.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Mahasiswa mendirikan tenda dan menginap di kampus sebagai wujud protes.

Polisi di Universitas Missouri, Amerika Serikat, menahan Hunter Park (19) terkait ancaman pembunuhan mahasiswa kulit hitam, yang menyebar di internet.

Ancaman pembunuhan, paling banyak datang dari pengguna aplikasi berkirim-pesan anonim, Yik-Yak.

“Besok saya akan berdiri dengan gagah dan menembak seluruh orang kulit hitam yang saya lihat,” tulis salah satu pengguna Yik-Yak.

Di pesan lain tertulis, “Kami tunggu kalian di parkiran. Kami bunuh kalian semua.”

Polisi menyebut Hunter Park (19), menyebar ancaman pembunuhan lewat aplikasi Yik-Yak.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Polisi menyebut Hunter Park (19), menyebar ancaman pembunuhan lewat aplikasi Yik-Yak.

Berdasarkan penyelidikan polisi, Hunter bukanlah mahasiswa kampus bersangkutan, melainkan mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Missouri.

Dia tinggal di Rolla, Missouri, sekitar 161km arah selatan kampus Universitas Missouri, yang berlokasi di Kota Columbia.

Universitas Missouri telah meningkatkan keamanannya, tetapi menegaskan bahwa tidak ada ancaman ‘nyata’.

Kampus ‘cuek’

Hunter ditahan beberapa hari setelah Presiden Universitas Missouri, Tim Wolfe, dipaksa untuk mengundurkan diri, karena dituduh tidak mampu menangangi masalah rasisme di kampus.

Salah seorang mahasiswa kulit hitam, mencuit percakapan e-mail dengan dosennya. Dia menyampaikan ketakutannya datang ke kelas, karena ancaman yang menyebar lewat media sosial.

Protes mahasiswa kulit hitam di Universitas Missouri, terkait ancaman pembunuhan.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Protes mahasiswa kulit hitam di Universitas Missouri, terkait ancaman pembunuhan.

Namun, dosennya membalas, “Satu-satunya cara mengalahkan bully adalah dengan melawan mereka. Jika kita batalkan ujian, mereka menang. Jika kita tetap lanjutkan pelajaran, mereka kalah.”

Kondisi ini membuat mahasiswa melakukan protes dengan menduduki lapangan kampus. Salah satu mahasiswa magister bahkan melakukan aksi mogok makan, meminta agar Tim Wolfe mengundurkan diri.

Selain itu, mahasiswa kulit hitam juga berang ketika mereka menemukan swastika yang digambar dengan tinja di toilet kampus, disusul hinaan bernada rasis yang dilontarkan orang-orang di kampus.

Tim Wolfe akhirnya mengundurkan diri setelah tim sepak-bola Amerika kampus, bergabung mendukung aksi, dan mengancam tidak mau bertanding sampai universitas mengambil tindakan mengatasi masalah rasial di kampus yang mayoritas mahasiswanya berkulit putih itu.