Keterlibatan Rusia di Suriah dianggap 'peluang'

Sumber gambar, AP
- Penulis, Rohmatin Bonasir
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Meskipun di bidang ekonomi tertinggal dibandingkan Amerika Serikat, Rusia ingin menunjukkan bahwa negara itu patut diperhitungkan di percaturan politik dan militer, kata seorang pengamat.
Oleh sebab itu, menurut Svetlana Banit, pengajar di Universitas St. Petersburg, Rusia, Presiden Vladimir Putin tidak segan-segan mengirimkan pesawat tempur ke Suriah untuk membantu pasukan pemerintah memerangi kelompok-kelompok pemberontak, termasuk kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.
Dan, langkah itu pun mendapat dukungan dari rakyat Rusia pada umumnya.
"Karena dianggap sebagai jawaban Rusia terhadap Amerika Serikat (bahwa) bukan Amerika Serikat sendiri yang hebat. Rusia juga hebat," jelas Svetlana Banit, pengajar di Universitas St. Petersburg kepada BBC Indonesia.

Sumber gambar, AP
Ditambahkannya, Rusia sebagai penerus Uni Soviet menganggap dirinya sebagai saingan Amerika Serikat di semua bidang.
"Ternyata dalam bidang ekonomi Rusia kalah. Dalam bidang politik belum kalah, masih ada kesempatan untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Rusia masih negara adikuasa.
"Oleh karenanya warga Rusia berpendapat bahwa itulah kesempatan konflik di Suriah untuk memperlihatkan Rusia masih kuat."
Pengungsi Suriah di Rusia
Serangan udara Rusia di Suriah yang dimulai pada 30 September lalu juga dilandasi oleh hubungan erat kedua negara selama ini.
"Suriah sudah berpuluhan tahun dianggap sebagai kawan Rusia. Hubungan antara Rusia dan Suriah sangat erat. Apalagi orang sini juga menyambut pengungsi-pengungsi dari Suriah," kata Svetlana Banit.

Sumber gambar, Reuters
Para pengungsi antara lain ditampung di kota St. Petersburg, Moskow dan kota-kota lain.
Bagaimanapun keterlibatan militer Rusia di Suriah membuat Amerika Serikat tidak senang. Amerika dan sekutu-sekutunya menginginkan Presiden Bashar al-Assad digulingkan, sedangkan Rusia justru berpendirian sebaliknya.
Sejumlah pejabat Amerika mengatakan pesawatnya, yang melancarkan serangan untuk mendukung kelompok-kelompok antipemerintah Suriah, dan pesawat Rusia "memasuki ruang pertempuran yang sama".
Ketika menerima <link type="page"><caption> kunjungan Presiden Bashar al-Assad di Moskow</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/10/151021_dunia_assad_moskow_putin" platform="highweb"/></link> pada Selasa malam (20/10), Presiden Putin menyatakan kontribusi Rusia tidak hanya sebatas militer tetapi juga siap mencari solusi politik dalam konflik di Suriah.









